bahagia bisa didapat di mana saja

di perjalanan pulang tadi, ada pemandangan yang menarik mata (dan juga hatiku) untuk melihat dan mengamatinya.
Dua orang lelaki, pegawai sebuah tempat pencucian motor kecil, sedang asyik bermain bola.
Berpura-pura main bola tepatnya.
Bagaimana tidak, “bola” yang mereka gunakan adalah sebuah botol plastik, mungkin bekas oli. Dengan bentuk persegi di bagian dasarnya, yang mengerucut dan menyempit di bagian atasnya. Sama sekali jauh dari sifat bola yang seharusnya bulat itu kan?
“Gawang” mereka pun, cukup sederhana, hanya sebuah gawang pintu, yang memisahkan pelataran semen – tempat mereka biasanya menunaikan tugas membersihkan motor para pelanggan – dengan ruangan yang biasanya diduduki (loh, kok terdengar seperti penjajah?) oleh sang pemilik tempat cuci motor itu, menunggu laci penuh lembaran uang kumal, dengan jejeran oli, cairan pembersih motor, dan entah apa lagi perangkat sederhana untuk motor lainnya. Bayangkan sebuah pintu, yang bentuknya memanjang ke atas. bagaimana dengan gawang sebenarnya? Seharusnya bentuknya melabar bukan? Mungkin mereka justru menganggap gawang yang memanjang ke atas lebih menantang, karena tingkat kesulitannya yang lebih tinggi…
Lapanganya tentu juga tak berwarna hijau segar, yang bsia memanjaka mata. Justru sebaliknya, pemandangan “lapangan bola” ini tak bisa dibilang indah. Tempat cucimotor ini terletak di sisi sebuah jalan kecil, yang hanya pas dilewati dua kendaraan, yang menjadi sumber kemacetan di setiap pagi, dengan aspal yang penuh lubang di sana-sini. kanan-kirinya adalah jajaran warung-warung kecil yang tak terlalu bersih (kalau tak boleh disebut kumuh). Motor, mobil pribadi, truk, dan angkot tak pernah absen melewatinya, sehingga terbayang betapa besar polusi yang memenuhi udaranya.
Bagaimana dengan sepatunya? Tentu saja bukan sepatu bola, dengan tonjolan-tonjolan aneh di bagian bawahnya. (Maaf ya, kubilang aneh, karena aku tak tahu apa maksud tonjolan itu berada di sana,please tell me if you know). Mereka hanya memakai sepatu boot karet yang biasa mereka pakai ketika mencuci motor para pelanggan, agar bagian bawah celana panjang mereka tak basah (meski bagian atasnya pasti tetap basah).
Seragamnya un hanya kaos dan celana yang mereka pakai saat menunaikan “tugas”.

Tapi, ada satu hal yang dapat saya lihat dengan jelas di wajah mereka.
ialah: keceriaan!
tanpa memikirkan apa bentuk bolanya, bentuk gawangnya, betnuk lapangannya, dan sepatu apa yang mereka gunakan, dua lelaki itu tetap bersemangat menjalankan perannya untuk mengarahkan “bola” kotak itu ke gawang lawan, sekaligus mempertahankan gawangnya sendiri.
Mereka tak peduli ratusan pasang mata pengandara motor, mobil, juga penumpang angkot (seperti aku), yang mengarah pada mereka, dua  lelaki yang tak bisa lagi dibilang anak atau remaja.
mereka terlihat begitu asyik!
begitu ceria!
begitu bahagia!

ah, tersadar aku, bahagia memang bisa ada di mana saja…

bahkan sedetik saat aku melihat keceriaan dan semangat di wajah mereka berdua, sebersit rasa bahagia juga singgah di hatiku…

27 April 2009

*pernah di publish di veronicasriutami.blog.friendster.com*

setelah melihat orang menyebarkan bahagia dengan main “bola”…