Yang panen dan yang menyebar rejeki – sebuah desember di sudut kecil kota Jogjakarta

“Aku pergi dulu ya… mau nge-koor-in manten di nDaratan…” pamit adikku yang bergabung dalam sebuah kelompok paduan suara, yang kini sedang “panen” ditanggap banyak orang jadi manten.

“Aku mau ngiringi manten di Muntilan” kemudian adikku lelaki ikut berpamitan. Ya, di libur akhir tahun, natalan, yang kemudian disambungkan dengan liburan tahun baru ini, yang kebetulan juga adalah bulan besar (bulan yang dianggap bulan baik untuk menggelar perhelatan akbar bagi mereka yang ingin membentuk sebuah keluarga baru), kelompok orkestra kecil adikku ini pun “banjir order”.

itulah kedua adikku. yang satu bersuara merdu, yang satu mahir menggesek dawai biola. di bualn desember ini mereka sibuk mengumpulkan sekeping-dua keping dinar, untuk memperberat celengan bagongnya.

sementara itu, adikku Putri, sie kecil yang kini tak lagi bisa dibilang kecil, harus rela menjadi penunggu rumah.
kasian juga dia, sehari-hari sudah tinggal berjauhan dari rumah, karena harus menjadi penghuni asrama SMU Van Lith Muntilan (yang adalah sekolahku dulu), giliran liburan pun dia harus merelakan dirinya sendirian di rumah karena 2 kakaknya punya kesibukan sendiri..

Lalu ke mana bapak – ibuku? mereka pun sibuk menjalankan perannya.
kalau 2 adikku mendapat banjir order di bulan baik ini, kedua orangtuaku pun otomatis kebanjiran undangan manten! yang berarti mereka pun harus siap menyebarkan amplop berisi lembaran-lembaran puluhan ribu, di setiap rumah teman dan kerabat yang mereka kunjungi, untuk sekadar menyampaikan ucapan ikut berbahagia…
tentu bukanlah hal yang ringan, mengingat jumlah undangannya tak kurang dARI 10 buah. ada yang warnanya merah, putih, kuning, dan, hitam.
ada yang besar, kecil, bahkan ada yang berbentuk kipas.
pagi ke sini,siang ke situ, sore ke sana.
hari ini ke seni, besok ke situ, lusa ke sana.
begitu selalu setiap hari.

“anak-anakku padha nglumpukke duit, bapak-ibune nyebar-nyebar duit…” begitu keluh ibuku suatu sore.

Yah, itulah dunia, kataku dalam hati. selalu membuat dirinya jadi seimbang.
kalau ada yang untung berarti ada yang rugi, kalau ada yang dapat besar, tentu ada yang dapat kecil, kalau ada yang senang, mungkin otomatis membuat orang lain sedih atau kecewa.
jadi, ikuti saja peran itu, karena pasti kita akan kebagian jg, peran jadi orang kaya dan bahagia (semoga)….🙂

By: Veronica Sri Utami

jogjakarta, 29 Desember 2008
sebuah pagi di Pedaran, dalam rangka libur natalan.

*pernah di publish di veronicasriutami.blog.friendster.com*