Sudahkah Kita “Memantrai” Anak Indonesia dengan Benar?

Oleh: Veronica Sri Utami

 

Karena Bapak dan Ibu saya berasal dari Jogja, saya sangat sering mendengar orang tua yang mengucapkan kalimat, ”Anakku sing bagus dhewe,” (Anakku yang paling tampan), atau ”Anakku sing ayu dhewe” (anakku yang paling cantik), atau ”Anakku sing pinter dhewe” (anakku yang paling pintar) saat mereka menimang anaknya. Awalnya saya menganggap bahwa itu hanya kebiasaan saja. Tapi, setelah saya membaca beberapa buku, terutama yang berhubungan dengan kekuatan energi dan pola pikir postif, tahulah saya bahwa kalimat yang sedikit terdengar narsis itu (mana ada sih orang tua yang tidak menganggap anaknya cantik atau tampan?), adalah kalimat ”sakti”. Kenapa sakti? Karena di situ tersimpan sebuah doa.

Masaru Emoto dalam bukunya The Secret Life of Water – Menguak Rahasia Mengapa Air dapat Menyembuhkan menyebutkan hasil penelitiannya yang menemukan bahwa air yang setiap hari didoakan akan memiliki bentuk molekul yang sangat indah, sedang air yang tiap hari dicaci maki akan menunjukkan bentuk molekul air yang rusak berantakan.

Dengan asumsi bahwa sebagian besar tubuh manusia terbentuk dari air, maka kita pun bisa meyakini bahwa kalimat ”Anakku sing pinter dhewe” yang diucapkan oleh si ibu, misalnya, pada anaknya setiap hari, bukan tidak mungkin akan menggerakkkan molekul-molekul air dalam tubuh si anak, dan kemudian, pada akhirnya sungguh menjadikan si anak sebagai anak pandai.

 

Me-”mantrai” alam bawah sadar

Sayangnya, banyak orang tua (tidak hanya ayah ibu kandung dari seorang anak, tapi juga orang yang dituakan anak, termasuk guru, om dan tante) yang tidak menyadari ”saktinya” kalimat-kalimat yang disampaikannya kepada seorang anak.

Suatu hari, seorang pembantu tetangga sebelah saya dengar mengatakan kalimat ini ke anak yang diasuhnya, “Sini aku bukain, kamu sok pinter banget sih!” Ternyata, anak kecil itu, yang usianya baru sekitar 2 tahun, “dimantrai” sok pinter karena ia sedang berusaha membuka sebuah jeruk medan. Dan tentu saja hasilnya tidak karuan. Tapi, itu tidak berarti dia sedang bersikap “sok pinter” bukan?

Di kesempatan lain, saya melihat seorang ibu yang “memantrai” anaknya dengan “Cerewet banget sih kamu!” Hanya karena sepanjang perjalanan dalam angkot, ia sibuk mengomentari bangunan-bangunan yang dilihatnya, tentu saja sambil menanyakan hal-hal yang tidak diketahuinya. Bagi saya, itulah ciri anak cerdas. Entah kenapa sang ibu justru menilainya berbeda….

Itu adalah salah satu contoh kecil “mantra” negatif yang tanpa sadar telah kita masukkan ke dalam telinga – dan tentu, tanpa bisa kita kendalikan mungkin akan tersimpan dalam alam bawah sadarnya. Padahal, alam bawah sadar berperan dalam proses pembentukan nilai hidup dan konsep diri.

Karena itulah, dalam buku Hypnoparenting-Menjadi Orangtua Efektif dengan Hipnosis, Ariesandi Setyono mengingatkan orang tua untuk menghindari penggunaan kata nakal, bodoh, malas, dan sebagainya, karena jika kata-kata itu sering terdengar dan terekam dalam alam bawah sadar, maka tubuh si anak akan berusaha mewujudkan gambaran mental tersebut. Artinya, ia benar-benar akan menjadi nakal, bodoh, dan malas. Tentu, tak ada orang tua yang mau anaknya demikian bukan?

 

Me-”mantrai” anak lewat media

Meski para ahli sering mengatakan bahwa orangtualah yang bertanggung jawab penuh atas perkembangan anak, namun bukan tabu rasanya jika kita juga ”minta tolong” pada lingkungan di sekitar anak, yang secara langsung mempengaruhinya.

Salah satunya, media.

