Berhati-hatilah memperlakukan anakmu

Berhati-hatilah memperlakukan anakmu. Karena luka yang dibawanya, mungkin akan mempengaruhi hidupnya kelak, dengan cara yang tak bisa kau tebak…

itulah kesimpulan yang kuambil dari sebuah acara bertajuk Success with Hypnotherapy, 20 november lalu.

sedikit latar belakang tentang acara itu. udah lama, saya tertarik pada hypnotherapy. BUkan buat jago-jagoan, bisa bikin orang gak sadar, trus dipengaruhi. tapi karena kekaguman saya pada beberapa orang yang sepengetahuan saya telah mempelajari hipmoterapi ini. mereka, dengan cara bicaranya yg seolah bisa begitu memahami hidup kita, akhirnya bsia mengarahkan untuk hidup lebih baik dan mencapai bahagia…

tentu saja, semua itu didasari keinginan untuk bisa membantu banyak orang (setelah sebelumnya membantu diri saya sendiri, tentu saja) untuk mencapai bahagia..

tiba-tiba saja, alam semesta seolah mendengar keinginan saya ini, masuklah sebuah email ke dalam inboks saya, yang mengabarkan akan diadakannya sebuah seminar tentang hypnotherapy. Email ini dari bapak Ariesandi dengan sekolah orangtuanya, yang juga mendirikan akademi hipnoterapi Indonesia, yang pernah saya wawancara (entah kapan tepatnya, saya lupa, karena sudah cukup lama), ketika saya membuat artikel tentang Hypnoparenting. tentu saja, tanpa pikir panjang, saya langsung mendaftar. Dalam kolom harga yang harus dibayar tertulis angka 0, ayng artinya gratis, karena saya termasuk dalam jajaran peserta yang mendaftar pertama. Ketika itu, saya merasa bahwa alam semesta benar-benar sedang mendukung saya, menyampaikan niat saya ini pada pihak penyelenggara, sehingga saya dapet gratis! hehehehhe…. (meski akhirnya, saya tahu kalau sebagian besar peserta seminar itu pun bisa menghadirinya secara gratis, sebagai bonus karena telah membeli buku Pak Ariesandi di Gramedia – tapi tetap saja, tak mengurangi terima kasih saya pada Tuhan dan alam semesta karena mengijinkan saya dapat kesempatan ini).

tapi betul juga, acara ini, meski gratis, nyatanya cukup membuka mata saya. Pak ARiesandi, dengan pengalamannya sebagai terapis selama ini, menungkapkan begitu banyak pengalaman hubugan orang tua dan anak, yang menimbulkan luka, bahkan tanpa disadari oleh kedua belah pihak. Tapi efeknya……. jangan ditanya.

salah satu contohnya adalah seorang yang sepanjang hidupnya seolah tak pernah sukses, tak pernah punya cukup uang, meski telah bekerja begitu keras. Setelah ditelusuri dari masa lalunya, ternyata ada suatu masa keitka ia masih seorang anak kecil, dengan keinginannya yang besar untuk menunjukkan hasil karyanya, ia berlari menuju ke arah Bapaknya. Selembar kertas, berisi gambar yang dibuatnya barusan, akan dipamerkannya pada sang bapak. Tapi, ketika ia hendak menunjukkannya, sang Bapak menjawab, “nanti dulu deh! bapak lagi sibuk kerja nih!” Ketika itu, anak itu lansung saja menyingkir dari hadapan sang Bapak. Entah apa yang ada di dalam hatinya….

hari berlalu, tanpa sesuatu yang berbeda. sanga bapak dan anak ini pun kelihatan tak bermasalah. hubungan mereka tetap baik-baik saja. Itu yang kelihatan dari luar.

