Tolong, lakukan dengan caraku

pernah di publish di http://veronicasriutami.blog.friendster.com/2009/02/tolong-lakukan-dengan-caraku

pagi ini, Lintang anakku, lain dari biasa. dia merengek-rengek minta digendong sang mbak, dan ketika sudah sudah digendong susah disuruh turun.

Tangan dan kakinya diposisikan mengunci tubuh sang mbak, sehingga meski sudah di lantai, dia tak bisa dilepaskan.

Deg…! hatiku tersentak. Apakah ini tanda, yang selama ini kukhawatirkan mulai terjadi?

Ya, sejak kecil, Lintang anakku, tak pernah kubiasakan untuk digendong. Bukan karena malas atau tak sayang, tapi memang itu niatku.

Kenapa? karena aku tak ingin Lintang jadi anak yang ke mana-mana minta digendong. (aku sudah melihat contoh anak yang terlalu dibiasakan digendong, dan hingga besar, sang ibu yang kini badannya telah terlihat lebih kecil dari anaknya harus tetap membopong sang anak, dengan selendang yang sudah hampir sobek, ke mana pun dia pergi…). Aku ingin Lintang tak tergnatung pada siapa pun, karena toh, Tuhan sudah memberikan kaki, yang nantinya akan digunakannya untuk berjalan ke mana pun dia mau.

dari usia 1 hari sampai sekitar 3 bulan, karena Lintang hanya kami (aku dan suamiku) yang mengurusnya, tak sulit untuk menjalankan niatku itu.

“gangguan” mulai datang ketika hadir si mbak. Meski sudah kujejali dengan A sampai Z aturan yang kubuat untuk anakku, tetap saja, sulit mengubah sebuah kebiasaan (atau keyakinan?) tentang urusan gendong-menggendong. Sebalnya, dia justru menyombongkan “gendong jarik” andalannya, yang katanya bisa bikin Lintang lebih tenang.

Aku memang hampir tak pernah menggendong Lintang pakai jarik. Dan artinya, aku pun tak trampil mengait-kaitkan jarik untuk jadi gendongan Lintang. Selain karena aku punya sebuah gendongan yang hanya perlu dikaitkan dan lansung jadi, toh aku memang tak ingin sering2 menggendongnya…

Sempet gondok juga ketika itu, ketika dia seolah merasa lebih hebat dariku soal menenangkan anakku, karena dia punya senjata pamungkas “jarik andalan”. Dan, kebiasannya menggendong itu cukup membuatku khawatir, karena nantinya Lintang akan keenakan digendong.

Berulang kali, aku mengingatkan, tapi ya itu tadi, susah mengubah sesuatu yang sudah jadi kebiasaan. oke lah..kalau tidak berlebihan, aku pun diam, meski kadang hati pengin berontak juga!

nah, beberapa hari belakangan ini, kesabaranku terasa hampir mencapai batas. kenapa? karena ada kebiasaan si mbak yang cukup menggangguku. apa itu? pagi-pagi, ketika Lintang bangun tidur dan aku sudah tak bisa lagi menemaninya main atau sekadar ngoceh sana-sini karena harus segera bersiap mandi, si mbak langsung menggendong Lintang keluar, bahkan pernah, kucari-cari sampai keluar tak ada, yang artinya dibawa jalan agak jauh dari rumah. Padahal belum mandi!

setelah jalan2 itu, (maksudnya mbaknya yang jalan-jalan-bukan Lintang karena dia belom bisa jalan), langsunglah disiapkan air mandi untuk Lintang. Segera setelah Lintang mandi, digendong lagi! kali ini untuk makan.

