Lembur yang kontraproduktif

Lembur..
ketika terdengar kata itu, maka yang pasti ada dalam benar adalah: pulang malam, atau tidak tidur sampai larut malam, karena mata terus terpaku pada sebuah kotak menyala, dengan tulisan-tulisan yang entah masih tersusun rapi atau sudah beterbangan di dalamnya. (keadaan susunan huruf ini tergantung pada berapa lama lembur dilakukan, apakah sudah mengantuk atau belum, dan apakah badna masih fit atau sudah menjerit-jerit minta kasur dan bantal)

Lembur bisa terjadi karena:
1. benar-benar kurang waktu, sehingga jam kerja yang dari jam 8.30 sampai jam 17.00 tidak mungkin dipatuhi begitu saja.
2. terlalu bersantai-santai di depan, sehingga ketika saatnya tiba, harus kejar-kejaran, atau
3. mengincar uang tambahan, biar sekadar bisa beliin baju anak di akhir bulan, makan bakso bersama keluarga, atau menambah gudang tabungan yang tak pernah penuh… (tentu ini hanya untuk mereka yang ada pada bidang pekerjaan tertentu yang memang memungkinkan untuk dapat uang lembur)

Nah, seharusnya, dengan lembur, pekerjaan menjadi cepat selesai, deadline bisa terkejar, teman-teman bagian artistik segera bisa melay out artikel, lalu naik cetak, majalah terbit, bagian distribusi bisa segera menyebarkan ke agen dan langganan, dan akhirnya semua senang!!

Tapi hari ini, sebuah kejadian mengobrak-abrik esensi lembur yang selama ini sudah bersemayam dengan tenang dalam benakku..

dalam susunan redaksi, ada seseorang yang berada pada posisi di mana semua naskah harus melewatinya. Dialah yang akan menentukan apakah sebuah naskah sudah layak dilemparkan ke bagian artistik, atau harus dibongkar pasang dulu.
nah, ketika saat-saat deadline seperti ini, kehadirannya tentu sangat dinantikan, karena tanpanya naskah, meski sudah matang di tangan penulis, tak bisa segera diproses lebih lanjut.
Itulah sebabnya, ketika hari ini,dia tak muncul-muncul sampai jam makan siang, aku (yang kebetulan dapat tugas mengawal redaksi selama beberapa hari redpelku pergi), dan mbak Tuti, sang sekretaris redaksi kalang kabut tiada tara. Bagaimana tidak, beberapa naskah masih ada di tangannya, menanti keputusan, beberapa naskah lain sudah siap diserahkan oleh para penulisnya. sayang kan kalau tak bisa segera dioper untuk di lay out teman-teman artistik…
dikirimkanlah sms untuk menanyakan keberadaannya.
dan jawabannya demikian,

“hari ini saya tidak masuk. Saya baru saja pulang dari dokter. badan saya meriang karena tadi malam saya lembur sampai jam 2.”

Waduu…uh!!
segala gerutuan langsung mengalir…”salah sendiri pake lembur segala! jadi gak bisa masuk kan tuh padahal banyak banget naskah yang harus diperiksa! huh! bla..bla..bla…”

setelah dipikir-pikir, bagaimana reaksi atas SMS itu, mungkin sifatnya sangat subjektif. Kalau orangnya tidak terlalu disuka (untuk memperhalus kata benci), gerutuanlah yang keluar.
Tapi, kalau orangnya dekat di hati, mungkin ungkapan keprihatinanlah yang muncul. “aduh kasian ya si anu, gara-gara kebanyakan pekerjaan, mesti lembur segala, sekarang jadi sakit. bla..bla..bla…”

hehehehe…itulah manusia!!

tapi, dari kejadian itu jugalah pandanganku tentang lembur berubah.
ia tak selalu memberikan efek positif, karena membuat pekerjaan selesai tepat waktu. Karena ada faktor lain yang juga harus diperhitungkan, yaitu efeknya terhadap fungsi fisik sang pelaku…

By: Veronica Sri Utami
baru tahu aku sekarang, kenapa mbak ani, sang redpel, punya penyakit gatal-gatal….. (hehehe..sorry mbak!)