Unfinished Bussiness

*pernah dipublished di http://veronicasriutami.blog.friendster.com/2009/01/unfinished-bussiness/

satu hal yang sulit akuhindari ketika bepergian, berada di keramaian, atau saat duduk dalam sebauh misa di gereja adalah menghindarkan mataku dari gerak-gerik anak-anak. (bahkan ketika di pangkuan saya kini telah ada seorang jagian kecil yang saya banggakan).

ya, ketika ada sebuah keluarga kecil, dengan anak lebih dari 1, mata dan hati saya dipastikan akan tertumbuk pada si anak sulung. Dengan atau tanpa sengaja, di otak saya akan segera keluar rentetan hasil analisa, dari setiap gerak-geriknya, dan hati saya seolah punya jembatan yang langsung mengarah ke hatinya.

suatu hari, Ketika aku melihat si sulung duduk sendiri di angkot, sementara sang adik menggelendot manja di samping ibunya, otak saya langsung penuh dengan pikiran, “aduh, kasian banget sih si mas-nya, pasti dia sebenarnya juga pengen sekadar pegangan tangan ibunya, atau bahkan dipeluk seperti adiknya. tapi mungkin dia sudah sering di-“singkir”kan sama ibunya, sehingga kali ini dia menguatkan hati untuk duduk sendiri, di sampig adiknya, tanpa berpegangan sedikit-pun pada sang ibu. saya ikut merasa disisihkan…

Atau, ketika kemarin, di gereja, aku melihat seorang kakak, yang di”tabok” sang ibu, karena jajan risol sebelum misa selesai, semantara di sampingnya, sang adik asyik makan lemper, tanpa “tabok”-an sedikitpun dari sang ibu. Hati saya pun langsung ikutan mendongkol! Adiknya asik makan gak diapa-apain, kenapa hanya si kakak yang diberi hukuman?? gak adil banget sih tu ibu. harusnya, kalo kak gak boleh jajan, adiknya juga gak boleh dong!! kalau kakanya dipukul karena jajan, adiknya juga dong!! itulah yang terjadi.

kadang saya sampai capek sendiri, karena mau tak mau otak dan hati saya jadi sibuk bekerja, bahkan bisa dihitung kerja lembur, karena sebenarnya itu bukan tugas utama mereka… tapi, perasaan ikut “sakit” seperti itu sulit saya hindarkan.

itulah juga yang membuat saya agak tak sampai hati memikirkan untuk segera punya anak lagi, dalam waktu dekat ini. Hehehe… seperti biasa, hidup itu terus bergulir. dulu orang selalu tanya, “kapan nikah?”, berikutnya, “kok belom punya momongan, ditahan ya?” eh, sekarang, baru aja Lintang keluar, belom juga ingatan akan perjuangan melahirkannya hilang, sudah banyak juga yang bilang, “Udah mau 30 loh! segera dipikirin mau punya anak berapa?” atau, “Lintang gak mau dikasih adek?”. Jawaban yang ada di dalam hatiku cuma 1. Aku gak mau buru-buru, karena aku gak mau Lintang merasakan hal yang kupikirkan dalam otakku ketika melihat “si sulung” dalam setiap pengalamanku. Kasian Lintang, begitu desahku…. aku sebenarnya sudah menyadari, apa yang kurasakan ini karena aku pun adalah seorang anak sulung. Anak yang dituntut untuk “jadi contoh buat adik-adikmu”. karena itu pula, saya tak pernah bisa ini-itu, yang aneh-aneh, yang dianggap tak berkenan di mata bapak-ibu. Pokoknya hanya yang aman-aman saja, yang lurus-lurus saja… sang sulung jugalah yang mendapat tugas untuk “menjaga adik-adikmu” yang membuat saya, harus merelakan waktu bermain saya dengna teman seusia, ketika itu, untuk menemani adik saya bermain pasar-pasaran, sayur-sayuran, atau dokter-dokteran, ketika permainan itu sebenarnya sudah saya tinggalkan bertahun-tahun lalu…

karena saya jugalah yang pertama menjadi besar dalam keluarga, maka saya pulalah yang harus merasakan “kekagetan” orang tua saya akan perubahan-perubahan “menjadi besar dan dewasa” yang seharusnya boleh saya terima.Akibatnya? ya, saya jugalah yang harus menerima larangan keluar rumah hanya dengan si dia (yang memaksa saya untuk mengatakan bahwa saya pergi dengan A, B, C, D, E, F, G, semua teman saya, tanpa menyebut satu nama yang pati akan mempersulit prosedur perijinan. padahal itu, ketika aku sudah sangat bisa disebut sebagai orang dewasa!! Aku juga yang harus merelakan diri untuk pergi ke wartel terdekat, sekadar untuk mendengar suara seorang sahabat, karena kalau menerima teleponnya (yang jelas-jelas saya tunggu), saya harus berhadapan dengan lirikan tajam ibunda.karena ia menganggap “hubungan” kami berdua mengarah pada sesuatu yang membahayakan! (Ampuuu…un bunda!!!)

Tapi kini, dengan kepala-mata saya sendiri, saya melihat adik-adik saya kini telah memiliki “pujaan hati” ketika dia baru SMA! dengan mudahnya….

jadi ingat obrolan saya dengan Tombazz. teman SMA yang kini tinggal di Surabaya. Menggunakan ilmu psikologinya untuk jadi trainer, dan fasilitator dalam acara retret, leadership training, dsb. dia pernah mengungkapkan keprihatinannya, bahwa orang di usia seperti kami ini, masih banyak yang menyimpan pengalaman yang masuk dalma kategori “unfinished bussiness”. Ketika ngobrol itu, saya cuma menganggung-angguk saja, tak terlalu paham detailnya. sekarang barulah saya sadar, ternyata saya termasuk salah satu orang yang menyimpan unfinished bussiness.

saya pun ingat, bahwa solusi untuk situasi ini adalah dengan bersyukur. (hehehe…sebenarnya saya merasa sudah cukup bersyukur untuk hidup saya yang indah ini. tapi ternyata belum cukup ya?)

Oke! saya akan berusaha untuk bersyukur untuk tugas dan peran yang pernah, sedang dan akan saya jalani sebagai si sulung. Peran yang membuat saya bisa keluar duluan dari rumah, dibanding adik2 saya, membukakan jalan, sehingga ketika mereka mungkin akan menyusul saya ke Jakarta, tempat saya berada sekarang ini, mereka sudah tahu tempat untuk menuju.

saya juga akan bersyukur untuk kesempatan saya sebagai yang pertama dalam keluarga, yang membuktikan bahwa tidak menjadi guru dan tidak menjadi PNS itu pun tak apa.. (hehehe… sorry ya bu, segala kutolak semua tawaran jadi guru dan PNS darimu. Bukan ke sana hatiku, bu. But, don’t worry about me, coz I do enjoy my life now!)

saya akan bersyukur..bersyukur…dan terus bersyukur!!! semoga!

19 Januari 2009 By: Veronica Sri Utami

(Kalau ada yang tahu cara bersyukur yang lebih hebat lagi, please tell me…)