Ketika Wimar Witoelar berkata, “Dunia ini memang tidak adil”

sore itu, saya mendapat undangan dari penerbit Gagas Media untuk menghadirilaunching buku “More About Nothing”,karya Wimar Witoelar.

Wah, boleh juga nih! pikir saya.

Jujur saja, ada dua hal yang membuat  saya bersemangat hadir di launching buku itu.

Yang pertama, karena tempatnya di Grand  Indonesia, dan kebetulan, saat itu,sedang ada diskon untuk all item sebesar 30%di toko buku Gramedia.

Sebagai pencinta buku (mungkin lebih tepatnya penggila, karena saya akan kalap kalo liat buku yang bisa saya pulang dengan harga semurah mungkin!), kesempatan itu gak mungkin disia-siakan dong!

Alasan yang kedua, pastinya karena Wimar Witoelar him self!
Wimar witoelar adalah salah satu orang yang saya kagumi. Kata-kata yang keluar dari mulutnya, kadang terkesan santai tapi cerdas!
So, kalau ada kesempatan untuk bertemu seseorang yang mungkin bisa memberi saya “ilmu” kehidupan, kenapa harus dilewatkan?
Tak hanya itu, dari sekilas informasi tentang buku yang saya baca di undangan,  saya tahu kalau buku itu berisi kumpulan tulisan “remeh temeh”, yang dibuat WW – demikian Wimar Witoelar sering dipanggil oleh Host dalam acara launching tersebut, Melisa Karim.

Nah, saya juga  sering membuat tulisan remeh temeh tentang kehidupan saya sehari-hari, yang kemudian memberikan arti tertentu dalam hidup saya. (tulisan remeh temeh itu, selain ada di blog https://veronicasriutami.wordpress.com ini, bisa dilihat juga di veronicasriutami.blog.friendster.com).

Artinya, saya juga punya kemungkinan untuk menerbitkan kumpulan tulisan saya itu dalam sebuah buku kan? “saya pengen tahu caranya!” begitu niat saya..

So, pergilan saya sore itu ke Grand Indonesia.

Acaranya memang semenarik yang saya bayangkan. Wimar Witoelar, dengan gaya santainya mnejawab setiap pertanyaan MC. Santai, tapi dalem…

Saat MC memberi kesempatan pada audience untuk bertanya, tentulah saya tak melewatkannya. Saya acungkan jari, dan berkata,
“Bung Wimar, tulisan bung Wimar yang katanya nothing itu, bisa menjadi something (baca: buku), karena bung Wimar punya nama besar. Tapi di luar sana, banyak orang yang mungkin juga menulis tentang nothing seperti tulisan bung Wimar, dengan tulisan yang bahkan lebih bagus lagi, tapi tulisan itu tetap jadi nothing, karena mereka belum punya nama. Itu kan gak adil, Bung! lalu bagaimana caranya supaya kami semua juga dapat keadilan itu?” begitu tanya saya – yang sebenarnya meneriakkan suara hati sendiri…

Dan, dengarkanlah, jawaban santainya untuk saya, yang membuat saya tak bisa berkata-kata lagi, selain mengangguk tanda setuju, dan membawanya dalam hati dan benak saya, sepanjang waktu, sejak saat itu.

“Dunia ini memang tidak adil. Jadi, nikmati saja bagian kita masing-masing…!”

Sungguh, jawaban itu memberi saya semangat untuk mengusahakan sendiri keberuntungan, kebahagiaan, keberhasilan, dan keadilan untuk diri saya sendiri. Dengan cara saya…

Tengkyu Bung Wimar!!

By: Veronica Sri Utami

Juni 2009

“sedang mengusahakan kesuksesan dan kebahagiaan dengan caraku sendiri”