Mauku, biarlah Lintang main aja di bawah, biar dia jalan ke sana-sini, gerak ke sana-ke sini, manjat sana-manjat sini, biar badannya hangat, dan siap mandi. kalau pagi-pagi sudah digendong, Lintangnya kan diam saja, dibawa keluar lagi, berarti badannya tambah kena udara dingin..

alasan kedua, tentu saja berhubungan dengan peraturanku tentang gendong-menggendong itu. ngapain juga sih mesti digendong. wong ditunggui saja ketika Lintang mau ke sana-kemari sendiri dengan kakinya kan juga bisa!

lalu tentang makan, memang aku tahu nyuapi anak 11 bulan itu, yang lagi senang mbrangkang ke sana-kemari, memang susah. kalau digendong (yang bsia diartikan terikat erat dengan sang penyuap) pastinya lebih mudah. tak perlu lari-lari mengejarnya, ketika dia tiba-tiba ingin melihat Jessi, anjing tetangga sebelah, yang membuatnya merangkak dengan cepatnya ke depan rumah..

tapi membiasakan anak makan sambil digendong dan jalan ke mana-mana juga bukan mauku. Aku mau, Lintang tahu bahwa makan adalah saat ketika dia duduk, mungkin bolehlah sambil sedikit melakukan ini-itu. (untuk kasus ini, aku juga agak sedikit terganggu jika melihat anak-anak yang dari ukuran tubuhnya sebenarnya sudah bisa dibilang besar, tapi ketika makan, piringnya harus dibawakan oleh sang mbak ke mana-mana, sesuai kehendaknya saat itu. Tidak! aku tak mau Lintang begitu! dan, semua itu harus dilatih sejak awal kan?

meski gemes pengen ngomong, tapi selalu kutahan. Ya, bagaimanapun juga, si mbak ini sudah banyak berjasa buatku. tanpa dia, tak ada yang menemani Lintang dari pagi sampai malam ketika aku dan suamiku belum pulang. jadi, aku tak mau dia menganggapku terlalu cerewet, atur ini-itu, dan akhirnya membuatnya tak nyaman tinggal bersama kami.

tapi, kejadian pagi ini membuatku tak bsia lagi menahan kesabaranku.

aku khawatir, kalau Lintang benar2 jadi “ketagihan” digendong, bagaimana dengan tugas perkembangannya untuk belajar jalan? apalagi, belakangan kulihat Lintang pun ogah-ogahan kalau diajak tetah, padahal beberapa waktu sebelumnya, dia cukup semangat, mau tetah bahkan sampai belasan langkah. sekarang, baru 1-2 langkah, dia langsung melemaskan tubuhnya ke bawah, dan duduk.

aku tahu, mungkin memang belum saatnya Lintang ditetah. Toh, kalau sudah saatnya dia pasti juga mau! atau toh kalau sudah saatnya, nanti pasti bisa jalan! begitu kata banyak orang.. dan aku setuju dengan pendapat itu.

tapi, aku tak ingin memperpanjang proses pembiasaan yang tak kuinginkan. itu saja!! tak salah kan kalau aku menginginkan yang terbaik untuk anakku? dan, caranya adalah dengan membiarkannya tahu bahwa ia punya kebebasan untuk membawa tubuhnya ke manapun dia mau, dengan tenaga dan usahanya sendiri.

karena menurutku, apa yang aku ingin nantinya dipahami anak, harus ditanamkan sejak sekarang ini, meski tampaknya dia masih terlalu kecil, dan belum tau apa-apa. aku percaya pada sebuah buku yang pernah kubaca tentang proses perkembangan mekanisme otak,bahwa sejak anak masih kecil pun sebenarnya dia sudah mulai belajar memahami. mungkin dia belum bisa mengungkapkan pemahamannya itu lewat kata-kata, tapi sebenarnya pemahaman yang dia miliki telah tersimpan dalam otaknya, dan ketika sisi otak lain yang mengatur kemampuannya berbicara telah matang, maka keluarlah semua pemahaman itu bersama dengan sikap, dan kata-kata yang keluar dari mulutnya.

berdasar keyakinan itu, pagi ini aku mengajak sang mbak bicara 4 mata. serius!

kuutarakan semua keinginanku atas anakku. dan apa yang kumau dia lakukan.

aku mau, Lintang anakku, dibiarkan bebas mengikuti kehendak kakinya, dibiarkan bebas mengikuti hatinya…

kutegaskan padanya, “Memang, mbaklah yang jaga Lintang dari pagi sampai malam, tapi Lintang anakku mbak. Jadi, tolong, jaga Lintang dengan caraku!”

by: Veronica Sri Utami

jakarta, 7 Februari 2009

ketika kegundahan terasa karena anakku tak lagi seperti anakku…..