Berita publik VS Masalah Pribadi

By: veronica Sri Utami

(Tulisan ini dibuat sebagai reflection paper untuk kulia Media Relation Oktober 2010)

Membaca artikel pendek “Kasus Ariel – Luna dan Etika Wartawan” yang ditulis oleh Andi Fadli, membuat saya teringat pada sebuah acara di TVOne beberapa waktu lalu. Dalam acara tersebut, host acara, Alvito Deanova, mewawancarai Da’i kondang,KH. Abdullah Gymnastiar, atau yang dikenal sebagai AA Gym.

Alvito menanyakan, mengapa pada suatu kesempatan AA Gym pernah memarahi wartawan yang mencoba mencari informasi darinya, tentu saja berhubungan dengan masalah dalam keluarganya. Saat itu AA Gym mengatakan bahwa inti dari tindakannya hanyalah agar jurnalis tidak terlalu ikut campur masalah pribadi orang lain. “Jangan kehidupan pribadi orang dijadikan komoditas,” begitu katanya.

Kata-kata AA Gym ini sangat “pas” menurut saya. Melihat berita-berita belakangan ini, khususnya berita tentang para selebritas, sangat terasa betapa kehidupan pribadi seseorang “dijual” demi rating. Mulai dari berita diva K yang bercerai dengan suaminya A, karena (dikatakan) berselingkuh dengan R. Atau artis P yang telah beberapa waktu menduda, kini terlihat dekat dengan seseorang, dan pada kesempatan berikut terdengar berita bahwa mantan istri P tidak terlalu setuju jika P menikahi wanita  yang kini tengah dekat dengannya itu, dengan berbagai alas an. Semua hal pribadi itu, kini telah menjadi konsumsi publik, yang tersiar dengan bebasnya.

Jika kita melihat kode etik jurnalistik hasil kongres XXII PWI di Nangroe Aceh Darusalam, pada 28 – 29 Juli 2008, bab II tentang  cara pemberitaan dan menyatakan pendapat, pasal 6, yang mengatakan bahwa “Wartawan Indonesia menghormati dan menjunjung tinggi kehidupan pribadi dengan tidak menyiarkan karya jurnalistik (tulisan, suara, serta suara dan gambar) yang merugikan nama baik seseorang, kecuali menyangkut kepentingan umum.” Tentu bisa dikatakan bahwa yang terjadi sekarang ini sudah sangat keluar jalur.

Semua pihak, mulai dari jurnalis, pemilik media, juga orang-orang yang bergelut di dunia entertainment seharusnya bersama-sama berusaha untuk mengembalikan berita dunia selebritas ke jalur yang benar. Jika perlu, aturan keras seperti yang pernah diberlakukan oleh pemerintah saat melarang maraknya lagu-lagu “cengeng” beberapa puluh tahun lalu, perlu dilakukan untuk memperbaiki keadaan semakin kacau selama ini.

 

Referensi:

http://www.gemari.or.id

“Kasus Ariel Luna dan Etika Wartawan”, Fadli, Andi. Tribun Timur, Juni 2010.

KODE ETIK JURNALISTIK PWI