Pindah Belanja atau tambah semangat cari cara jadi orang kaya?

pernah di publish di http://veronicasriutami.blog.friendster.com/2009/02/pindah-belanja…adi-orang-kaya

akhir pekan kemarin, kebetulan Bapaknya lintang ada urusan pekerjaan di daerah kelapa Gading.
Karena sudah lama tak jalan-jalan, aku, Lintang dan mbaknya Lintang diajak turut serta.

tentu saja, rencananya kami akan diturunkan di seuatu tempat untuk jalan-jalan ber-3, selama dia menyelesaikan urusan pekerjaannya.

tempat yang dipilih adalah mal Kelapa Gading. Selain lokasi itu tidak jauh dengan tempat yang dituju suamiku, kami punya “hajat” untuk menggunakan voucher dari sebuah departement store papan atas, yang ada di MKG. Voucher itu kuperoleh dari bos tempat aku bekerja sebelum sekarang, bertahun-tahun lalu.. Belum pernah kami gunakan, karena jarang sekali kami menginjakkan kaki di departemen store itu. Bukan level kami! begitu bisa dibilang…

Selama, menunggu sang Bapak menunaikan tugas, kami ber-3 berkeliling MKG. Tak berani masuk toko, karena yakin harga-harga barangnya jauh di atas kemampuan dompet kami.

satu-satunya yang berani kami beli adalah segelas es sari kacang hijau, itu pun karena harganya terpampang dengan jelas, dan lumayan masuk akal lah…

Cuma berjalan-jalan,sambil mengamati benda-benda indah di balik jendela etalase, ternyata bikin penasaran juga!

Akhirnya,  kuberanikan diri untuk memasuki sebuah toko sepatu, yang memasang pengumuman besar “Buy 1, get 1 free!” Waduh, lumayan nih! biar harganya agak mahal, tapi kalo toh akhirnya dapet 2 pasang, kan gak kerasa mahal, begitu pikirku…

jadi, masuklah aku ke sana, tak berani masuk dalam-dalam, hanya di rak paling dekat pintu. Kuambil sebuah sepatu, yang menurutku paling sederhana bentuknya. Dan, dengan gerakan yang kuusahakan tetap terkesan elegan (halah!), pelan-pelan kubalik sepatu itu, sehingga solnya menghadap ke atas, untuk mengintip harganya.

Alamaaaa….kk!!! hampir 1 juta!! serasa mau pingsan!!!
Oalah Gustiii… dapat 2 pasang sepatu pun, tak mau aku beli! tak tega membayangkan uang sebanyak itu hanya kuinjak2 setiap hari. Belum lagi kalau habis hujan dan aku harus berjingkat2 di antara genangan air coklat bercampur lumpur, yang bakal menempelkan noda di bawah telapaknya…

Cukup sudah! 1 pengalaman dalam toko sepatu itu sudah cukup membuatku kapok. Tak ada 1 pun toko lain yang berani kumasuki. Sambil menunggu suamiku, aku hanya mengajak Lintang bermain-main dengan boneka-boneka Walt Disney yang ada di pintu masuk sebuah arena bermain untuk anak, atau mengamati boneka-boneka pajang di etalase toko pakaian, juga gambar2 iklan yang berjajar di tembok dan tiang-tiang, yang tak jarang diajak ngobrol sama Lintang. Hehehe…

akhirnya, bapaknya Lintang datang.. kami pun melangkahkan kaki menuju departemen store papan atas itu. Meski ada voucher beberapa ratus ribu di tangan, tapi tak bisa dipungkiri, ada setitik keraguan dan rasa tak percaya diri menggelayuti benak. Bisa buat beli apaan ya???

Sebagai orang tua baru, tak mengherankan jika pilihan lokasi pertama yang kami datangi adalah tempat pakaian anak.
Dan, sekali lagi, kami harus menguatkan hati! bayangkan saja.. sepotong celana pendek untuk anak usia 1 tahun, yang panjangnya tak lebih dari dua jengkalku, dihargai hampir 100 ribu!! gila kan?? Belom lagi, kaos-kaos oblong, yang jika kau pakai mungkin hanya cukup untuk menutupi telapak tangan dan sebagian lengan, yang harus dibayar dengan uang ratusan ribu…
Ampun!! Meski dibayar dengan voucher, yang berarti kami tak harus mengeluarkan uang, kok rasanya masih tetep rugi! gak rela!! sakit hati!!