Nyatanya… “luka” di suatu masa itu, membuat sang anak menanamkan sebuah nilai di dalam hatinya: aku tidak akan sibuk bekerja, karena dengan begitu aku membuat anakku terluka… hasilnya? Ya! segala usahanya untuk sukses, segala usahanya untuk meningkatkan karir terhambat olah sebuah “sumpah” yang dibuatnya sendiri – jauh di bawah kesadarannya…

Contoh ini, seperti mencubitku dari lamunan. kalau selama ini, aku sudah berusaha menjaga kata-kataku (secara sadar) saat bicara dengan Lintang. Agar yang keluar selalu positif, ternyta aku pun harus terus meperhatikan perilakuku, yang mungkin terjadi secara tak sadar, yang bisa membuat Lintang “terluka”…

Pak Ariesandi juga menegaskan, ada 3 hal yang tidak boleh kita rampas dari anak-anak kita, sejak ia lahir hingga masa kuliahnya. Ialah: rasa aman, rasa dicintai, dan self controled.

 

Nah…hal seperti inilah yang kuinginkan dengan mempelajari hinoterapi. Aku ingin mengulik sisi kehidupan seseorang, jika itu memang bermanfaat dan bisa memberikan efek positif baginya.

kalau dipikir-pikir, mungkin memang itulah ketertarikanku sejak awal, hingga memilih psikologi sebagai bidang yang kupelajari selama 4 tahun hingga bergelar sarjana psikologi. Meski kemudian memutuskan untuk tak berkarir sebagai psikolog murni, dengan kewajibannya untuk memberi konseling pada orang lain. Lha wong hidupku sendiri aja gak beres kok mau mberesin orang lain, begitu pikirku kala itu.

tentu saja, karena aku juga lebih memilih bidang menulis, yang adalah hobi, untuk jadi pegangan hidupku… tapi sekarang, nyatanya, keinginan itu menjadi-jadi.

apalagi, ketika di akhri acara, pak ariesandi dan teman2 menawarkan sebuah pelatiahn utnuk menjadi ahli hipmoterapis yang bersertifikat! bayangkan! dapat ilmunya lengkap! bersertifikat pula!!! waduh… mau!!!

tapi, keinginan itu harus diredam sedikit ketika kudengar berapa harganya.. 19,5 juta!!! memang, jika dibandingkan dengan apa yang akan kita dapat (teori lengkap, sertifikat, pelatiahn selama 6 hari penuh bersama ahlinya, plus dukungan penuh setelah bisa berpraktek sendiri) harga itu bsia dibilang tak mahal. Apalagi, kalau dibandingkan jika harus belajar ke luar negeri. Tapi tetap saja, uang sebesar itu buatku, berarti SANGAT BESARRR!!!!!!

meski kemudian, sang pembawa acra menawarkan sebuah diskon besar jika kami mendaftar malam itu juga, dengan meminta untuk segera mengisi nama dan nomor telepon, lalu berlomba-loimba ke meja pendaftaran karena diskon besar ini hanya akan diberikan pada 10 pendaftar pertama – yang juga membautku ikut2an mengisi nama dan nomor telepon, sambil terus berharap agar kali ini alam semesta pun membantuku sekuat tenaga sehingga diskon yang ditawarkan nantinya, meninggalkan sebuah jumlah nominal yang bisa dikejar oleh jumlah saldo di rekeningku – tapi nyatanya, ini belum saatnya… masih terlalu jauh dari kemampuanku…

yah sudahlah, kusimpan saja formulir itu – entah untuk kudaftarkan di tahun kapan,

sambil terus belajar sendiri, caranya menyikapi hidup yang lebih baik agar bahagia selalu ada di dalam hati…

sambil terus belajar, bagaimana memperlakukan orang lain, terutama Lintang, agar tak ada luka di hati

sambil terus mengumpulkan receh-receh setiap bulan, berharap kelak menumpuk tinggi, hingga jumlah itu mengijinkanku untuk menggali ilmu yang ingin kutahu…. apa pun itu. agar dengan itu, aku bisa membantu diriku, dan orang banyak, seperti yang aku mau….

semoga…. semoga….semoga…. semoga Tuhan mengijinkan aku..

jakarta, 24 November 2009

terus belajar, terus bermimpi………:)

*tulisan ini juga dimuat di http://veronicasriutami.blog.friendster.com