Chandra Hamzah, Energi positif, dan Jurnalisme Positif

barusan nonton acara Mata Najwa..

judulnya Bibit – Candra, off the record

ketika sang  host acara menanyakan pada candra komentarnya tentang susno duaji, yang dikatakan sang host acara, mengutip ucapan banyak orang “From Zero to Hero”, Candra menjawab, “Bukankah memang seharusnya semua orang itu berusaha menjadi lebih baik?”

Wow! Jawaban yang hebat! Begitu komentar saya dalam hati…

Betapa tidak. Ketika tema pembicaraan menyangkut nama susno duadji, maka biasanya, kalimat-kalimat yang terdengar adalah, “Dia eggak mau lah namanya jelek sendiri. makanya, dia juga nyeret orang-orang”, atau “Emang dia sendiri juga bersih ap?” atau “Kartu mana lagi nih yang bakalan dibuka?” atau “sebenernya maksud Susno di balik aksinya itu apa sih?” atau “Jelas-jelas lagi bermasalah kok malah mau pergi berobat ke luar negri, ada maksud di belakangnya enggak sih?” dan seterusnya…dan seterusnya…
Semua punya kemiripan: sudut pandangnya negatif, dan memberi energi yang negatif juga tentunya.

Nah, ketika saya mendengar jawaban Candra dalam acara itu, “Bukankah memang seharusnya semua orang berusaha menjadi lebih baik?”, wow….

saya merasa – jika energi positif itu bisa tertangkap oleh mata – maka energi itu tengah melayang ringan memenuhi seluruh ruangan, menyebar terus ke segala penjuru.

Jika energi positif itu bisa terasa seperti angin, maka energi itu tengah berhembus pelan, memberi kesejukan, ke seluruh ruangan, dan menyebar terus ke segala penjuru.

Tapi, semua energi positif itu lenyap seketika ketika Najwa, sang host acara itu, menyahuti, “Kalau menjadi lebih baik, artinya tadinya jelek dong Pak?!”

Hhhhhh……!! Dan saya mendesah.

Apakah jurnalis memang selalu harus “mengadu” dua kutub?

Apakah seorang jurnalis baru bisa dibilang hebat kalau bisa “memancing” orang untuk menjadi lawan orang lain?

Huhhh…. saya mendesah lagi. Mendongkol, tepatnya…

Kenapa, sesuatu yang sudah membawa energi positif, harus “diarahkan” lagi menuju sesuatu yang negatif?

Meski saya tak tahu secara pasti, apakah Chandra benar-benar orang yang bersih, apakah Susno juga benar-benar ingin menjadi orang yang lebih baik, ke mana kasus ini akan menuju, dsb..dsb…

Bukankah dunia akan jadi lebih indah, ketika kita membiarkan energi-energi positif berletupan di sekitar kita, tanpa mengintervensi, tanpa membandingkan, tanpa memberi penilaian, tanpa saling memperhadapkan?

Dan, saya sangat yakin, bahwa jurnalis, atau media, secara lebih luas, sebenarnya bisa menjadi pembawa letupan-letupan positif itu….

Jakarta, 5 Mei 2010

(salut buat jawaban Anda Pak Chandra Hamzah!)