Linda Amalia Sari: Saya ingin hidup lebih berguna…

Membaca nama lengkapnya, mungkin tak semua orang mengerti. siapa dia?? tapi bagaimana kalau saya menyebutnya dengan Linda GUmelar???Y a, sosok yang baru saja dilantik Presiden SBY menjadi menteri negara pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak ini memang lebih dikenal sebagai istri Agum Gumelar. mantan menteri di era-era sebelumnya..

saya pun awalnya mengenalnya demikian. “Duh, kenapa dia sih yang dipilih jadi menteri? emang siapa sih dia?” begitu pikir saya ketika mendengar pengumuman susunan kabinet pertama kali.

sampai akhirnya, majalah NIRMALA, tempat saya bekerja, menugaskan saya untuk mewawancarainya, barulah saya searching – siapa dia sebenarnya? tahulah saya, kalau ternyata, yang saya kenal sebagai istri Agum Gumelar ini adalah ketua Kongres Wanita Indonesia, sebuah organisasi yang membawahi puluhan organisasi wanita lainnya, dan artinya membawahi puluhan juta wanita Indonesia..

baiklah..saya harus bersiap untuk menjumpai seorang wanita hebat, kalau begitu..

Mewawancarai seseorang, untuk diangkat dalam rubrik sosok di majalah NIRMALA ini, selalu membuat saya bersemangat! Kenapa? karena dalam setiap perjumpaan dengan seorang yang “hebat” saya pasti dapat ilmu, jurus sakti yang digunakannya untuk menjalani hidup.

Kalau dari Amanda katili saya belajar bagaimana harus mencintai alam, dari Andre Wongso saya belajar bagaimana kita harus memperjuangkan hidup kita sendiri tanpa kenal lelah, dan dari Tung Desem saya belajar bahwa tak hanya orang kaya yang bisa bermimpi.. (saya juga banyak dapat pelajaran dari pak Danny Hilman Natawidjaja yanga adalah seorang profesor peneliti gempa, dari Pak Rhenald Kahasali, dari Ibu Herawati Diah, dari …bla..bla..bla… yang tak mungkin saya sebutkan semuanya di sini).

saya jadi tak sabar untuk tahu pelajaran apa yang akan saya dapat dari menteri pemberdayaan perempuan yang  baru ini.

Oke. dimulailah proses pembuatan janji. karena ini adalah seorang mentri, baru pula. yang sedang sibuk-sibuknya dengan program kerja 100 harinya, maka saya sudah bersipa diri sejak awal akan banyaknya proses birokrasi yang saya temui. Benar saja. Jumlah kru yang hadir, pertanyaan apa saja yang akan saya sampaikan, harus dilaporkan secara jelas, jauh sebelumnya.Menentukan hari pun, melalui proses pembatalan – ganti jadwal – telpon konfirmasi – mundur jam – ganti tempat – berulang-ulang…

sampai akhirnya, tibalah harinya, kami bisa menjumpai beliau setelah sebuah rapat penting bersama wakil presiden, Budiono.

Sejujurnya, jika melihat wajahnya lewat televisi, saya menduga bahwa ia orang yang cukup keras (hehehe…bentuk penghalus dari “galak” sebenarnya). Tapi suer!! ketika berhadapan langsung dengan beliau, tak ada kesan itu sama sekali. Mudah sekali rasanya akrab dengan beliau. tak ada kecanggungan, tak ada kekakuan. percakapan meluncur begitu saja. mulai dari pekerjaan barunya sebagai mentri yang disahutinya dengan kelakar, “Orang lain tua pensiun, saya tua-tua malah jadi pegawai!”,  sampai pengakuannya bahwa menjadi mentri tak pernah muncul dalam benaknya. “Saya ini kata orang, kurang punya ambisi. Jalan aja mengikuti air. Kalau akhirnya sampai dipercaya jadi menteri ya alhamdulilah.”ia menduga, posisinya sekarang ini adalah hasil dari sikapnya yang selalu melakukan sesuatu dengan sunguh-sungguh ketika menerima suatu tugas atau tanggung jawab. “Saya enggak suka setengah-setengah” katanya…

Tak hanya aktif dari KOWANI, ternyata dia juga adalah dewan pembina di beberapa yayasan yang peduli pada kanker. Baik kanker payudara maupun kanker anak. Semua itu, dilatarbelakangi oleh pengalamannya sendiri yang berhasil selamat dari kanker. Penyakit, yang sekarang ini jadi momok menakutkan…”Saya seperti mendapat kesempatan untuk hidup lagi dari Tuhan. sayang rasanya kalau tidak saya isi dengan kegiatan yang berguna untuk orang banyak…” akunya.

yang menarik – terlepas dari fakta bahwa ulang tahun Bu Linda hanya berselang satu hari dari ulang tahun saya, meski tentu saja, beda tahunnya banyak, hehehehe – dia mengaku tak terlalu suka merayakan ulang tahunnya. “Saya lebih suka merayakan pesta pernikahan.” ini alasannya, “Mempertahankan keutuhan sebuah pernikahan itu hal yang susah, dan layak kita rayakan.” ya, sudah lebih dari 30 tahun Linda dan Agum Gumelar mempertahankan keutuhan perkawinannya.yang pasti tak lancar-lancar saja..karena berdasar pengalaman sendiri, yang baru mau 4 tahun membina keluarga, ada kalanya “mendung” terasa begitu tebal, sampai sesak. Meski lebih sering, awan putih, tak terlalu menutupi cerahnya langit… (halah.. deskripsi yang berlebihan dan gak jelas!)

Kesempatan merayakan ulang tahun perkawiann itu menurutnya. juga membuatnya bersyukur karena masih diberi kesempatan bersama dengan suaminya dalma keadaan sehat…

Meski sejak masa  mudanya, Linda telah sibuk dengan berbegai kegiatan, namun tak bisa dipungkiri, kanker telah mengubah pandangan hidupnya, dan sikapnya juga terhadap kehidupan… Bahwa hidup harus dimanfaatkan sebaik-baiknya utnuk orang lain.

tak hanya kanker sebenarnya, sebuah peristiwa besar, memang seringkali mengubah hidup seseorang.tak juga selalu ke arah positif. karena banyak juga yang sepajang hidupnya kemudian dikungkung oleh trauma dan fobia.

meski begitu, mendengar kisah Linda, yang kemudian ingin berbuat banyak bagi sesama karena merasa dapat kesempatan hidup kedua, saya jadi berpikir. Saya udah melakukan apa saja ya untuk orang lain?

Saya berharap, sekarang ini, dengan kesadaran akan potensi yang saya miliki, saya bisa segera menemukan misi saya di dunia ini untuk orang banyak….

semoga, saya tak perlu di “cubit” Tuhan untuk menyadari hal itu..

Jakarta, 24 November 2009

– terus bermimpi bisa beri bahagia untuk semua –