JANGAN ANGGAP REMEH LINGKAR PINGGANG ANDA!

By: Veronica Sri Utami

(Tulisan ini dibuat setelah sebuah seminar tentang lingkar pinggang. Pengennya jadi tulisan panjang, tapi ternyata susah masukinnya ke majalah. Akhirnya cuma jadi laporan peristiwa. Dituliskan di sini daripada terbuang percuma. silakan dibaca, semoga berguna………)

Menurut penelitian Dr. Xavier Jouven di Prancis, pria-pria yang memiliki lingkar pinggang yang besar, alias berperut buncit, memiliki kemungkinan meninggal lebih cepat!

Seorang teman suatu hari mengeluh, “Aku barusan beli celana panjang tiga, eh…tadi pagi waktu mau dipakai kok udah gak bisa dikancingin! Padahal baru 2 mingguan loh, paling-paling baru dipakai 2 kali. Sayang banget deh, padahal lumayan mahal tuh! Terpaksa besok beli celana lagi nih.”

Ya, bertambahnya lingkar pinggang oleh sebagian orang hanya dianggap sebagai pertanda bahwa kita harus membeli celana baru dengan ukuran pinggang yang lebih besar, tidak lebih dari itu! Padahal sebenarnya, di balik besarnya lingkar pinggang itu tersimpan berbagai potensi penyakit yang bisa menyerang Anda.

Ada apa di balik lingkar pinggang?

Bertambahnya lingkar pinggang merupakan cerminan adanya timbunan lemak di dalam perut. Nah, timbunan lemak di dalam rongga perut inilah yang berbahaya, karena sering dihubungkan dengan munculnya komplikasi metabolik dan kardiovaskuler. Selain itu, lingkar pinggang yang besar tentu juga menandakan berat badan yang berlebihan. Dan, menurut Dr. Gatut Semiardji, SpPD-KEMD, staf akademik divisi metabolik endokrinologi ilmu penyakit dalam FKUI, kelebihan berat badan atau obesitas meningkatkan resiko seseorang menderita diabetes sebesar 10 kali lipat, hipertensi 2 kali lipat, dan penyakit jantung koroner sebesar 6 kali lipat. “Kalau dulu, gemuk adalah tanda kemakmuran, sekarang zaman sudah berubah. Orang sudah tahu kalau gemuk itu gudangnya penyakit,” demikian disampaikan oleh Dr. Gatut Semiardji, SpPD-KEMD, yang juga adalah pengurus Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) dalam sebuah seminar berjudul Lingkar Pinggang dan Kolesterol Berkurang, Kesehatan Bertambah yang dilenggarakan oleh laboratorium klinik Prodia. Bahkan, Hipocrates yang hidup pada 460-359 SM sejak jauh hari telah mengatakan bahwa orang yang gemuk lebih cepat meninggal.

1. Kolesterol dan Jantung Koroner

Semakin banyaknya timbunan lemak dalam rongga perut, akan diikuti dengan tingginya kadar kolesterol (LDL). Kolesterol LDL selama ini dikenal sebagai kolesterol jahat karena dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah koroner. Sementara, kolesterol HDL atau yang dikenal dengan kolesterol baik karena bersifat proteksi terhadap terjadinya penyakit jantung koroner, cenderung semakin rendah jika timbunan lemak di perut semakin banyak.

Sehubungan dengan kadar kolesterol ini, Dr. Gatut mengatakan, “Tingginya kadar kolesterol total, kolesterol jahat (LDL), dan trigliserida, yang dibarengi dengan rendahnya kadar kolesterol baik (HDL), merupakan manifestasi terjadinya dislipidemia, yang merupakan salah satu faktor resiko terjadinya penyakit jantung koroner.” Karena itulah, tinggi kadar kolesterol LDL sebaiknya selalu dijaga di bawah 130 mg/dl, sedang kadar kolesterol HDL sebaiknya selalu di atas 45mg/dl, dan kadar kolesterol total tidak lebih dari 200mg/dl.

