Kapal yang bocor

pernah di publish di http://veronicasriutami.blog.friendster.com/2008/10/kapal-yang-bocor

“jangan tinggalkan saya di kapal yang bocor ini,” begitu sang nahkoda pernah berkata.

Hhhmmm…., ketika itu hatiku bergetar.

Kapal (yang sebenarnya indah) ini, memang seharusnya tetap berlayar,

karena keindahannya membuat banyak orang yang melihatnya temukan bahagia.

Dengan semangat persaudaraan dan persahabatan yang kami punya,

tentu tak sulit melalui semua badai dan gelombang, sambil mencoba menambal kebocoran yang ada.

tapi sekarang, kenapa semua seolah berbeda…

ada orang-orang di atas sana, yang selalu tersenyum di depan sang nahkoda.

keberadaannya mungkin membuat sang nahkoda bahagia,

tapi mengapa kami tak merasakan hal yang sama?

sesaat, kami bisa melupakan mereka,

dengan kesibukan yang luar biasa, menambal kebocoran di sini-sana,

sambil terus mendayung keras agar semakin dekat dengan tujuan.

tapi tetap saja, saat kami melihat mereka,

setiap usaha kami seolah menjadi percuma ditambah rasa tak rela…

Hai Nahkoda!

tidakkah kau lihat kami yang sibuk menambal lubang-lubang di kapalmu ini dengan tenaga, keringat, dan air mata?

tidakkah kau dengar desahan keras napas kami, saat mencoba menarik oksigen yang terasa makin tipis di sini?

tidakkah kau punya sedikit saja waktu untuk melirik kapal lamamu, yang tak mundur dan tak juga maju?

Tidakkah kau merasa, kalau senyum mereka ada, karena otot bibir yang ditarik dengan paksa, karena di kepala mereka ada sejuta rahasia, yang tak pernah terbaca?

Huh…, kami hanya bisa melihatmu dengan iba.

ingin kami menemanimu berlayar ke mana saja.

Tapi jika kau tak pernah menoleh, menatap, dan menjamah,

kami ragu, apakah kau masih menganggap kami ada,

jika kau tak pernah ada, menyapa dan bertanya,

kami pun tak tahu ke mana harus membawa,

kapal (yang sebenarnya indah) ini…

Jakarta 17 Oktober 2008

By: Veronica Sri Utami

(saat aura negatif bertebaran di mana-mana…)