Andai aku jadi Kak Seto… (Ketika kulihat anak itu ketakutan melihat ibunya)

telah dipublish di http://veronicasriutami.blog.friendster.com/2009/05/andai-aku-jadi…melihat-ibunya

pagi tadi, ada sebuah pemandangan yangtak sengaja kulihat, yang menusukhatiku, cukup dalam.

Awalnya, kudengar sebuah suara anakkecil yang sedang memanggil-manggil,entah siapa. Karena ingin tahu, refleks aku menoleh.

Ternyata di samping angkot yang sedangkutumpangi, seorang anak kecil

berseragam SD, sedang memanggil ibuatau kakaknya yang ada di seberang

jalan.

Kedua orang yang berusaha dipanggilnya tampak tak bergeming, karena merekaberdua tengah sibuk membereskanbarang-barang di kios kecil mereka.

Tak hanya itu, deru kendaraan yang takhenti-hentinya melintas pastinya lebih mendominasi daripada suara si anakkecil itu.

Karena teriakannya tak direspons oleh orang yang dimaksudnya, maka si anak kecil itu memutuskan untuk menyebarang jalan untuk menghampiri orang yang dipanggilnya.

Jalan di depannya sedang macet, maka mudah saja baginya untuk melangkah melewati barisan mobil, termasuk angkotku, yang sedang berhenti menunggu saatnya maju lagi.
Sayangnya, setelah melewati ujung kanan depan mobil yang berhenti itu, dia lupa bahwa ada kemungkinan sepeda motor berkecepatan tinggi akan melintas mendahului mobil2 yang berhenti itu, jika lajur yang berlawanan arah longgar.

Dia hanya ingat bahwa setelah melewati barisan mobil itu, ia harus segera menengok ke kiri, untuk melihat apakah ada kendaraan lewat dari arah kirinya. Dan, benar saja, saat ia menengok ke kiri, dari sebelah kanannya terlihat sebuah sepeda motor yang melesat cepat, dekat sekali dengan tubuh kecilnya!!

HupS! untunglah pada detik yang sama si anak kecil itu melangkahkan kakinya ke seberang, karena tak ada kendaraan dari sisi kirinya. Dan…selamatlah ia.

Meski tak ada sesuatu yang terjadi pada anak itu, tetaplah di dadaku ada desiran berat, yang menunggu utnuk dihela agar memberi kelegaan. Takut..kaget…dan lega.. semua menumpuk, menunggu dilepaskan!

Segera kutengok lagi si anak yang sudah sampai di seberang jalan. Melihat apa respons ibunya, karena aku tahu pasti, sang ibu ikut menyaksikan adegan itu.

Tapi yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaanku. Dan, sungguh membuat hatiku ikut terluka bersama si kecil itu.

Bayangkan saja, ketika si kecil itu merasakan kelegaan luar biasa karena berhasil menyeberang sendiri, tanpa bantuan orang dewasa, bukan sambutan rangkulan hangat sang ibu yang ia terima, tapi justru teriakan caci maki, tak jelas, yang mungkin membuat heran si kecil itu.
“Loh, Aku bisa nyebrang sendiri kok, malah dimarahin?”

Tak hanya itu, tangan sang ibu pun tak ragu maju ke arah kepala anak kecil itu, dan mendorongnya ke belakang tanpa ampun.
“Loh, salah apa sih aku?” begitu mungkin pikir si kecil. Karena dari pengamatanku tadi, ia memang tak sempat melihat motor yang datang dari arah kanannya, sehingga mungkin ia juga tak tahu bahaya yang sudah berada tak lebih dari 10 senti darinya..

Makin terluka hatiku, melihat ekspresi anak itu yang begitu bingung dan ketakutan melihat ibunya.
Menengok kanan-kiri, mengharapkan bantuan dari orang-orang yang ada di dekat kiosnya.
“Duh Gusti… Lindungilah si kecil itu dari berbagai perasaan negatif yang mungkin mempengaruhi jiwanya yang sedang berkembang…”

Ingin rasanya, aku turun dari angkotku, atau setidaknya membuka jendela lebar-lebar, lalu berteriak pada sang ibu. “Bu, jangan begitu memperlakukan anakmu!!”
Tapi, rasanya tak mungkin. Melihat emosi sang ibu yang membara, aku tak yakin ada kata-kata positif yang bisa masuk dalam otak dan hatinya. Apalagi dari aku, orang yang tak dikenalnya, yang belum pernah dilihatnya, bahkan tak punya reputasi sedikit pun dalam dunia pengasuhan anak, kecuali sebuah gelar di belakang namaku, S.Psi, yang mungkin bisa sedikit dibanggakan dan jadi senjata untuk sedikit tahu cara mendidik anak yang benar.

