Kita ingin dikenang sebagai apa ketika sudah tiada?

 



Pagi tadi di gereja, seorang Romo tamu menukilkan sebuah kisah di awal khotbahnya:

Alfred Nobel, seorang ilmuwan yang lahir tahun 1833, pernah mengalami seuatu kejadian yang mengesankan dalam hiudpnya. Suatu hari, adiknya meninggal dunia. Alangkah terkejutnya ia, ketika membaca surat kabar yang ternyata memberitakan hal yang salah tentang kematian adiknya. Karena di situ tertulis bahwa ia, alfred Nobel-lah yang telah tiada. Tak sekadar mencantumkan nama, seperti surat kabar pada umumnya, ditulislah sekilas mengenai siapa orangyang meninggal dunia itu. Di surat kabar itu (kira-kira) tertulis demikian: “Alfred Nobel, penemu amunisi, senjata untuk pemusnah kehidupan, telah meninggal dunia hari ini.

Tersadarlah ia, bahwa seperti itulah orang akan mengenang dirinya ketika ia telah meninggalkan dunia. Dan ia tak ingin itu terjadi. Karena kejadian itulah, nobel menyumbangkan seluruh hartanya untuk mendirikan sebuah lembaga yang memberikan penghargaan kepada orang-orang yang punya jasa besar untuk kehidupan manusia, dan memperjuangkan perdamaian.

Dan ia berhasil. karena nyatanya, sekarang ini, (setidaknya untuk saya), namanya tak identik dengan amunisi, tapi ia dikenang sebagai orang yang peduli pada usaha keras orang lain untuk menciptakan sesuatu demi kemanusiaan….

Entah benar atau tidak cerita ini, tapi yang jelas kotbah hari ini, menusuk tajam di hati.

Ya, karena hari ini, tepat 31 tahun aku mendapat anugerah besar dari Tuhan untuk menikmati hidup.. Seperti biasa, momen seperti, mau tak mau membuatku ingat untuk bersyukur (bukan biasanya gak inget ya, tapi kelupaan, heehehe….).

Selain bersyukur, tentu hari ulang tahun sangat pas dipakai untuk mematok sebuah niat baru, untuk memperbaiki hal-hal buruk di masa lalu, dan membuat janji untuk jadi lebih baik.

Tapi hari ini, aku pun harus mengingat bahwa semua ini hanya sementara. akan ada saatnya udara dunia ini tak bisa lagi kuhirup, peluk dan cium dari orang-orang terkasih dan handai tolan pun tak lagi bisa terasa, termasuk pesan-pesan di wall FB yang penuh cinta, seperti hari ini, mungkin tak lagi bisa kubaca…. dan yang pasti, harta benda, tak lagi berguna.

Dan ketika itu terjadi, maka, tentu saja, aku ingin diingat sebagai seorang yang menyumbangkan “keindahan” untuk dunia…

Tapi yang terpenting,

Ya Tuhanku, meski (mungkin) nanti aku tak sehebat Alfred Nobel, yang dikenang seisi dunia, tapi kuingin Kau tahu,

bahwa semua doa dan mimpiku,

semua karyaku,

semua keputusan yang kubuat,

semua hal yang kulakukan untuk orang-orang di sekitarku, yang kukenal dan tak kukenal,

semua cinta yang kucurahkan untuk orang-orang yang kusayang,

semua hal yang kulakukan untuk Lintang, lelaki kecilku, hadiah indah dariMu, yang membuatku belajar banyak tentang kesabaran, tentang melupakan diri sendiri untuk diberikan untuk orang lain, tentang prioritas, tentang cinta, dan tentang kehidupan..

Semua keringat, otak, dan waktu, yang kuperas untuk masa depanku dan keluargaku,

Tak kumaksudkan hanya untuk membuat hidupku lebih hebat,

Tapi juga untuk membuat hidup dan duniaku lebih indah,

sehingga kelak pantas kupersembahkan untuk-Mu…

 

by: Veronica Sri Utami

 

14  November 2010. Hari ini. 31 tahun sejak aku meninggalkan rahim ibuku.