Sambil berembug, dan berputar-putar mencari sesuatu yang “cukup berharga” untuk kami bawa pulang, kaki kami melangkah ke tempat mainan anak. Bolehlah, kalo mainan, yang bisa dipakai lama, dan bikin Lintang pintar, pikirku…

pilihan pertama jatuh pada sebuah mini keyboard. Mereknya memang tak pernah terdengar, harganya sekitar 400 tibu. tapi boleh juga kalau bisa bikin Lintang lebih mengenal nada, mencintai musik, dan bahkan bisa bikin dia pintar memainkan alat musik.

karena suamiku, cukup mahir memainkan alat musik itu, maka dialah yang bersemangat untuk mengecek kualitas alat musik itu sebelum memastikan untuk membelinya. “Asal kualitasnya sama dengan keyboard pertama yang aku beli di jogja dulu dengan harga 100-an ribu, kita beli deh!” Katanya sambil mulai menekan beberapa tuts bersamaan, karena demikianlah cara menggunakan keyboard.

Ternyata… jauuu..uh dari harapan. Tuts ke-4 atau ke-5 (aku tak terlalu memperhatikan) tak bisa bunyi ketika ditekan berbarengan. yah, keyboard itu memang benar-benar keyboard mainan. jadi, rasanya sayang kalo voucher itu kami tukarkan. “Mending besok kita ambil aja keyboard bututku di Jogja!” begitu kata suamiku, sedikit kesal.

setelah hampir putus asa berputar2, mataku melirik ke mainan Lego. Wah, boleh juga nih! bisa melatih kreativitas, lagian bisa digunakan agak lama.. sampai dia besar pun, kalau mau iseng eksplor bentuk-bentuk baru, masih bisa dipakai, begitu pikirku..

kudekati tumpukan mainan bermerk LEGO itu. satu kotak yang paling kecil pun sedah berharga ratusan ribu. malah ada, Lego tema tertentu (misalnya kehidupan di peternakan, atau mesin dan bangunan) yang harganya 1 jutaan. OOW!! Lemezzz….

akhirnya, kami putuskan untuk membeli sebuah permainan lego, tapi bukan yang bermerk LEGO. Tentu saja, berarti harganya tak se-“hebat” lego. toh hasil akhirnya, yang dimaksudkan untuk mengembangkan kreativitas dan ketrampilan motorik tangan bisa tercapai.

“Gajiku ra ana ajine!” begitu kata suamiku, setelah kami selesai membayar.  artinya: uang gajiku tak ada artinya sama sekali di tempat ini.. Aku cuma bisa tersenyum menanggapinya. habis, mau bilang apa??

Dalam perjalanan pulang, ketika kami masih “lenger-lenger” (keadaan seperti kehilangan separuh kesadaran, karena shock akibat suatu kejadian), teringat harga-harga yang baru saja kami lihat, aku berkata pada anakku, “Dek, besok-besok kalo belanja ke pasar aja deh! sakit hati!”

tanpa kuduga, suamiku justru menyela, “Loh kok gitu? Bukan pindah belanjanya, tapi kita yang harus makin semangat cari uang!!”

sedikit kaget juga aku dengar pemikiran suamiku itu. Tapi.., iya juga ya…..
kalau dengan pola pikirku, maka kami tak akan maju, bertahan saja dengan keadaan sekarang ini. Dan, mungkin ketika harus masuk ke tempat yang “menyilaukan” seperti tadi, kembali harus merasa jadi orang frustrasi!

dan, karena pengalaman yang cukup membuat shock kemarin, selama 2 hari terakhir ini, berbagai pikiran memenuhi otakku, “gimana ya caranya cari duit banyaK? orang-orang kaya itu gimana caranya cari duit ya?? aku mau jualan apa ya? bikin apa ya yang bisa datengin duit tiada henti?? aku bsia jadi orang kaya yang duitnya gak abis-abis enggak ya? dan sebagainya…dan sebagainya….”

Dan, sebuah pertanyaan besar memenuhi benak, Apakah petuah orang tua, yang mengatakan, “enggak perlu kaya, yang penting bahagia” masih up to date untuk dipakai sekarang ini??

Jawabannya, terserah Anda…

By: Veronica Sri Utami

16 Februari 2009
Masih lenger-lenger…..