Belajar Kehidupan dari Angkot Jagung-Gintung

Tak cuma kereta api yang berhenti di setiap stasiun. angkot Pondok Jagung-Gintung yang mengantarku setiap hari dari rumah ke kantor juga punya stasiun pemberhentian loh..

pemberhentian pertama, sekitar perempatan pondok kacang.

di sini, seorang lelaki berperawakan kurus, yang tidak bisa dibilang muda lagi mengulurkan sebungkus tisu berwarna biru, sambil memberitahu angkot mana yang lewat sebelumnya.

Hebat juga sopir-sopir angkot ini, pikirku. cukup menjaga kebersihan. Bandingkan saja dengan sopir bis kota yang biasanya mengunakan selembar handuk kecil, yang warnanya sudah tak jelas lagi aslinya. selesai digunakan, dilembarkanlah ke dashboard yang tentu saja penuh dengan debu, tumpahan olie,dsb. lalu, sebentar lagi dipakainya mengelap wajah dan lehernya lagi. hiii….

nah, kalau tisyu…pasti lebih bersih. paling tidak, hanya sekali pakai. hebat kan sopir angkotku!🙂

Perhentian kedua: pjokan sekolah Pembangunan Jaya

kali ini, perhentiannya berupa sebuah kios koran. dan tanpa diminta seorang berperawakan tegap yang selalu berkacamata hitam (penasaran juga sebenarnya,ada apa di balik kaca mata hitamnya itu?), akan memberikan satu eksemplar koran terbaru. Herannya, dia seperti sudah tahu sopir yang ini suka Lampu Merah, sopir yang itu, sukanya Sindo, yang lain suka TopSkor, dan ada juga loh, yang korannya KOMPAS!!

yang mengherankan lagi, sopir-sopir ini tak pernah kulihat membayar korannya (tapi mungkin juga sistem langganan ya, jadi bayarnya nanti akhir bulan)

kesimpulannya, kalau mau punya sopir angkot yang up to date ama berita, dan berwawasan luas, naiklah angkot Jagung-Gintung!! halah, kenpa aku seperti pemilik angkot???

perhentian ketiga: Zodiak

aku sendiri, meski sudah hampir 5 bulan naik angkot ini setiap hari masih belum taku kenapa tampat ini disebut sebagai zodiak. tidak ada satu pun bangunan yang bernama zodiak. tidak ada kulihat tulisan zodiak, sampai akhirnya nebak-nebak aja, mungkin tempat ini pernah jadi tempat mangkalnya tukang ramal bintang zodiak.🙂

Letaknya di sebuah perempatan dengan lampu merah yang meskipun aktif, tapi hampir tak pernah dipatuhi pengguna jalan. jadi ya serobot sana serobot sini, dan macet!

di tempat ini tak ada transaksi, baik tisyu atau koran. sang sopir hanya berhenti, berharap dapat penumpang (=”sewa” dalam kosa kata mereka)banyak. terkadang terjadi sodok-sodokan. yang depan masih ngetem, yang belakang minta jatah waktu…

perhentian ke-4: depan Bintaro Plaza

di sini ada seorang bapak, yang dengan sigap membagikan teh panas, atau kopi, atau susu dalam kantung plastik ke para sopir angkot ini. yah…minuman di pagi hari….

Nikmat…..

perhentian ke-5: sebuah jalan sempit di MABAD

di sini setiap angkot yang lewat dapat sebotol AQUA. kalau sopirnya cukup ramah, ada waktu 1-2 detik untuk ngobrol atau sekadar saling mencela), tapi kalau sopir angkotnya pendiam ya langsung tancaaa…p!!

setelah kelima perhentian itu, angkot D09 ini tak akan berhenti-berhenti lagi sampai tujuan akhirnya: Gintung! (tentu saja kalau ada penumpang yang menyetop dia akan berhenti dengan senang hati)…

Perhentian-perhentian itu bentuk premanisme tersembunyi atau bukan, aku tak tahu. (soalnya, agak aneh juga, kenapa semua sopir mesti beli tisu? )

tapi yang jelas, ada pelajaran penting yang bisa kuambil:

“Setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing, dan setiap orang berkontribusi terhadap kehidupan orang lain dengan caranya masing-masing.”

tukang tisu, tukang koran, tukang teh anget, dan tukang aqua mendapatkan rejekinya dari sopir angkot, sopir angkot dapet rejekinya dari penumpang seperti aku, penumpang sepertiku dapet rejeki dari ….., dst!

Jadi, rejeki itu berputar kawan! jangan takut tak dapat bagian!!

smile!!🙂

*pernah dimuat di http://veronicasriutami.blog.friendster.com/2008/09/belajar-kehidu…jagung-gintung/