The Art of Money…

pernah dipublish di http://veronicasriutami.blog.friendster.com/2009/05/the-art-of-money

“Mi, aku lagi makan KFC cuman 7000 loh!” begitu kata suamiku suatu sore, mempromosikan sebuah harga paket makan  murah, yang hanya bisa didapat pada jam-jam tertentu..

“Aduh..bahannya bagus banget kayak gini cuma 5000?” kata teman-temanku saat mengagumi baju hasil hunting di gerai baju sisa ekspor (atau baju bekas yang diimpor, ya?), yang baru saja dibuka di dekat kantor…

“Besok ikut ke Grand Indonesia yuk mbak, Gramedianya diskon 30% loh! All item!” gitu kata Gita, setelah membaca sebuah iklan di KOMPAS yang pasti bikin ngiler semua pecinta buku..

Ya, diakui atau tidak, barang berharga murah, diskon, garage sale, barang second tapi masih bagus, dsb..kini jadi pilihan…

Tanpa ragu atau malu dibilang matre, segala yang membuat uang kita bertambah banyak, atau membuat kita lebih sedikit mengeluarkan uang, tampaknya akan lebih dipertimbangkan…

Jadi, ketika mbak Ani bilang, “Mungkin pekerjaan kita ini memang tak menghasilkan banyak dalam hal materi, tapi yang lain di luar materi itu bikin kita lebih kaya..”
Aku sedikit ragu-ragu untuk menganggukkan kepala tanda setuju.
Memang, pertemanan, persaudaraan, perjumpaan dengan banyak orang hebat, pengetahuan yang tiap hari menambah kaya otak dan hatiku, tak bisa diukur dengan apa pun juga.
Tapi, aku tetap perlu uang!!
karena ada tagihan rumah yang harus dibayar, ada Lintang anakku yang kelak harus kusekolahkan, ada keluarga yang harus kubuat lebih baik masa depannya, ada…. ada….ada…. banyak! dan semua butuh uang!!

Bahkan, harga gula pasir yang jadi 10.000 saja sudah bikin wajah Bu Yatie, pemilik warteg langganan kami makan siang, berkerut-kerut..

Apalagi, uang 17 juta yang harus dibayarkan seorang ibu, tetanggaku untuk memasukkan 2 anaknya ke SMP dan SMA baru-baru ini..

Duh, meski baru saja aku menulis tentang “The Art Of NOw” – Sebuah cara mendapatkan rasa bahagia dengan menikmati hari ini, kenapa tetap susah ya tak khawatir pada kebutuhan di masa-masa mendatang yang (pasti, amat sangat pasti) akan menjadi berkali-kali lipat banyaknya dari sekarang (yang sudah cukup menjerat pinggang)..

Meski begitu, tak kututup mata dan telinga juga, bahwa di luar sana, tetap ada orang yang telah mengeluarkan jutaan atau tepatnya miliaran, rupiah uangnya untuk membeli mobil baru, sementara mobil lamanya telah berjejer panjang di garasi mobilnya yang luasnya mungkin 10 kali lipat luas rumahku, yang masih harus dicicil limabelas tahun lagi! lima belas!! Duh….

Dan, tak bisa menolak juga aku ketika mendengar cerita seorang kaya yang membeli sepatu di luar negri, entah berapa harganya, tapi biaya kirimnya untuk sampai ke Indonesia saja ratusan ribu! Duh…, aku dikasih ongkos kirimnya aja udah bisa buat mbeliin sepatu orang sekampung kali ya?!

yah, itulah dunia…
seperti papan enjot-enjotan kubilang.
Salah satu harus ada di bawah, supaya yang satu lagi bsia naik. Tidak adil?? Bisa dibilang begitu. Tapi alam sudah mengaturnya, lalu mau kau bilang apa?? Mungkin lebih tepatnya, inilah seninya kehidupan.

Tapi, bukankah anak kecil pun tetap tertawa ketika ia berada di bawah enjot-enjotan, ketika pantatnya tertumbuk ke papan, dan merasakan sensasi terpental, sebelum sesaat kemudian ia berganti posisi di atas, dan bsia melihat temannya yang pantatnya gantian tertumbuk di tanah?
Itulah seni permainan. Yang kalah, yang menang,yang di atas yang dibawah, semua harus tetap tertawa!

Jadi, tulisan ini akan kututup dengan sebuah pertanyaan:
Adakah yang tahu cara membuat hidup kita tak lagi dipusingkan dengan berapa uang yang harus kita punya supaya tetap hidup?
Supaya kita tetap bisa tertawa meski berada di bagian bawah enjot-enjotan??

Jakarta, 26 Mei 2009

Tiba-tiba saja, inspirasi ini memenuhi benak, dan berteriak-teriak minta dikeluarkan….