Syarat untuk jadi bos hebat

karena tugas mengerjakan laporan khusus tentang “stem cell”, hari ini aku membuat janji bertemu dengan seorang ahli bidang stem cell.

Nama orang itu, dr. Boenjamin Setiawan.

Awalnya, Aku mendapatkan emailnya, juga dari seorang dokter. Langsung kuemail, kuceritakan maksudku, ingin membuat sebuah tulisan tentang stem cell, dan ingin meminta informasi darinya.

Tak disangka, emailku langsung dibalas. Mungkin hanya berselang beberapa menit saja setelah kukirim.
“Oh, bukan dokter yang terlalu sibuk,” begitu pikirku… (berdasarkan pengalaman menghubungi beberapa dokter psikolog, atau ahli lain, yang memerlukan waktu berhari-hari untuk mendapatkan responsnya, yang kadang bahkan ditambahi sedikit “keluhan” sibuk, ketika berkali2 ditagih…)..

Setelah beberapa kali berbalas email (yang kami lakukan hanya dalam waktu beberapa jam saja, tanpa berselang hari) disepakati bahwa pertemuan akan dilangsungkan pada hari berikutnya.
“Wow, berarti sia memang tidak terlalu sibuk,” begitu pikirku lagi (berdasar pengalaman sebelumnya, susahnya mencari waktu luang seorang “penting”…

Dan, bertemulah aku dengannya pagi ini. Karena terlalu awal datang, aku punya kesempatan untuk membaca-baca majalah yang ada di ruang tunggu…
Dan, terbacalah namanya dengan jelas bahwa beliau adalah pendiri Kalbe Farma, sekaligus pendiri Stem Cell and Cancer Institute (SCI), sebuah lembaga riset yang ingin kukorek infonya hari ini…

Astaga!! jadi, orang yang kemaren begitu cepat dan antusias menjawab emailku, dan dengan mudahnya memberikan nomor HP-nya untuk kuhubungi itu adalah orang nomor satu-nya Kalbe Farma dan SCI??
Wow!

Kekagumanku juga kian bertambah ketika melihat kerendahan hatinya saat menerimaku. Dipanggilnya, “petinggi2” lembaga penelitiannya itu untuk memberikan semua info yang dia punya untukku. “Kita ini saling menguntungkan kok! Info kita berguna untuk majalah NIRMALA dan pembacanya, kita sebagai lembaga riset juga pasti akan diuntungkan oleh media,” katanya pada anak2 buahnya.

Dan, tak begitu saja menyerahkan tugas kepada para anak buah, ia pun ikut ada di sana berkomentar, memberi info penting, dengan kecerdasan yang sungguh masih terlihat jelas keluar dari dirinya, walau usianya pasti tak bisa lagi dibilang muda.
“Dia itu sudah PhD sejak tahun 60 loh! Tapi, kita yang muda2 ini, sering otaknya justru kalah dari beliau,” begitu ‘bocoran’ dari dr. Caroline, yang mengantarku berkeliling setelah acara wawancara itu..

Melihat kecerdasan, semangat, dan kerendahan hatinya, tiba2 aku pun teringat sosok yang pernah memberikan sebuah kekaguman di awal karirku di dunia media ini.
ialah, Yos Tanubrata, pimpinan radio SONORA Jakarta, kala itu.
Semangatnya sama. Kecerdasannya pun tak diragukan lagi. Keihklasannya memberikan info dan ilmu tanpa ragu2 untuk siapa pun juga, juga salah satu kekuatannya. Dan yang paling berkesan adalah kerendahan hatinya. Pengalaman berkesan yang masih kuingat sampai sekarang adalah, ia tak segan-segan ikut membungkus hadiah untuk para pendengar SONORA , walaupun hanya berupa kaos kaki, beberapa bungkus permen, atau pernak-pernik kecil lainnya. Sama sekali tak kenal gengsi!

Perjumpaanku dengan kedua orang hebat yang mengagumkan ini setidaknya memberikan sebuah “kesimpulan hidup”, yang kuikat selama perjalanan dari SCI menuju Ciputat, yang mungkin kelak bisa kugunakan untuk jadi tongkat penunjuk jalan…

Syarat untuk menjadi seorang pemimpin hebat, dengan perusahaan yang juga maju dengan pesat, adalah: Rendah hati, tak kenal gengsi, tak pelit membagi ilmu, dan peduli pada orang, siapa pun itu…

Semoga aku bisa jadi seperti mereka..

Amin!!

Jakarta, 29 April 2009

“mengikat sebuah makna, semoga bisa jadi senjata….”