Anak-anak itu mengemis!!

sekitar 2 minggu terakhir ini jalan raya ciputatselalu macet. terutama menjelang lampu merah yang menghubungkan pasar jumat dengan arah kebayoran. penyebabnya adalah galian saluran air, tepat di perempatan yang menuju kebayoran, pondok indah, tol BSD. galian itu sepertinya tak pernah selesai. dan entah kenapa, setiap kali saya melewatinya (sepulang kerja terutama) tak pernah tampak aktivitas paara tukangnya. jadi kapan sebenarnya mereka kerja ya? da lebih tepatnya, kapan pekerjaan dan kemacetan ini akan berakhir?

karena kemacetan parah itu, angkot Ciputat-Kebayoran yang saya tumpangi untuk menuju ke perempatan FEDEX (begitu saya menyebutnya, sebagai salah satu tempat janjian ketemu bapaknya Lintang kalau kebetulan bisa pulang bersama), mengambil jalan alternatif masuk ke arah Sandratex.

dari situlah, berbeloklah angkot D01 berpenumpang 3 orang itu ke seuah jalan kampung kecil yang hanya muat 1 kendaraan. lalu, mengikuti kelak keloknya, yang sumpah! kalo dilepas sendiri aku gak tau gimana cara keluar dari sana..

pemandangan awal masih biasa saja… kanan kiri jalan dipenuhi dengan jajaran rumah. ada yang bagus, ada yang lumayan, ada juga yang sepertinya sudah tak layak.

Mulai masuk ke dalam, pemuda-pemuda berwajah sangar semakin banyak terlihat, berdiri di persimpangan-persimpangan, yang rawan terjadi papasan. dengan dalih mengatur laju kendaraan agar tak saling bertubrukan, diacungkanlah topi atau keranjang kecil, mengharap lemparan uang 500 atau seribu.

ah, pemandangan seperti ini sudah sering kulihat di ibu kota ini.
bahkan sebuah tempat parkir, yang sebenarnya sepi, dengan jalan di deoannya yang juga lengang pun, ada tukang parkirnya. yang tak tampak ketika kita datang, tapi saat mobil mulai distater hendak pergi, datanglah ia sekonyong-konyong dengan sempritannya melengking tinggi, seolah berteriak, “WWooooiii…ada gue loh! sang tukang parkir. jadi, jangan pergi gitu aja loe!! gak ada yang gratis di dunia ini!!”

jadi, meski sedikit terganggu melihat sang sopir angkot, yang pastinya juga tak terlalu sejahtera hidupnya, berkali-kali harus mengeluarkan uang receh di setiap belokan, tapi sudahlah…
pak ogah memang sudah membudaya, begitu pikirku… (meski kini nilai nominalnya telah bertambah,tak cukup “cepek dulu dong”)

pemandangan berikutnya, meski juga sudah biasa, cukup membuat miris.
di sebuah persimpangan jalan, tampak cukup banya bocah bergerombol. yang muncul dalam pikiranku awalnya adalah, “dasar anak-anak, cum aliat angkot lewat depan rumahnya aja heboh banget! kayak liat topeng monyet!”

tapi ternyata, mereka bukannya melihat topeng monyet!
karena sejurus kemudian, salah satu anak dalam gerombolan itu, naik ke atas angkot, bergelantungan di pintu, lalu, nyanyi!!
ya! betul! ia mengamen!!
astaga…. jadi aku salah sangka! mereka justru melihat bahwa angkot yang lewat depan rumah mereka itu adalah pundi-pundi uang. Kreatif atau …………
ah entahlah!

soal pengamen secara umum, sikapku cenderung mendua. ketika aku melihat pengamen yang asal nyanyi, asal keluar suara, lalu menadahkan uang atau kantong bekas permennya berkeliling penumpang, aku merasa dia tak ubahnya pengemis, yang berharap dapat uang, tanpa harus melakukan apa-apa.

tapi, ketika aku melihat pengamen, yang benar-benar mengamen. bisa dalam arti menyanyi sugguh-sungguh dengan suara merdu dan peralatan sederhana tapi sungguh terdengar merdu, atau meski suaranya tak merdu tapi terdengar sungguh-sungguh bernyanyi maka aku masih menganggap bahwa memang pekerjaan mereka adalah pengamen. karena mereka melakukannya dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa, dengan mengerahkan segala tenaga dan kemampuannya. BUkankah memang demikian esensi bekerja?

okelah… bolehlah mereka dianggap masih sedikit berusaha untuk dapat uang. toh, lompat ke angkot kan juga berisiko.

tapi, pemandangan selanjutnya..sungguh bukin dada sesak, dan ingin teriak.
kali ini yang kulihat, sungguh-sungguh anak-anak yang mengemis!!

di sisi sebuah jalan menuju kelokan tajam (yang artinya angkot harus sedikit melambat, berjajarlah sekitar 6 orang anak, sambil menadahkan tangan, dan meneriaki sang sopir angkot. “Beh! Beh! (maksudnya, babeh! panggilan untuk bapak dalam budaya betawi).
hadu..uh! tak hanya mengemis, mereka pun telah meniru cara-cara premanisme! meminta uang tanpa kesopanan. cenderung memaksa, bahkan menyiratkan ancaman…

Ampun gusti, apa yang salah dengan dunia ini.
Apa yang salah dengan anak-anak ini?
Nilai apa yang lupa ditanamkan oleh orang tua mereka?

bayangkan saja. lewatnya angkot di depan rumah mereka ini mungkin baru beberapa hari saja. tapi lihatlah, refleks mereka menanggapi itu. dari seorang anak, yang tadinya mungkin hanya berlari-larian di lapangan bersama temannya, main bola, kejar layangan, atau nonton TV di rumah..
kini mereka berubah jadi pengamen, dan bahkan pengemis yang menyatu dengan preman…
hanya dalam beberapa hari saja!!

Langsung teringat Lintang di rumah. Bocah kecil, berusia 10 bulan, yang baru menikmati dunia ini sebagai sebuah ruang baru, penuh kehangatan pelukan, ciuman sayang, dan senandung merdu nina bobo yang ditembangkan dengan setulus jiwa.
Dan mungkin belum tahu, beratnya oerjuangan idup untuk tetap bertahan hidup.

dalam hati, kuberjanji padanya,untuk menanamkan sebuah nilai penting kehidupan.
(Yang sampai sekarang belum kutahu itu apa). yang akan membuatnya jadi seorang yang berharga! dengan kehormatan, harga diri, dan semangat besar untuk memperjuangkan hidup dan bahagianya dengan cara yang benar!

Lintang,anak ibu, kau memang sangat berharga!

By: Veronica Sri Utami
sebuah sore, dalam angkot kebayoran-ciputat. Berjanji tak lupa menanamkan sebuah nilai hidup yang belum kutahu apa…