Happiness is a choice!!! Suatu pagi bersama Pak Sugeng

Suatu pagi, menuju sebuah tempat penyelenggaraan seminar, untuk memenuhi tugas kantor, saya menumpang sebuah taksi. Pak Sugeng, demikian nama sang pengemudinya. Ngobrol ke sana kemari, lumayan seru karena ternyata ia berasal dari Sleman Jogjakarta, tak terlalu jauh dari tempat ibu dan Bapak saya tinggal.

Dan sampailah pada topik yang lebih pribadi. Tentang dirinya dan keluarganya.

Pak Sugeng ini mengaku baru sekitar 6 tahun mengadu nasib di Jakarta. Tahun-tahun sebelumnya ia habiskan di Lampung, daerah yang ditaklukkannya sejak lulus SMA. Selama 14 tahun di Lampung itu, ia bekerja di sebuah perusahaan consumer goods besar. “Saya menjadi supervisor untuk bagian alat-alat pabriknya Mbak!” ceritanya.

Ia pun dengan tanpa ragu-ragu mengakui bahwa istrinya 6 tahun lebih tua dari dirinya. “Tapi itu memang sudah saya niatkan Mbak. Soalnya, dulu ibu saya meninggal waktu saya masih kecil. Jadi, saya benar-benar merindukan figure seorang ibu. Dan itu saya temukan dari seorang istri yang lebih tua dari saya,” terangnya lugas.

Jalan hidup mengharuskannya untuk pindah ke Jakarta, karena sang istri – pegawai di sebuah bank milik pemerintah – dimutasi ke Jakarta. “Saya enggak ingin anak-anak saya mengalami seperti yang saya alami Mbak, kehilangan kasih sayang seorang ibu ketika masih kecil,” katanya menjelaskan alasannya untuk meninggalkan pekerjaan yang bisa dikatakan cukup mapan, lalu berangkat ke Jakarta, menyusul sang istri yang sudah lebih dulu pergi ke Jakarta.

Dengan pengalaman kerja yang dimilikinya, di perusahaan ternama pula, mudahlah baginya mendapatkan pekerjaan lain di Jakarta ini. Namun, karena sesuatu hal, ia hanya bertahan 2 tahun di perusahaan yang baru itu, dan sejak 4 tahun lalu, ia menjadi sopir taksi.

Tergelitiklah hati saya untuk sedikit “protes”. “Pak dengan track record Bapak, saya yakin Bapak bisa dapet pekerjaan lain lagi. Di sekitar Jakarta, tangerang kan banyak pabrik juga Pak!” kata saya, dengan sedikit maksud memprovokasi.

Tapi, tertegunlah saya mendengar jawabannya, “Kayaknya, sekarang ini, saya milih jadi sopir taksi aja Mbak. Lebih nyaman…” Ia menyambung, “kalau soal uang, memang mungkin beda mbak. Dulu, saya bisa mencukupi semua kebutuhan anak dan istri saya, dengan mudah. Tapi, soal cukup atau enggak, itu kan tinggal kita menyikapinya saja…”

Tak ada yang bisa saya lakukan selain mengiyakannya. Dan kembali saya tersadar akan sebuah kalimat yang menyatakan bahwa “Happiness is a choice”.

Tak ada yang berhak mengatakan bahwa keluarga akan lebih bahagia ketika suami usianya lebih tua dari sang istri, sehingga bisa menjadi pemimpin keluarga yang baik. Nyatanya, Pak Sugeng bahagia dengan pilihannya.

Tak ada juga yang berhak bilang bahwa istri harus ikut suami. Karena nyatanya, Pak sugeng, dengan sadar memilih untuk ikut sang istri pindah ke Jakarta, demi kebutuhan psikologis anak-anaknya.

Tak ada juga yang berhak bilang bahwa seorang engineer lebih hebat dari sopir taksi, karena toh, pak sugeng, kini memilih jadi sopir taksi. Dan ia bahagia dengan itu semua…

Jakarta, 25 April 2010

Terima kasih Pak Sugeng, Bapak sudah memberi satu “warna” lagi untuk hidup saya.