Sindrom Lapsus: Sebuah penyakit baru..

ice-creamSekitar 2 edisi terakhir ini, aku melihat ada gejala-gejala fisik dan psikologis baru, yang mengarah pada sebuah penyakit baru.

symptomnya adalah: orang jadi pendiam (bahkan tak jarang, seharian tak terdengar suaranya), pulang lebih malam dari biasa, dan…ngidam es krim!!!

ini bukan mengada-ada loh!

berawal dari bulan lalu, ketika aku yang ketibanan sampur untuk menulis laporan khusus (lapsus) sebuah rubrik di tempatku bekerja. rubrik yang maha berat, karena dari semua rubrik yang ada, lapsus adalah yang paling panjang. 11 halaman ketik!
edisi lalu, aku harus mengulas soal Terapi Hormon. Topik yang cukup berat buatku, karena hampir tak pernah bersentuhan dengan itu.
Kalau aku seorang senior, mungkin bisa kutolak penugasan itu dengan bilang, “Aduu..uh, aku bener-bener gak bisa nulis itu! Lha wong aku gak pernah terapi hormon kok!” (hhehe..kata-kata sejenis ini pernah kudengar keluar dari seorang senior, yang juga pernah dengan bangga berkata, “I’am a journalist!”
Dan kini kusadari, seorang jurnalis tulen, mungkin malah tidka akan pernah sekalipun mengucapkan kalimat itu, karena tanpa berucap pun, semua orang sudah tahu bahwa dia adalah seorang jurnalis)
Oke, kembali ke topik utama,

Ketika mengerjakan lapsus terapi hormon itu, aku seperti trans. telinga kututup rapat dengan headset, yang memancarkan lagu-lagu indah untuk menghibur dan membuat otak kananku tetap terjaga, sementara otak kiri bekerja keras memahami teori-teori hormon, nama-namanya yang sekarang ini tak satupun lagi kuingat, dan semua terapi yang berhubungan dengannya. seolah berada di dunia lain. kesurupan!!

kesadaranku akan kembali ke mejaku yang penuh dengan buku, kertas print out dan monitor yang semuanya tentang hormon, ketika tiba-tiba, ada pesan masuk di layar monitor dengan kedip-kedip orange yang berbunyi, “makan dulu yuk…!”
dan membuatku menyahuti dengan kaget, “hah! udah jam 12 ya?”
atau, “pulang dulu, besok lanjutin lagi..”
yang membuatku langsung melirik jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul 17.00 atau bahkan lebih.
Mbak Tuti, seoran teman kantorku, bahkan pernah menepuk pundakku, sambil berkata, “kayanya kena serangan penyakit anteng nih!”
yang kubalas dengan senyuman kecut…

Setelah lapsus selesai dibuat, kelegaannya bisa disetarakan dengan orgasme (ups, semoga yang baca sudah 18 tahun ke atas semua).
Selain terasa lega, tiba-tiba juga hasrat lain meningkat. ialah…. pengin makan es krim!!

kupikir, es krim itu hanya sebuah sebuah simbol atau cerminan keinginan merayakan kelegaan, kepuasan, dan keberhasilan setelah sebuah tugas besar bernama lapsus selesai dilaksanakan.

Tapi, sebuah sms dari Prita, temanku, yang bulan ini mendapat giliran bikin lapsus tentang sindrom darah kental, membuatku mempertimbangkan ulang kesimpulanku tentang es krim.
SMS-nya berbunyi begini, ” Tahu gak mbak, aku lagi di AW. Cuma pengin makan es krim…”

Jadi, apakah ini simptom dari sebuah penyakit baru???

By: Veronica Sri Utami
“Many thanks to siapapun yang telah menciptakan es krim!”