Ikhlas itu memang (tak) mudah…

pernah di publish di http://veronicasriutami.blog.friendster.com/2009/11/ikhlas-itu-memang-tak-mudah/

suatu pagi, aku dan mbaknya Lintang dikejutkan dengan ribut-ribut obrolan
teangga di depan rumah. “Tumben amat, pagi-pagi kok udah rame…” pikirku.
Dengan sedikit menyisir rambut dan cuci muka, aku ikut keluar.

Ternyata, ada tetangga sebelah rumah yang tadi pagi rumahnya hampir saja dimasuki maling. Untunglah, sang anak, yang masih bayi menangis minta dibikinkan susu, sehingga “calon” maling yang sudah mulai mengintip-intip lari tulang langgang ketika tahu pemilik rumah terbangun.
Tetangga samping rumah berikutnya, ternyata sudah dicongkel kunci jendela dapurnya (untuk diketahui di kompleks rumahku, letak pintu dan jendela dapurnya ada di bagian depan rumah sebelah kiri, berhadapan dengan taman depan rumah, sementara pintu masuknya di sisi sebelah kanan).

Jdi, kesimpulan yang dibuat oleh para satpam dan peserta diskusi pagi itu, ketika sang maling  mendengar pelilik rumah yang punya bayi bangun,
dia langsung lari tunggang langgang, sambil mengajak temannya yang udah
berhasil mencongkel jendela tapi belum sempat masuk.

Karena harus segera bersiap-siap ke kantor, kutinggalkan bincang-bincang bersama tetangga pagi itu, setelah sebelumnya menyempatkan menengok
jendela tetangga yang tercongkel, dan berbasa-basi dengan sang nyonya rumah, yang sambil menggendong anak perempuannya, tampak sangat panik, marah-marah pada satpam yang dianggapnya tak becus bekerja, dan sebagainya, dan sebagainya.

(Duh….sejujurnya, terganggu juga energiku dengan emosi negatif yang dia tularkan. Mau kayak apa hebatnya satpam, namanya juga manusia kan ada juga kurangnya. Lagian, deretan rumah kami ini letaknya di pojok, 3 blok jauhnya dari pos satpam. kalau saja satpam itu keliling kompleks jam 3, sementara malingnya datang – bukan masuk dari pintu gerbang utama yang dijaga satpam – pada jam 4, wajar kan kalau tak terdeteksi kedatangannya? kayanya gak perlu juga marah-marah deh…)

akhirnya aku masuk rumahku sendiri, mandi. Sementara aku mandi, mbaknya Lintang, sambil membawa Lintang tentu saja, meneruskan “pencarian berita”-nya (hehehhe…mbakku ini sejujurnya punya bakat wartawan lebih besar dari aku. Ada berita apaaaa aja di sekitar rumah – mulai dari Pak ini mecat pembantunya karena begini, si ibu itu sekarang lagi enggak punya uang karena suaminya gak punya kerjaan dan hura-hura terus, atau si mbak ini yang tadinya pembantu di rumah anu, sekarang jadi pembantu di runah itu loh! dan sebagainya, dan sebagainya – dia pasti jadi orang yang paling tahu. Dan, tentu saja dilaporkan ke aku dan suamiku, sepulang kerja. (Padahal, sejujurnya ya , kami kayanya gak perlu info itu deh! tapi ya gak papalah…menghargai kesenangan orang, kan sah-sah saja to?)

Selesai mandi, seperti yang telah kuduga sebelumnya, si mbak membawa laporan yang lebih lengkap. Cerita umumnya tentu saja sama dengan yang telah kuketahui sebelumnya, tapi ditambahi dengan detil-detil seperti: anjingnya si ibu anu emang katanya dari malem nggonggong terus, atau dulu, waktu kita belom pindah ke sini, juga pernah ada maling loh! yang ilang sepedanya pak anu, atau kata om itu, waktu peristiwa pencurian yang berapa tahun lalu, dia sempet ngejar malingnya. ternyata mereka lompat tembok. di luar tembok komplek itu udah disipain tangga loh, dan seterusnya… (hebat kan mbakku??! Ayo, siapa yang mau merekrut jadi reporter?)

Yang sedikit mengganggu, si mbak ini juga menambahkan kekhawatirannya yang kedengaran terlalu berlebihan dalam ceritanya ini – aduh gimana ya Mbak? Mas susilo lagi gak di rumah lagi! (mas silo- suamiku memang sedang tugas kelaur kota, kala itu- mbok beli gembok yang lebih besar! pintu belakang ini nanti malem juga harus dikunci, (pintu yang menghadap ke halaman belakang, kamar mandi belakang, dan ruang jemuran di belakang yang memang tak pernah dikunci karena di belakang itu, berbatasan dengan tembok rumah tetangga jadi kuanggap aman-aman saja), bla..bla..bla….

aku mengiyakan saja.. gak ingin terpengaruh dengan kepanikannya.
Lalu, iseng-iseng, aku meliaht bagian depan rumahku, cari tahu apakah ada
tanda-tanda “digerayangi” maling juga. Dan ternyata… kunci jendela dapur rumahku juga sudah jebol, dicongkel maling. entah bagaimana  caranya… aku sendiri tidak bisa membayangkan bentuk alat yang digunakannya, hingga bisa dimasukkan lewat celah jendela, lalu membelok ke atas, ke tempat kunci dan anak kuncinya berada, lalu mengangkat slot kunci itu (atau entah apa namanya)
dari dudukannya yang biasanya terikat erat dengan dengan sebuah paku secagai pengikatnya.

melihat hal itu, makin paniklah mbaknya Lintang, “wah beneran harus beli gembok yang lebih gede tuh mbak kayanya! duh…wedi aku!”

