Tanggul Situ Gintung Jebol, Ciputat berduka..

pernah dipublish di http://veronicasriutami.blog.friendster.com/2009/03/tanggul-situ-g…ri-ini-berduka/

pagi tadi, saat angkotku mendekati Gintung, terminal kecil di sisi jalan ciputat raya, arus lalu lintas terasa melambat. “Berarti jalan ciputat raya macet nih” begitu kata seorang bapak tua, salah satu penumpang.

Kenapa ya? tanyaku dalam hati.. gak biasanya begitu.

karena masih jam 8, aku berniat mampir untuk beli sarapan. Yang aku tuju adalah abang bubur ayam, yang sering mangkal di dekat tempat ngetem angkot jagung-gintung.

Yah gak ada! keluhku dalam hati. Tumben amat sih…

Akhirnya, mampirlah aku di sebuah minimarket. niatnya beli sesuatu unutk sarapan, sambil tarik tunai BCA.
ternyata, di situlah aku mendengar berita kenapa ciputat macet pagi itu. “tanggulnya situ gintung jebol tadi pagi. Rumah-rumah langsung pada kerendem!” begitu cerita mbak kasir.

oh, jadi karena itu…
ketika mendengar ceritanya, aku tak berpikir lebih jauh. tanggul jebol, banjir. gitu aja…

saat, di sisi jalan ciputat raya, sambil menunggu angkot yang akan membawaku ke kantor, barulah kutahu, dampaknya lebih buruk dari sekadar banjir.

di sebuah kios yang biasanya dijadikan tempat kongkow para sopir angkot, kini penuh dengan ibu2, yang masing2 menggendong anaknya. wajah-wajah mereka tampak bingung, kosong.

salah, satunya tampak sedang menelepon seseorang, berteriak keras-keras, panik!
“Pulang sekarang! cepetan! selametin rumah lo! anak lo! cepetan!!” katanya berulang2, sampai akhirnya tak bisa menahan air mata yang sudah menggenang di sudut matanya sejak lama…
Mungkinkah itu tetangganya? atau suaminya? atau siapa?
HHhhhh….. gemetar sendiri aku melihat adegan itu.

Jangan-jangan, abang tukan bubur ayam itu ikut kebanjiran, tebakku dalam hati.

sepanajng jalan, suasana yang kulihat makin menggetarkan hati. Di kanan-kiri jalan, orang-orang dengan ekspresi wajah yang sama, bingung, panik, ttapan kosong, dan tentu saja berpakaian seadanya memnuhi jalan.

Ditambah lagi, sirene mobil2 petugas kepolisian, Tim SAR yang memenuhi udara. Semua menambah kelabunya ciputatku pagi itu.

satu mobil cukup menyita perhatianku, karena di sisi mobilnya tertulis besar: TIM IDENTIFIKASI..
Ya ampu..un!! bukankah kosa kata itu sering digunakan ketika ada kecelakaan atau tragedi yang membuat korbannya sulit dikenali? Kenapa perlu tim itu didatangkan ke sini??
Hhhhh… makin jauh imajinasiku melayang. ke arah situ gintung, yang beberapa waktu lalu pernah kulihat salah satu sisinya, ketika ada liputan tentang hari kanker anak sedunia, di ISCI ciputat.
Situ gintung yang kulihat kala itu, begitu indah, airnya memberi ketenangan saat melihatnya.. kehijauan di sisinya, memberi keteduhan, raga dan jiwa.

lalu kenapa hari ini situ gitnung justru meberi tangis dan duka buat mereka??

Semakin mendekati kantor, suasana tak makin membuatku tenang. apalagi, di sekitar universitas muhammadiyah, yang letaknya tepat di belakang kantorku. Kenapa ramai sekali di sana? apakah airnya sampai ke situ?

Deg! jantungku seolah berhenti berdetak. Seorang teman akrab, teman sejak dari jogja, rumahnya ada di sana. tepat di belakang univ, muhamammadiyah. Bagaimana dia?

bagaimana juga dengan ibu Mie rebus, yang warungnya di depan universitas? lalu ibu pecel ayam, di kantin muhamadyah? abang mie ayam dan warteg prasmanan di samping muhamadiyah? Aduh, apakah mereka semua terhindar dari bencana?

tanggul gintung jebol. bukan hanya mengakibatkan banjir, tapi lebih tepat disebut air bah! melihat jejak-jeka kerusakannya di TV pagi ini, seperti melihat berita Tsunami aceh beberapa tahun lalu.

Dan kali ini terasa lebih menggetarkan hatiku, karena mereka dekat sekali denganku…
hanya beberapa puluh meter dari tempatku menghabiskan hidup selama 8 jam setiap harinya.
Mungkin aku pernah berpapasan dengan mereka, satu angkot dengan mereka, bersebelahan makan dengan mereka di kantin muhammadiyah, di warung mi rebus kuburan, atau di warteg prasmanan…

Tuhanku, berilah mereka semua rasa bahagia……………….

Jadi merenung..
tersadar aku akan maha besarnya dia yang mengatur segala..

Tentang bencana, entahlah siapa yang mengaturnya. Apakah Dia juga? (tapi masak iya, Tuhan yang Mahabaik memberi bencana? tapi kalau bukan dia lalu siapa? entahlah….). Mungkin juga bukan karena Dia, tapi karena manusia, yang mengobrak-abrik, apa yang sudah diatur-Nya. Entahlah….

Yang kutahu, bencana, tak pernah pandang nama dan usia. siapa saja bisa kena….
Dan ini mengingatkanku untuk bersiap, selalu, akan saat itu, ketika aku harus menghadap-NYa…