Aku yakin, sebenarnya sang ibu merasakan kelegaan yang sama dengan yang kurasakan ketika anak itu berhasil menyeberangkan kakinya ke sisi jalan. Tapi, aku tak habis pikir, kenapa jusru perlakuan itu yang dia berikan pada anaknya.

Mungkin salahku, berharap terlalu banyak dari sang ibu…

aku berharap, anak itu mendapatkan rangkulan penuh sayang dan kelegaan dari sang ibu, yang dengan suara lembutnya lalu berkata.
“nak, boleh saja kamu menyeberang sendiri, tapi kalau jalan ramai seperti ini, lebih baik minta tolong ibu atau kakakmu…”

Atau, “Nak,seharusnya tadi, setelah kamu melewati mobil2 yang sedang macet itu, kamu lihat juga, apakah ada motor yang lewat. Soalnya, motor itu kan bisa nyelip-nyelip di samping mobil yang berhenti. Jadi besok, kamu berhenti dulu ya di dekat mobil yang berhenti itu, lalu lihat lagi ke sebelah kanan, kalau sudah kosong, liat juga sebelah kiri, apa ada kendaraan dari arah sebaliknya. kalau semua sudah kosong, baru menyeberang.”

Bukankah kata-kata itu terdengar lebih melegakan? Lebih penuh cinta? Dan, lebih menyenangkan dan menambah ilmu untuk seorang anak yang sedang berkembang?

bandingkan dengan toyoran di kepala, juga kata-kata kasar yang dilontarkan sang ibu..
Apa yang akan dipelajarinya?
Mungkin, “Berarti lebih baik aku gak usah coba-coba menyeberang sendiri lagi besok!”
Mungkin juga, “Kenapa aku dikasih Tuhan ibu yang galak seperti dia ya? Perasaan aku sering lihat temen2ku nyebrang jalan sendiri juga gak diteriak-teriakin seperti ibuku.” (Duh, sedihnya..)
Bahkan bisa juga “Oh..berarti menoyor kepala orang kala kita sedang sebal, tak suka, atau marah itu diperbolehkan..” (Tapi apa yang terjadi ketika sang ibu melihat anak kecil ini di hari-hari selanjutnya menoyor temannya ketika ia merasa tak suka, marah, atau tak setuju dengan yang dilakukan temannya? Hmm…bisa Kau tebak sendiri)

Hah… sedetik itu, langsung terlintas dalam benakku ,
“Seandainya aku jadi seorang kak Seto”

Yah,kalau wajahku sudah sering muncul di TV, di koran, dan majalah, dengan reputasi yang dikenal luas sebagai pelindung hak anak, pecinta anak, psikolog anak, bla..bla…bla…
maka tak akan ragu-ragu aku untuk turun dari angkot (eh, kalau sudah sekaliber Kak Seto mah udah gak pake angkot lagi ya! Hehehe….), menghampiri sang ibu, dan mengatakan bahwa bukan begitu cara mendidik anak yang benar. Bisa kubayangkan ekspresi wajah sang ibu yang tadinya begitu garang memukul, mendrong kepala anaknya, dan meneriakinya dengan berbagai sumpah serapah, ketika tiba-tiba melihat sosok “sang pecinta anak” itu dihadapannya.

Kalau aku sudah dipercaya orang, punya ilmu cukup tentang pengasuhan anak, tentu aku punya kesempatan lebih banyak dan lebih luas untuk mengatakan kepada banyak ibu dan bapak, untuk memberikan contoh positif, dan terutama perasaan positif sepanjang perjalanan perkembangan hidup anak-anaknya. Agar dendam, sakit hati, kebencian, dan hal-hal negatif lain yang mungkin mengganggu hatinya ketika mendapatkan perlakuan yang tak menyenangkan, tak menghambat perkembangannya untuk menjadi manusia seutuhnya kelak…

Hah…. semoga Tuhan mendengar harapanku ini, dan memberiku jalan…
untuk belajar lebih banyak tentang pengasuhan anak yang baik, agar kelak aku pun bisa membagikannya pada banyak orang tua lain.
Agar dengan demikian, tak ada lagi anak yang terluka hatinya.
Semua bahagia………

Dan sekarang ini, aku akan belajar sendiri dengan menjadi orang tua terbaik buat Lintang, anakku sayang..

“Kasih tahu ibu ya Lintang, kalau ibu membuat hatimu luka, biar ibu belajar jadi lebih baik”

Jakarta, 26 Mei 2009

“Kala kulihat anak kecil itu ketakutan melihat ibunya..”