HAPPINESS IS A CHOICE!

Anahata, November 2008

Anahata, November 2008

“Kok gak jadi foto bareng, mbak?” begitu tanya seorang peserta retret di Bali pada kami.

“oh, tadi sudah bu, kan sudah kami umumkan jam 9.30 sebelum sesi pertama dimulai” jawab kami.

“Loh, tapi kan kita belom ikut foto!” katanya lagi dengan logat surabayanya yang kental, dan bernada ketus.

“Acaranya kan masih panjang bu, kita kan masih akan terus ambil foto-foto selama kegiatan ini,” jawab kami lagi, dengan kesabaran yang semakin menipis.

meskipun dia akhirnya berhenti bertanya dan meninggalkan kami, dengan hati yang kami yakin masih belum puas dan ingin meledak, tapi kami masih mendengar suaranya berbisik (tapi masih bisa didengar, atau memang maksudnya supaya didengar) pada sang kakak,”Foto kok gak nunggu-nunggu to? bla…bla…bla……..”

hhhhhuuuhhhhhhhhh……….
kami cuma bisa menghelas napas untuk melegakan dada yang terasa sesak.

Dia yang terlambat datang ke acara, kenapa dia juga yang marah-marah? Masak iya, kami harus mengorbankan sesi penting yang merupakan acara utama kegiatan ini hanya karena menunggu beberapa orang untuk foto bersama?!

selain dia, toh banyak juga yang terlambat ikut sesi foto bersama dengan kaos seragam acara di depan hotel, tepat di bawah spanduk selamat datang peserta. tapi mereka juga tidak menujukkan kemarahan, kekesalan, atau mengajukan permintaan untuk difoto ulang.
“Gak penting amat sih!” begitu kami mengomel-ngomel.

Ya, sejak awal acara, bahkan sebelum kami berangkat, si ibu satu ini sudah jadi “vampir emosi” buat panitia. Mulai dari batal mendaftar yang tiba-tiba ahirnya mendaftar lagi pada detik-detik terakhir, yang complain tentang AC dan pelayanan hotel, sampai komplain karena tidak ikut foto bersama ini, bahkan akhirnya di bandara,ia pun kembali membuat masalah karena kunci hotel masih dibawanya. Dan, ada sebuah gunting dalam tas tangannya, yang membuat kami harus berurusan cukup lama dengan pihak keamanan bandara. Ampun dewaaaaa……….!!!!

pelajaran yang juga bisa kuambil dari kejadian ini adalah:
AWAS!!! TIDAK BAHAGIA ITU BISA MENULAR !

hal ini sudah aku buktikan sendiri. selama 3 hari acara yang seharusnya memberikan rasa bahagia, ketidakbahagiaan sang ibu yang komplain karena tak ikut foto bersama itu, membuat saya, mbak inne teman saya yang adalah panitia acara ini, sekaligus juga Mbak Kiki, GRO Anahata resort ans spa, tempat kami menginap pun ketularan jadi tidak bahagia

Di hari kedua,ketika kami mengajak makan malam di tepi Jimbaran, tega-teganya ia “mengganggu” refreshing kami dengan kata-kata, “Kami ini kan langganan Nirmala sejak lama. kita kan juga pengen nunjukin ke sodara dan kenalan kalau kami ikut acaranya Nirmala ke Bali. kalo foto kami enggak ada kan gak ada yang percaya.”

Ampuuu..un deh!
untuk diketahui, aku, yang jadi reporter sekaligus fotografer di acara ini sepanjang pagi-siang-sore malem, tak henti-hentinya menjepretkan kamera, kearah setiap peserta. Kecuali kalau sesi foto hanya sekali, ketika jam 9.30, yang dia lewatkan itu, boleh lah dia bersungut-sungut karena tak ikut difoto.

baru kali ini juga aku mendapatkan komplain dari seseorang hanya karena tidak ikut foto bersama.dan takut wajahnya tak tampak dalam kamera,sehingga orang-orang tak akan percaya kalau dia bercerita.
bahkan narasumber ahli, yang kata-kata indahnya sering kukutip di majalah pun, tak marah jika wajahnya tak mucul bersama kata-katanya.

yah, apa pun itu, justru kejadian ini membuatku menemukan jawaban atas rasa penasaran sejak awal kegiatan ini berlangsung.

kegiatan retret majalah Nirmala ini bertema “Happiness is a choice”. melihat dari temanya, maka aku membayangkan bahwa pesertanya adalah orang-orang yang sedang tak merasa bahagia.
tapi, begitu melihat harga pendaftarannya, yang lebih dari gajiku sebulan,aku jadi bertanya-tanya:

Gelandangan mana yang bisa bayar sekian juta uang pendafarannya itu biar bisa bahagia?

Pengangguran mana yang punya duit sekian juta untuk tetap merasa bahagia meski tak jelas masa depannya?

atau, seorang yang terlilit hutang mana yang rela mengeluarkan uang sekian juta untuk ikut retret bahagia di bali, dan bukan untuk menutupi sebagian hutangnya?

pertanyaan itu semakin meluap ketika melihat satu-persatu peserta datang ke Bandara. dari pakaian yang dikenakan, koper yang mereka bawa, dan penam[pilannya, aku bisa menebak bahwa mereka adalah pemilik rumah-rumah mewah, minimal bertingkat dua, dengan luas tanah ratusan atau ribuan meter persegi, juga kendaraan pribadi yang uangnya setiang listrik jika ditumpuk tinggi…

Lalu bahagia seperti apa yang mereka cari?

Ini dia jawabannya!
BAHAGIA ADALAH SEBUAH PERASAAN DARI DALAM JIWA, YANG TAK HANYA BERKORELASI POSITIF DENGAN JUMLAH UANG, MOBIL, RUMAH, DAN LUAS HALAMAN..

Karena wajah yang tak tertangkap kamera saat foto bersama pun bisa menghalangi orang mendapat bahagia!🙂