Bang, anak saya di rumah masih kecil!!!

pernah dipublish di http://veronicasriutami.blog.friendster.com/2009/08/bang-anak-saya…ah-masih-kecil/

“Bang, anak saya masih kecil!!!”

itulah kalimat yang saya teriakkan ke abang sopir angkot kemaren sore. Cara

nyetirnya benar-benar ugal-ugalan(sebenarnya ini kata yang saya gunakan

untuk memperhalus ungkapan “gila” yangsebenarnya lebih pas untuk

menggambarkan caranya menyetir angkot).

Bagaimana tidak? Kalau biasanya, para pengendara menggunakan jarak beberapa  puluh centi di antara mobilnya dan mobil orang lain, demi keamanan, bangsopir ini cuma mau memberi 1 centi! Betul-betul cuma 1 centi!

jadi, bayangkan, bagaimana kami, para penumpangnya, selalu terlempar ke depan,ketika bang sopir ini sedang mengerem mobilnya karena mobil di depannya sedang melambatkan laju.

DAn itu tak hanya untuk posisiberhenti. Ketika dia ingin menyalip kendaraan di depannya, dia pun menggunakan 1 centi itu untuk jadi ancang-ancang, sebelum kemudian membanting stirnya ke kanan, dengan sangat cepat, hingga tubuh kami punikut terlempar. Setelah terdorong kedepan, lalu segera saja terhempas kekiri, lalu ke kanan. Bayangkan!!

Kami, 3 orang ibu-ibu, yang jadipenumpang angkot itu, hanya bisa saling berpandangan, sambil mencengkeram erat bangku di dekat kamimasing-masing, tentu saja dengan wajah penuh khawatir..

sampai, menjelang sebuah pertigaan, angkot kami ini sepertinya ingin menyalip mobil di depannya. “Tapi didepan itu kan pertigaan, gimana kalau tiba-tiba ada mobil dari arah kanan,yang menuju arah kami?” begitu pikirku dalam hati.

Dan benar saja, setelah angkot kami  punya jarak 1 centi dengan mobil di depannya, lalu segera dibanting ke kanan, pada saat bersamaan, terlihathidung sebuah taksi biru dari arah berlawanan.

Kontan, kami, 3 ibu-ibu ini berteriak.”Aduh bang!! Awass!!!!” satu ibu, yangduduk di depan, di samping pak sopir, hanya bisa membaca-baca doa, sambilmenahan napas.

Dan tahukan kau bagaimana reaksi siabang sopir ini? Dengan tenangnya iamengerem (tentu saja dengan jarak 1centi saja dari taksi itu), lalu, masihdengan tenangnya juga, ia mencoba berbelok kiri, untuk mendahului mobil yang sebelumnya ingin disalip, padahal jika itu dilakukannya si mobil kami dan mobil lain itu pasti akan saling bergesekan..

Jadilah, di tengah teriakan kami menyumpah-nyumpahi si abanga sopir yang gila! (Fiuuu..uh! akhirnya, bisa juga kulontarkan kata ini untuk bang sopir angkot itu!), diiringi juga dengan bunyi klakson panjang, yang (pastinya)dibunyikan dengan penuh emosi dan kekesalan oleh sang pemilik mobil yangingin disalip si abang angkot ini.. Ampuuu…uunn!!!

satu per satu, ibu-ibu, teman di angkotku turun. TInggal aku sendiri.Sebenarnya pengen juga ikutan turun,  pindah angkot lain. Tapi sudah agakmalam, dan kalau harus ,menunggu angkot lain lagi, aku gak yakin apakah bisasampai rumah. (soalnya, angkotku ini punya aturan khusus, mereka jalan pun diatur, gak mungkin saling mendahului,dan kalau lebih dari jam 7 malam mereka terikat perjanjian juga dengan para tukang ojek, sehingga harus berhenti di seuatu temapt, yang masih agak jauhdari rumahku. Kalau mau pulang, harusmau diantar tukang ojeg, denganbiaya 10ribu. Duh!)

