sebuah sore bersama amplop surat dari pembaca

salah satu rubrik yang saya pegang di majalah tempat saya bekerja ini adalah “Tanya Jawab Ahli”.

rubrik ini menampung pertanyaan-pertanyaan pembaca, tentang penyakitnya, pengalamannya, atau apa pun yang dirasakan dan dipikirkannya.

kemudian, saya sebagai pengasuh rubrik akan menyampaikan pertanyaan-pertanyaan ini ke ahli yang berkompeten.
pertanyaan dari seseorang yang selalu merasa kurang beruntung, misalnya, akan segera saya teruskan ke psikolog ahli. pertanyaan tentang jamur kombucha, tentu saya sampaikan ke ahli herba atau pengobatan Cina (TCM). Pertanyaan tentang kulit berjerawat, segera saya teruskan ke sokter spesialis kulit dan kecantikan. begitu prosedurnya.

mengasyikkan, karena somehow, membuat saya seperti Sinterklas, yang setiap menjelang natal menerima surat-surat berisi daftar permintaan dari semua anak di dunia.
Lalu, dengan diantar ratusan rusa salju, sinterklas memasukkan bingkisan dan hadiah mereka minta (hanya yang tidak nakal dan selalu patuh pada orang tua, tentu saja) ke dalam kaos-kaos kaki yang digantung di pohon natal, lewat cerobong asap.
HOhohohohohoho……..

satu-satunya prosedur yang tidak saya sukai adalah: menunggu surat-surat yang masuk ke redaksi. Mengapa? karena majalah tempat saya bekerja ini masih mengunakan cara lama, yaitu lewat surat yang diantarkan oleh tukang pos!
yak betul! dengan kertas, amplop, dan prangko!
saya sering mengajukan usul sebenarnya, mengapa kita tidak menggunakan teknologi yang lebih canggih, seperti sms, atau via email. tentu, akan semakin banyak penggemar rubrik ini. paling tidak, semakin banyak yang berniat untuk menyampaikan pertanyaan, tanpa berpikir, “kantor pos deket sini di mana ya?”

tapi entah kenapa, sore ini saya bersyukur, bahwa kertas surat, amplop, dan prangko mash diterima menjadi alat untuk berkomunikasi.

rasa ini muncul ketika mbak Tuti, tiba-tiba meletakkan sebuah sampul surat ke mejaku. karena sedang fokus mengerjakan sesuatu, selembar surat itu sperti sesuatu yang sangat mengagetkan.

dan anehnya, yang pertama-tama terasa adalah getar-getar penuh rasa suka cita, seperti yang terasa bertahun-tahun lalu, di masa SMA, ketika aku melihat sebuah amplop dengan namaku terpampang di tempat surat di samping ruang kepala sekolah.
ya, sekolah saya dulu adalah sekolah wajib berasrama, yang tidak memungkinkan bagi saya dan semua teman yang ada di sana bertemu orang tua, saudara, juga teman-teman setiap hari.
dan, karena di jaman itu pula, HP dan segala peraltan komunikasi canggih yang sekarang ini sudah tak lagi canggih belum ada, maka suratlah yang jadi alat paling berharga.

setiap istirahat, kami melirik-lirik ke sebuah papan bertingkat, tempat surat-surat kami diselipkan. Dan, bagaimana rasanya kalau di papan itu sekilas terlihat sebuah tulisan yang kita kenal, yang balasan suratnya memang sedang kita nantikan, karena di dalamnya pasti ada kalimat-kalimat manis dengan pujian-pujian yang membawa kita melayang ke langit ke tujuh. yang ditulis dengan kerinduan yang penuh dan utuh!
Wow… indahnya!!

dan, teringat lagi betapa tak sabarnya untuk segera menyobek sampul suratnya. dan membaca isinya sambil membayangkan wajah tampan nan rupawan di seberang sana…
Amboi…..

Sejujurnya, tulisan pada amplop yang tergeletak di meja sore ini, mengingatkan saya pada seseorang, dengan tulisan indah, yang bertahun-tahun lalu, tak pernah putus menjadi teman saya berbalas kata.

hati dan rasa memang telah menyatu, tapi dunia tak semudah itu memberi restu.

ah, sudahlah….

dan sore ini, saya menyobek sampul surat itu dengan rasa keindahan yang sama…..

by: Veronica Sri utami

thanks to Mr Postman dan teman berbalas kata, sang pemilik tulisan indah, di manapun kau berada….🙂