We deserve to be loved, respected, healthy, and happy!!

pernah di publish di http://veronicasriutami.blog.friendster.com/2009/07/we-deserve-to-…lthy-and-happy

Seorang teman, mengalami gangguan syaraf terjepit. Persisnya seperti apa saya juga tak terlalu paham. Yang pasti, keluhannya adalah kesemutan di separuh bagian tubuhnya, sepanjang waktu!

kadang, hanya kesemutan biasa, tapi jika menjadi parah, ia sampai tak bisa menggerakkan tangannya.

suatu sore, ia bercerita pada saya, “Kemarin, aku periksa ke dokter. (beberapa hari terakhir ia memang merasakan keluhannya bertambah parah). Katanya, aku gak boleh stres. kalau stres, syarafku yang terjepit semakin tegang dan kaku, maka semakin parah juga kondisi kesemutan di badanku.”

Dan aku pun mengenggung-angguk.

Lalu, ia melanjutkan, “Trus aku jawab, ya nggak bisa lah, dok! bagaimanapun, dalam satu bulan, pasti ada saatnya saya harus stres!”

Ups!
Dan aku hanya terdiam, tak menyahuti, pun tak sanggup mengangguk-angguk…

Terbersitlah sebuah kesimpulan dalam kepala saya, bahwa penyakit yang dialami teman saya itu tak kunjung membaik, karena memang teman saya itu menganggap dirinya layak mendapatkannya.

mendengar “niatan” itu, maka alam semesta kemudian berkonspirasi untuk mendukungnya.

saya terdengar kejam dan berlebihan? Tunggu dulu… tahan judgement Anda terhadap pendapat saya, dan biarkan saya teruskan cerita ini.

Pikiran yang sama, sebenarnya pernah terlintas beberapa saat yang lalu, ketika saya dan teman saya itu, di suatu siang setelah deadline lewat, tertawa lepas terbahak-bahak, entah apa sebabnya saya sedikit lupa.
Yang saya ingat, tawa itu begitu indahnya, yang serasa membuat semua simpul-simpul urat tegang di pundak, leher, dan kepala terlepas!

Tiba-tiba, dia terlihat berusaha keras menghentikan tawanya. “udah, udah, stop, stop, aku gak boleh terlalu bahagia kayak gini. Biasanya, kalau aku seneng banget, pasti mau ada sesuatu yang buruk.”

Loh?
tersentak, kaget, tak tahu mesti menanggapi bagaimana. “Lha wong bahagia kok pakai acara diinterupsi kekhawatiran nanti bakalan ada kejadian tak menyenangkan. BUkankah hidup memang tak selalu membuat kita tertawa? jadi kenapa tak nikmati saja saat-saat ketika kita bisa tertawa lepas?” begitu pikir saya.

Dan, memang benar ternyata, tak berapa lama ia menerima telepon dari anaknya yang sedang belajar di luar kota, mengabarkan bahwa ia baru saja terpeleset bersama dengan motornya.
“Tuh kan!” begitu katanya, dengan maksud membenarkan ramalannya.

saya pun mengiyakan. Bukan dengan maksud setuju bahwa setelah kita tertawa terbahak-bahak akan ada kejadian yang membuat kita menangis. Karena toh, saya merasa setiap saat bisa tertawa lepas, dan selalu bahagia..

yang saya iyakan (dalam hati) adalah bahwa “kejadian buruk” yang terjadi pada anaknya itu mungkin saja terjadi, karena sang ibu menginginkannya, seperti yang diyakininya ketika ia berusaha menghentikan tawanya tadi. Dan, seperti biasa, alam semesta berkonspirasi untuk mendukungnya. memberikan alasan padanya untuk memebenarkan teori “habis ketawa-nangis”

saya pernah membaca sebuah kalimat berbunyi ‘tubuhmu adalah budak dari pikiranmu’ dalam buku berjudul “Be Happy”.

Jadi, apa pun yang terjadi pada diri kita, tubuh kita, sebenarnya pikiran kitalah yang menciptakannya.

Bahkan, secara ekstrim, dalam buku itu disebutkan, ketika pikiran kita tak suka akan sesuatu, ingin melarikan diri dari sesuatu, maka langkah pertama yang biasanya dilakukan tubuh untuk meloloskan diri dari sesuatu adalah dengan “sakit”. Dan, solusi berikutnya, yang sangat ampuh adalah “mati”.

Wuih…ngerii!!

saya tidak seekstrim itu mempercayainya, tentu saja.
tapi saya sangat yakin, ketika kita merasa diri kita layak untuk dihargai, dan dicintai, maka sikap dan perlakuan seperti itulah yang akan kita dapatkan dari orang lain.

Dan, ketika kita merasa kita layak untuk sehat dan bahagia, maka itu pulalah yang akan kita rasakan….

Jakarta, 23 Juli 2009

“Being Happy!”