TITIK NOL

X: “Maaf ya mbak, sepertinya kami akan mengembalikan naskah mbak…”

Y: “Loh, bukannya sudah ada kontrak, sudah dibuat ilustrasinya, tinggal lay out ya?”

X: “Iya mbak, tapi karena ada masalah intern, ada perubahan kebijakan dalam penerbitan buku baru…”

Y: *speechless*

…………………………………………………………………………………………………………………………………………

X: “Harusnya memang 9, tapi tinggal 5 karena yang lain mati”

Y: “Kok bisa mati segitu banyak sih?”

X: “Ya gimana ya….”

Y: *speechless*

………………………………………………………………………………………………………………………………………..

X: “Sudah dijual. Lakunya Rp *********”

Y: “Loh kok cuman segitu? Bukan 1-nya bisa ***-an ribu ya?”

X: “itu dulu, sekarang lagi murah…”

Y: *speechless*

…………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Speechless…. reaksi itulah yang seringkali muncul ketika apa yang kita inginkan, kita harapkan tak tercapai, lalu kita mencoba menggugat, mencari apa penyebabnya. Dan, ketika sudah ditemukan, faktor penyebab situasi itu berada jauh, jauh, jauh, di luar batas kendali kita.

tak ada yang bisa dilakukan (atau tepatnya, atak tahu apa yang harus dilakukan), selain ……..diam.

itulah yang terjadi.

Ketika sebuah naskah yang saya buat, saya kirimkan ke sebuah penerbit, diterima dengan respons yang sangat positif, dilakukan pembicaraan, perjanjian, proses kerja, yang semuanya mengarah ke sesuatu yang positif, yang memang saya harapkan dan impikan, saya lupa………

bahwa segala sesuatu bisa terjadi: editor senior yang sejak awal tertarik pada tulisan saya dan punya rencana-rencana besar untuk naskah saya selanjutnya tiba-tiba memutuskan pensiun dini, sehingga kelanjutan proses naskah saya tak semulus awalnya, atau ketika maslaah keuangan melanda semua lini bisnis di Indonesia, termasuk perusahaan yang akan menerbitkan naskah itu, sehingga kelanjutannya jadi tak jelas bagaimana….. atau…. dst.. dst…

intinya, saya lupa, ada sang MahaKuasa yang sanggup memutarbalikkan segala.

Hal yang sama terjadi, ketika saya mencoba peruntungan saya yang baru, merawat, meng-anakpinakkan salah satu makhluk hidup ciptaan Tuhan. Ketika satu bertambah menjadi dua, menjadi tiga, menjadi empat, dan seterusnya. Ketika tubuh mereka menjadi lebih besar, lebih besar, dan lebih besar lagi, banyak mimpi beterbangan di benak saya, berharap mereka bisa memperindah hidup dan masa depan saya dan orang-orang di sekitar saya. Sayangnya, saya lupa….

bahwa segala sesuatu bisa terjadi. termasuk murkanya sang Merapi. yang meski tak menyentuh Bapak dan ibu saya di ujung barat Jogja sana, namun efeknyamenurunkan semua harga semua ternak yang berasal dari daerah yang bernama Jogjakarta. Dan itu termasuk yang milik kami, yang justru menjadi sangat rendah nilainya, di saat kami benar-benar sedang membutuhkannya…

intinya, saya lupa, ada sang MahaKuasa yang mengatur segala….

KEMBALI KE TITIK NOL…..

itulah sebuah kalimat yang beberapa hari ini menjadi penghias akun situs pertemanan yang saya miliki.

Meski “nol” adalah sebuah bilangan terkecil dari deretan angka-angka lain, tapi saya tidak menganggap apa yang sedang saya lakukan berarti mundur, atau mengkerdilkan hidup dan mimpi yang saya punya….

karena “nol” juga akan punya arti yang sangat besar, ketika ia diletakkan di belakang angka lainnya. 1 juta bisa jadi 10 juta karenanya. 100 juta bisa jadi 1 M hanya karena tambahan satu angka “nol”, bukan???

“kembali ke titik nol” sesungguhnya (baru) saya sadari, sebagai fase yang selama ini saya lupakan, karena asyik bermimpi, karena terlalu bersemangat melompat dari satu tangga ke tangga lain mimpi kehidupan.

“Titik nol” adalah sebuah area yang “bukan saya pemiliknya”….

tempat saya seharusnya meletakkan mimpi-mimpi yang  saya buat, dengan segala usaha yang saya kerahkan untuk mencapainya…

tempat saya seharusnya menyerahkan hidup dan semua mimpi saya, dan membiarkan Dia, Sang Maha Segala, yang mengaturnya untuk untuk hidup saya…

Sehingga, ketika apa yang saya harapkan tercapai saya tak jadi besar kepala,

dan ketika semua mimpi itu tak jadi nyata, saya pun tak terhempas, kecewa, dan putus asa….

karena semua telah saya letakkan dalam tangan-Nya, sang pemilik Titik Nol saya, yang pasti akan mengatur yang terbaik untuk hidup saya……

April 2011

By: Veronica Sri Utami

*Semoga sejak detik ini, aku tak lupa untuk meletakkan semua kembali ke titik NOL*