So…, meski ketakutan, aku tetapmeneruskan perjalannku bersama sopirangkot gila ini.berharap, sang sopirsudah semakin kalem..

nyatanya…enggak!!

Duh, justru tampaknya makin gila! salip sana, salip sini, sesukanya..sampai akhirnya, ketika dia kurasamakin gila, berteriaklah akusekencang-kencangnya, “Bang! Anak sayamasih kecil di rumah!!! gak usah ngebut!!!”

Dan, dia sepertinya sama sekali takbertelinga. Tak juga menurunkankecepatan, atau memperhalus gerakan  kemudinya.

Berada dalam situasi semacam itu,selama beberapa detik sempat jugamembuatku berpikir, “kalau matisekarang, gimana ya??” Hm..susah jawabnya ternyata. Tapi, yang paling mendominasi sebenarnya adalah  ketidakrelaanku jika Lintang, lelaki kecilku, harus kehilangan kesempatannya dibesarkan oleh seorang ibu, hanya karena ketololan (waduh, kayaknya puassaya mengeluarkan sumpah serapah dipostingan kali ini ya!) sopir gila itu.

Ya, meski dari beberapa buku yangkubaca, seperti “Celestine Prophecy”.”Reincarnation”, “Shambala”, dan sebagainya, kematian itu kan sebenarnya hanya perpindahan jiwa. dan ada saatnya nanti, jiwa kita itu akan dikirim  kembali ke bumi, sehingga  masih mungkin bertemu lagi dengan anak kita,suami kita, atau orang-orang yang dekatdengan kita sekarang, tentu saja dalamrupa dan jenis hubungan yang mungkinberbeda.

Tapi, yang namanya mau pergi. Jangankanpergi ke dunia yang lain, pergi keluar kota saja sudah meninggalkan rasa”berat” untuk meninggalkan suami dan anak di rumah, meski kita tahu, dalambeberapa hari kita akan kembali..

kemabli ke si abang angkot. Pengen rasanya, ketika aku turun dari angkotdan mengulurkan uang ongkos, sekalian bilang ke abang sopir, “Kalo mau matijangan ajak-ajak orang dong bang!”.tapi untunglah bisa kutahan. karena,rasanya, kok aku jadi ndoain orang buat mati ya! Dan, jangan-jangan, alamsemesta mendengarnya. Aduh, gawat!!

jadi, kubayarkan saja ongkosku dengan diam seribu bahasa. dan ketika kulihatwajah sang supir, sama sekali memangtak kulihat wajah penyesalan atau rasabersalah di wajahnya..

ya sudahlah… mungkin dia memang takbersalah…

mungkin aku saja yang terlalu menuntut  orang lain untuk berhati-hati, atausangat berhati-hati seperti mauku..

Dan, mungkin saja, sudah jadi”tugas”-nya, untuk memberikan”pengalaman di ujung kematian” semacam itu, bagi para penumpangnya, sehinggakami sempat berpikir sejenak tentangkematian, tersadar, lalu jadi ingatuntuk bersiap-siap…

karena memang, di angkotku selanjutnya,yang berjalan dengan sangat halus,kalem, tenang, nyaman, dan aman (thanks God tak semua sopir ugal-ugalan…),aku jadi menghabiskan waktuku dengan berpikir tentang kehidupan. Dan mencoba mencari semakin dalam tentang tujuanku diciptakan di duniaini,dan misi apa yang sesungguhnya kubawa untuk umat manusia di seluruhdunia….

Tentang segala hal yang harus kulakukan dalam kehidupanku yang masih tersisa,sehingga kelak bisa meninggalkannya dengan tenang dan bahagia…

Jakarta, 25 September 2009

By: Veronica Sri Utami

Setelah sebuah pengalaman mendebarkan di angkot..