Berada di rumah 24 jam tak selalu berarti menjadi seorang ibu 100%

pernah di publish di  http://veronicasriutami.blog.friendster.com/2009/04/berada-di-ruma…eorang-ibu-100/

itulah kesimpulan yang kudapat malam tadi, setelah sebuah diskusi singkat bersama suamiku…

Bukan diskusi sebenarnya, karena kami sedang membicarakan keprihatinan kami terhadap seorang anak kecil berusia tiga tahun dari keluarga dekat kami, yang sepertinya di-“lupakan” haknya untuk bersekolah dan bertemu dengan teman-teman seusianya.

Bukan karena keluarganya tak punya cukup uang untuk menyekolahkan, bukan karena mereka tinggal di tempat terpencil yang membuatnya sulit mencari sekolah, tapi karena kedua orang tuanya sibuk melakukan hal lain. Membangun sebuah “kerajaan” yang diharapkan bisa mengalirkan uang ke dalam pundi-pundinya…

salahkah? tentu tidak. Karena pundi2 uang itu pun nantinya akan ikut dicicipi sang anak. Tapi prihatin, boleh kan?

tapi yang terpenting, aku pun jadi tersadar, bahwa memberikan perhatian yang berkualitas untuk anakku, tak selalu bisa didapat dengan mengambil keputusan untuk “keluar dari pekerjaan dan di rumah 24 jam!”

Kenapa begitu?
Karena ibu, si anak yang sedang kubicarakan ini, mengambil keputusan ini beberapa tahun yang lalu. Mungkin, latar belakangnya tak murni untuk mengurus anak. Lebih karena ingin membangun “kerajaan” itu. Ia memang ada di rumah 24 jam, tapi itu tak berarti 24 jam pula disediakan untuk anaknya.

Berkaca dari situ setidaknya, kegundahan yang kurasakan, memilih bekerja di rumah untuk Lintang, atau bekerja di luar, juga untuk Lintang, tak perlu lagi terlalu mengganggu.

Ya, belakangan, kegundahan sering aku rasakan.
ketika aku merasa, Lintang, lelaki kecilku memilih dekat dengan mbaknya daripada aku. Saat ia tak mau segera tidur, dan justru mencari2 dengan matanya yang masih bersih dan bening itu, lalu berlari keluar kamar sambil tertawa-tawa ketika melihat sosok yang dicarinya ada di sana…
Iri! itu tepatnya…

Tapi bagaimana lagi, memang mbak lah yang ada hampir di sepanjang waktunya Lintang. Aku berangkat jam 7 pagi, ketika Lintang baru saja membuka matanya. Dan, kembali ke rumah saat mata Lintang sudah sayu, hanya smepat bermain2 sebentar sebelum kemudian menidurkannya, dan (tak jarang) ikut tidur sampai pagi lagi datang…
Merasa bersalah? Mungkin juga…

Tapi sekarang, itu tak perlu mengganggu..

Meski secuil waktu yag kupunya untuk mengajarinya menyanyi, “Selamat pagi Bapa, selamat pagi Yesus, selamat pagi Roh Kudus…..”

Meski sedikit waktuku untuk menunjukkan nama-nama hewan yang ada di buku “Hauuuu..umm” miliknya. (Maksudnya buku seri mengenal hewan Mamalia, bergambar harimau di sampulnya, yang sering kami tirukan bunyinya, tapi justru kini dikenali Lintang sebagai buku Hauum, hehehe…)

Meski tak ada banyak waktu aku melatihnya untuk berani melangkah sendiri, ketika kakinya melangkah tertarih-tatih sambil berpegangan pada lemari, tembok, atau apa pun yang dapat diraihnya,sambil sesekali memberanikan melepaskan satu pegangan tangannya, sampai akhirnya ia memilih kembali berpegangan atau menjatuhkan diri ke kasur tipis pijakannya…

Meski tak 24 jam ragaku ada di depan Lintang,

Setidaknya bisa kupastikan bahwa selama 24 jam hatiku tetap bersamanya, dan pikiranku pun terus berjalan memikirkan hidupnya..

8 April 2009
By: Veronica Sri Utami
Buat Lintang….