2. Diabetes

Seorang peneliti dari Swedia menemukan bahwa lingkar pinggang dapat digunakan untuk mengukur resistensi insulin, yaitu keadaan di mana tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara baik. Resistensi insulin ini dapat menjadi indikator untuk melihat apakah seseorang berisiko untuk terkena penyakit diabetes.

3. Masalah Psikologis

Selain sering dihubungkan dengan meningkatnya resiko berbagai macam penyakit fisik, kelebihan berat badan atau lebih dikenal dengan obesitas juga sering dibarengi dengan gangguan kejiwaan seperti kurangnya rasa percaya diri dan kecemasan.

Apakah berat badan saya sudah berlebih?

Kelebihan berat badan terjadi karena adanya ketidakseimbangan kalori. Kalori yang kita peroleh dari makanan, lebih banyak daripada kalori yang kita keluarkan melalui aktivitas tubuh, seperti: bernafas, membuat jantung berdenyut, dan melakukan fungsi-fungsi dasar sel, serta olah raga. Kelebihan kalori ini kemudian disimpan oleh tubuh dalam bentuk lemak di beberapa bagian tubuh.

Kita dapat mengukur timbunan lemak yang ada di perut dengan mudah, yaitu menggunakan meteran. Lingkar perut yang berisiko rendah menurut Dr. Endang Darmoutomo, MS, SpGK, dokter gizi klinik di RS Siloam, Lippo Karawaci, adalah kurang dari 90 cm untuk pria, dan kurang dari 80 cm untuk wanita.

Salah satu cara lain untuk mengukur apakah berat badan kita ideal atau sudah berlebih dikenal dengan indeks massa tubuh (IMT). IMT dihitung dengan berat badan (kg) dibagi tinggi badan kuadrat (M2). Angka normal IMT untuk Asia-Pasifik adalah antara 18,5-22,9 kg/m2, lebih dari itu disebut kelompok berisiko, dan IMT di atas 25 kg/m2 disebut sebagai obesitas, demikian disampaikan dr. Endang.

Nah, bagaimana hasil pengukuran terhadap diri Anda? Apakah termasuk dalam kelompok yang berisiko? Kalau iya, sebaiknya segera beri perhatian pada tubuh dan kesehatan Anda!

Kuncinya Ada pada Perubahan Gaya Hidup

1. Pengaturan pola makan

Menurut dr. Endang, kebutuhan kalori orang dewasa berkisar 1500-2000 kkal per hari. Sedangkan asupan kalori untuk membuang cadangan lemak yang dianjurkan pada wanita adalah 1000 kkal, dan pada pria 1500 kkal. Karena itu, saat makan kita perlu memperhatikan jumlah kalori dari makanan yang kita konsumsi. Kalori tertinggi kita peroleh dari lemak (9 kkal/g) dan gula (4 kkal/g).

Selain kalori, yang penting diperhatikan dalam asupan makanan adalah kadar lemak karena lemak dapat mempengaruhi kadar kolesterol dalam darah. Menurut Dr. Endang Darmoutomo, untuk menurunkan kadar kolestrol darah kita perlu membatasi kalori dari jenis makanan apa pun, termasuk gula, kolestrol yang diperoleh dari konsumsi hewan (karena kolestrol hanya dihasilkan oleh hati hewan), dan lemak jenuh yang diperoleh dari lemak hewan, kulit, dan jeroan, juga minyak kelapa, kelapa sawit, dan santan.

2. Peningkatan aktivitas fisik

Kebiasaan hidup yang santai, malas bergerak, selalu mengandalkan bantuan orang lain (misalnya pembantu dan sopir), juga lebih suka menggunakan alat bantu seperti remote atau eskalator dan kendaraan bermotor, juga makan secara berlebihan yang dilakukan sebagian besar orang dewasa ini menurut dr Endang merupakan hal yang memicu munculnya kondisi kegemukan. Perubahan gaya hidup yang dibutuhkan untuk menurunkan kelebihan berat badan adalah pengaturan pola makan, sekaligus peningkatan aktivitas fisik.