Belakangan, tokoh si Unyil dimunculkan kembali oleh sebuah stasiun televisi – dengan format yang lebih gaul, lebih modern – berjudul Laptop si Unyil. Acara ini dikemas sebagai hiburan yang edukatif, dan si Unyil bertindak sebagai host acara. Sayangnya, Unyil yang sekarang ini terkesan suka iseng di mata saya. Tak sekadar isengnya anak-anak, karena kadang membuat tokoh lain kecewa (karena makanannya dihabiskan, misalnya), atau wajah dan badannya belepotan sesuatu, bahkan sampai jatuh. Tentu tak bisa dinilai iseng lagi jika sudah membahayakan. Di salah satu episode, saya sangat ingat anak saya sampai bertanya, ”Kok Unyilnya bikin temennya jatuh sih?” Saya sendiri tidak ingat persis adegannya, tapi secara garis besar, di awal acara, Unyil dikerjai oleh boneka lain yang menjadi temannya. Setelah rangkaian informasi tentang cara membuat kerajinan eceng gondok, dan sebagainya – untuk  bagian ini tentu saja saya acungi jempol – di akhir acara, Unyil berniat membalas keisengan temannya itu, dengan cara tertentu, sehingga temannya itu terjatuh.

Tentu saja saya belum rela mengajarkan kosakata ”balas dendam” kepada anak saya yang baru berusia 3 tahun, karenanya saya sedikit membelokkan cerita agar Si Unyil terkesan tak dengan sengaja melakukannya.   Dalam diskusi bersama ayah anak saya, kami mengambil kesimpulan bahwa”lolosnya” adegan itu dalam acara edukasi anak, mungkin karena tenaga-tenaga muda – yang notabene belum punya anak, dan artinya juga belum terlalu tertarik mengulik ilmu membesarkan anak – lah yang menelorkan ide-ide kreatif untuk acara tersebut. Tapi, kondisi ini bukan masalah besar. Pastinya banyak ahli-ahli perkembangan anak yang bersedia meluangkan waktu berdiskusi bersama insan-insan muda kreatif yang menciptakan acara-acara menarik untuk anak-anak Indonesia ini.

Begitu juga jika antar pencipta karya kreatif berkualitas saling berdiskusi dan bertukar ilmu, bukan tidak mungkin kualitas “tontonan” untuk anak Indonesia akan meningkat. menyebut salah satu tontonan berkualitas yang bagi saya sangat dalam menyentuh jiwa (halah, bahasanya..), adalah Laskar Pelangi, yang secara “mengagetkan” membuka selubung keberanian siapa saja yang menonton atau membaca ceritanya -saya rasa demikian – untuk tak ragu bermimpi setinggi-tingginya. Dan, tentunya tak sekadar berani bermimpi, tapi juga berani memperjuangkan mimpi itu..

Saya pun sangat setuju dengan yang dikatakan oleh Sujiwo Tedjo dalam sebuah acara dialog di TV One yang mengatakan bahwa badan sensor film seharusnya tidak hanya melarang adegan ciuman, tapi juga melarang penayangan demonstrasi, perang, dan sebagainya. ”Anak-anak sekarang lebih sering melihat perang daripada melihat orang mencium…” katanya.

Karena bagaimanapun, berbicara tentang perkembangan anak, pastinya tak bisa lepas dari sebuah teori besar bernama Tabularasa, yang meyakini bahwa seorang anak lahir ke dunia ini layaknya kertas putih tanpa noda. Apa yang dicoretkan oleh orang tua, dan semua yang ada di sekitarnyalah yang akan menentukan ”gambar”nya kelak. Kalau kita ”menyoretkan” cinta dalam hatinya, maka ia pun akan merefleksikan gambar cinta dalam hatinya. Jika kita sempat menyoretkan keberanian untuk bermimpi dan memperjuangkan mimpi, tentu itu pun akan tergambar dalam kertas putihnya. Tapi, jika kita menyoretkan cemooh, bahkan kekerasan di kertasnya, maka kita tak boleh protes jika gambar itulah yang akan terlihat dalam diri si anak – dan bisa jadi, dalam satu kesempatan mengenai diri kita sendiri.

Andai saja kita bisa minta Harry Potter mengucapkan mantranya, ”Finite Incantatem!” untuk menghilangkan semua mantra negatif yang pernah kita ucapkan sebelumnya kepada anak-anak kita…

Tapi, tak pernah ada kata terlambat untuk melakukan sesuatu yang baik. Jadi, kalau kita ingin anak-anak Indonesia, yang akan meneruskan langkah Bangsa Ini bergambar indah, mengapa tidak kita masing-masing, dengan cara dan peran masing-masing – meski bukan orang tua kandung, bukan orang media, dan tak harus jadi seperti Kak Seto – mengawal perjalanan mereka dengan memberikan kata-kata positif, dan juga membiarkan mereka (hanya) melihat tindakan-tindakan positif dari lingkungannya.

Mari kita bersama-sama me-”mantrai” anak-anak Indonesia, agar mereka jadi penerus bangsa yang hebat!

July, 2011 *Hadiah buat Anak Indonesia*