Kisah Cinta di Angkot Jagung – Gintung

dicopy dari http://veronicasriutami.blog.friendster.com/2009/03/kisah-cinta-di…jagung-gintung/

Mumpung belum jauh dari Bulan Februari, yang katanya Bulan kasih sayang, karena di dalamnya ada sebuah hari sakral bernama Valentine’s Day, seru juga kayanya kalo ngomongin soal cinta. hayah!

Gini, di angkot sore tadi, ada pemandangan yang cukup meghibur sepanjang perjalanan dari Giant Bintaro sampai sektor 9. Di pojok angkot, ada sepasang sejoli berseragam putih abu-abu. dari bahasa tubuhnya, cukup terlihat kalau mereka sedang dilanda asmara (ampun bahasanya…!)

Sepanjang perjalanan,ada saja bahan pembicaraan seru antar mereka. mulai dari obrolan seputar kelenjar-kelenjar dalam tubuh hingga sistem imunitas, sampai mencari-cari kemungkinan mengapa laron senang pada cahaya.

Hehehe…entah kenapa, senang aku melihat gerak-gerik mereka. meski pura-pura sok cuek, tapi tak jarang, aku curi-curi juga melihat mereka saling memandang, saling bersentuhan, saling menunjukkan perhatian…

walau sang gadis, terdengar terlalu berlebihan mencari bahan pembicaraan, tapi sang lelaki tampak tak bosan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. aku sempat mendengar sang gadis bertanya, “kenapa sih, kok kalao siang kita bisa lihat ada warna merah, hijau, kuning…, tapi kalau malem kayanya susah liat waena-warna itu?” (hehehe…terdengar terlalu dibuat-buat kan?)

tapi lihatlah sang lelaki, dengan tatapan penuh perhatian dan sayang, dijawabnya juga pertanyaan remeh itu, “ya karena ada cahaya lah.. cahaya itu yang memantulkan warna ke mata kita!”

Hahaha…tawaku dalam hati, “Percayalah dek, tatapan penuh perhatian dan sayang itu tak akan bsia kau terima lagi, setelah kau dan dia terikat dalam sebuah tali yang lebih kuat dari sekadar ‘pacar’.

Sebagai gantinya, akan kau lihat tatapan sinis, yang mungkin berarti, “Aduuu..uh! masak begitu aja gak ngerti sih?” atau “Huh! gak penting banget deh yang kamu omongin. ngapain sih begitu aja dibahas?”

Atau mungkin, kau tak akan mendapatkan tatapan sinis sama sekali. karena matanya sibuk dengan game komputer yang sedang coba dimenangkannya. Terkadang, sambil menggumamkan sebuah pernyataan yang pasti tak akan pernah bisa kau percaya, “iya iya, aku ndengerin kok!” (hehehehe…kedengerannya seperti lagi curhat pengalaman pribadi ya??)

Anyway, dua sejoli di angkot tadi setidaknya mengingatkanku akan getar-getar cinta (halah…dangdut lagi!), yang dulu pernah ada. rasa senang, deg-degan, berbunga-bunga itu kembali melayang-layang di benakku. Yang aku tak tahu, kenapa rasa itu sulit sekali muncul sekarang ya?

Mungkin emang terdengar enggak realistis sih, kalau menuntut getar-getar itu sekarang, ketika kami harus berbagi waktu dengan Lintang, jagoan kecil kami, berbagi waktu dengan ratusan baris kalimat artikel yang harus kutulis, juga daftar costumer-costumer yang harus diperhatikan oleh suamiku agar penjualannya lancar, juga tagihan angsuran utang rumah yang harus dibayar setiap bulan, dan pikiran-pikiran di otak sibukku untuk mencari celah-celah untuk menata hidup yang lebih baik.

Tapi benarkah getar-getar itu sulit dikembalikan karena semua itu?

bukankah semua kesibukan itu (tentu dikurangi Lintang dan tagihan utang rumah) pun sudah kami lakoni sejak dulu, dan bisa juga dilakukan sambil pacaran? Toh, ketika itu getar2 itu bisa ada…

jadi, kurasa bukan itu jawabannya.

jawaban yang pasti, aku tak tahu.

tapi Mungkin, ini karena waktu, yang membuat hati kami semakin dekat, sangat dekat malah, seolah telah menjadi satu, sehingga tak ada lagi sensasi getar-getar tarik-menarik, yang terasa seperti ketika dua bilah magnet ingin saling mendekat.

By: Veronica Sri Utami

Atau, ada yang punya jawaban lain kenapa getar-getar itu kini tak terasa dan bagaimana cara mengembalikannya? Please tell me!!