Duh….

akhirnya, aku bersuara, “Mbak.. tadi malem pintu gembok gerbang dikunci enggak?”

“dikunci mbak!” jawab mbaknya Lintang.
“Mba denger enggak malingnya masuk ke sini? denger pintu gerbangnya bunyi
dibuka? denger enggak waktu malingnya njebol kunci tadi malem?” semua pertanyaan itu dijawab mbak-ku dengan “enggak!”

Dan, inilah pertanyaan pamungkasku,
“Trus gemboknya rusak enggak?”
Dan ia pun  menjawab…. “enggak!”.

baiklah..kemudian dengan lagak seorang yang maha tenang (sejujurnya, meski ada kekhawatiran sedikit dalam hatiku, tapi itu tak cukup untuk membuatku mengatakan kalau sekarang ini aku merasa khawatir), berkatalah aku, “Jadi mbak, gak ada gunanya kan beli gembok lebih besar? Lha wong malingnya juga masuk gak perlu pake njebol gembok kok?”

Dan ia pun mengangguk. Entah karena setuju, atau karena pasrah saja,
karena sang nyonya rumah sudah memutuskan untuk tak mengganti gembok.
dan kemudian kuteruskan, “Lagian, maling mau ambil apaan sih mbak di rumah ini?”
hehehehe… kalimat terakhir inilah yang kemudian menyadarkanku mengapa aku begitu tenang di antara kepanikan  para tetangga dan mbaknya Lintang pagi ini.

Memang menjadi lebih mudah bagiku bersikap tenang, karena enggak ada
berlian swarovski (bener gak ya nulisnya begini?), atau berkilo-kilo perhiasan emas di lemari kayu kamarku. Pun tak ada satu set mebel yang dibeli dari toko Furniture Da Vinci, yang melihat tokonya pun seperti sudah memberi pagar besi
untuk hamba sahaya semacam diriku (heehehhe..berlebihan ya!? tapi sejujurnya, “harta” kami di ruang tamu adalah selembar karpet untuk lesehan dengan asyik sambil ngobrol ngalor ngidul, nonton DVD, dan makan keripik singkong – kalo pas ada)…

Jadi, kalau si maling itu nekat masuk rumahku, barang yang mungkin dia lihat itu adalah TV, itu pun masih tabung, dan cuma 14 inch, dan udah kubeli lebih dari 5 tahun lalu, dengan tombol2 yang sudah gak bsia dipencet (hemm…kalau dia tahu kondisinya gitu, masih mau diangkat enggak ya?)
Atau….sebuah lukisan ikan koi, yang jadi penghias ruang tamu, dengan warna-warni yang cerah, untuk “memelekkan” mata karena seisi ruangan isinya warna coklat dan krem melulu…  Yang paling gede dan harganya melebihi 5 digit sih ada… ialah sebuah lemari buku yang guede banget!! (gka yakin juga malingnya bisa ngakat ato enggak). atau seandainya males ngangkat bisa juga
sih diambil bukunya.. (pastinya aku akan sedih teramat sangat kalau koleksi buku ini diambil orang.. tapi kok kayanya jarang denger ya maling nyolong buku?! hehehe…)

So, apa yang mesti dikhawatirkan?? enggak ada kan?

Bersyukur juga tidak (semoga lebih tepatnya “belum”) punya harta benda..
karena ternyta, lebih mudah untuk tetap tenang, ikhlas akan apa yang bakal terjadi, ketika kita tak punya banyak…

jadi ingat pengalaman suatu hari, ketika ikut sebuah acara yang diselenggarakan oleh Erbe Sentanu, penulis buku Quantum Ikhlas..acara seminar (atau tepatnya pelatiahn ya?) sehari ini tentu tujuannya untuk mengajari kami mengikhlaskan hidup kami..

Bukan harta benda yang diikhlaskan, tapi hidup kami…..

bukan berarti kami tak boleh punya cita-cita, keinginan, dan yang muluk-muluk lainnya. Bukan! Justru, awalnya kami diajak untuk “bermimpi”.
membayangkan apa yang kami harapkan terjadi, sampai sejelas-jelasnya…
(sssttt………mau tahu apa yang aku bayangkan? ah gak usah deh! malu! hehehehe….)
tapi, kemudian mas Nunu (begitu panggilan kesayangan untuk beliau), mengajak kami utuk tak lagi memenuhi otak, rasa, dan hati kami dengan semua mimpi itu, yang kemudian membuat kami jadi terburu-buru, tak sabar, gelisah, terus menunggu tanpa tahu kapan akhirnya, dan tentu saja semua itu membuat hidup tak tenang…

Justru, setelah membayangkan mimpi kami itu sampai tingkat yang tertinggi, sampai seolah itu sudah terlihat jelas di depan kami, sudah dalam genggaman! MAs Nunu meminta kami untuk mengikhlaskannya.

Kepada siapa?? tentu saja pada yang maha Kuasa…

agar segala yang telah diimpikan itu,

terjadi dalam bentuk yang tepat, sesuati kehendaknya..

terjadi dengan kadar yang pas, sesuai kehendaknya….

dan tentu saja,terjadi pada saat yang tepat, sesuai kehendaknya..

tanpa bertanya-tanya, tanpa kemrungsung (duh..bahasa indonesiane opo yo?)..

tanpa menunggu waktunya, tanpa menuntut terjadi sekarang..

pokoknya ikhlaskan……..

jadi tepatlah sebuah kalimat indah yang berbunyi, “Segala sesuatu akan jadi indah pada waktunya”
jakarta, 24 November 2009

*terjadilah padaku Tuhan, menurut kehendak-MU…*