Herawati Diah – sosok yang peduli pada wanita dan bangsa

kemarin, aku menghadiri acara pemberian anugerah Herawati Diah untuk penulisan tentang lingkungan dan budaya…
ikut lombanya, tapi gak juara! hu…hu…hu…
tapi gak papa. di acara itu, aku dapat “hadiah” lainnya.

sosok Herawati Diah, belum pernah saya kenal sebelumnya. Awalnya saya mengira, ia adalah salah satu dari ibu-ibu berambut sasak dan dikonde, yang sudah ada di ruangan itu .

sampai datang seorang ibu, yang sudah sangat sepuh, berjalan terbungkuk-bungkuk, dibantu beberapa orang yang menuntunya.dengan baju ungu yang terlihat mencolok. Melihat banyaknya orang yang bangkit berdiri dan menyalaminya, pasti ia adalah seseorang… begitu pikirku. Tapi tetap masih belum mengira, kalau dialah sang Herawati Diah, yang namanya diambil sebagai simbol anugerah dalam lomba penulisan ini.

Herawati Diah, seorang jurnalis senior, yang di masa tuanya, 82 tahun ketika itu, mendirikan sebuah yayasan pemberdayaan suara perempuan.
82 tahun! usia ketika kebanyakan orang mungkin berpikir untuk bersantai saja di rumah bersama cucu, atau menyepi di dusun nan sepi, menikmati masa tua bersama cicit burung di pagi hari, kecipak air ketika ikan berebut makan, dan gesekan lembut batang bambu yang menemani malam.

tapi dia, berbeda.
di usia itu, ia masih siap memikirkan pendidikan politik bagi wanita, agar lebih “aware” terhadap keterlibatan kaumnya dalam perjalanan politik bangsa ini..

Kecintaannya terhadap negri ini, saya tangkap dalam sebuah kalimat pada kata sambutannya (yang juga membuat saya sangat terpesona. bayangkan saja, seorang wanita berusia 92 tahun!! meski ia memilih untuk duduk di kursinya, tapi kata sambutan itu dibacanya dengan suaranya yang jernih, lantang, dan tentu saja, terlihat jelas bahwa pembacanya adalah seorang yang cerdas!

“Bangsa Indonesia harus terus memandang ke depan. Meneladan negara-negara lain yang sudah lebih maju, tetapi tidak meninggalkan keunikan budayanya sendiri…”

November 2008

by: Veronica Sri Utami