Percakapan tentang Tuhan dan Surga, Bersama Lintang….

Lintang: Bu, Tuhan yang beneran itu adanya di mana? (sambil megang patung keluarga kudus, Yesus, Maria Yusuf)

Ibu: Mereka ada di surga, Tang…

Lintang: Surga itu apa sih?

Ibu: surga itu adalah tempat yang jauh. Dari sana Tuhan nunggu kita, njagain kita. Kalau kita baik, nanti setelah meninggal kita juga bisa diajak ke surga sama Tuhan.

Lintang: Surga itu ada di mana sih Bu? Di atas apa di bawah? Di sana ada pohon enggak?

Ibu: wah, ibu juga enggak tahu Tang. Ibu kan juga belom pernah ke surga. Tapi yang pasti, Tuhan ada di sana, dan kalau Lintang jadi orang yang baik, nanti akan diajak sama Tuhan juga ke sana, waktu Lintang meninggal.

Lintang: Baik itu gimana?

Ibu: Baik itu ya selalu bikin orang lain seneng, mbantu yang butuh ditolong, jadi anak hebat, berani,….

Lintang: Emang gimana kita bisa ke surga Bu? Emangnya kita bisa terbang?

Ibu: Tuhan nanti yang bawa kita ke surga Tang, enggak tahu juga ibu gimana caranya..

Lintang: Tuhan! Tuhan! Tuhan! (diam…. Nunggu jawaban)

Lintang: Bu, kok Tuhan enggak bisa diajak ngomong? Terus gimana caranya dia ngajak aku ke surga?

Ibu: Tuhan memang enggak bisa kita lihat, enggak bisa kita denger Tang, tapi, dia sering ngajak kita ngomong, lewat orang lain. Mungkin sekarang ini Tuhan lagi diajak ngomong sama Lintang, tentang bagaimana caranya jadi anak baik, tapi ngomongnya lewat Ibu. Bisa juga lewat Bapak, lewat Mbah, lewat Bu Guru, atau orang-orang lain…..

Lintang: di surga nanti kita masih bisa mikir enggak sih Bu?

Ibu: Mungkin masih Tang. Jadi, waktu kita meninggal, badan kita emang enggak bisa gerak lagi, udah mati. Tapi di dalam badan itu ada yang namanya roh. Roh itu nanti yang diajak Tuhan ke surga… Dan roh itu mungkin masih bisa mikir, masih bisa ngobrol sama Tuhan

Lintang: diam… dengan alis mata hampir menyatu karena dahi yang berkerut, mikir…

Ibu: sedikit menyesal karena memperluas pembicaraan ini hingga menyentuh kata “roh”. Berharap Lintang enggak tanya lebih lanjut tentang roh itu tadi, karena sejujurnya, enggak tahu mesti ngomong apa untuk njelasin tentang roh…. Hehehehe…………

***

Jujur, “diskusi” saya bersama si kecil Lintang, yang belum genap 4 tahun umurnya, sore itu, sungguh bikin saya sedikit pusing kepala. Pertama,karena topik yang dibahas agak “luar biasa”. Kedua, karena yang mengajak berdiskusi tak sama umurnya dengan saya. Artinya, meski saya punya jawaban (ini seandainya saya punya jawabannya loh ya, kalau enggak tahu jawabannya, yam akin ruwet lagi urusannya!), saya harus memikirkan kalimat yang pas untuk tidak membuat anak kecil itu pusing kepala…

Tapi, diskusi itu juga membuat saya punya kesempatan untuk sekali lagi mengumpulkan semua pengalaman, pengetahuan, dan definisi-definisi yang sudah saya temukan tentang apa itu Tuhan.

Dulu sekali, memang saya punya (atau lebih tepatnya mendapat, mendengar, dan diberitahu)  “teori” yang sederhana tentang Tuhan:

Pokoknya Dia ada di surga, surga itu sebuah tempat yang sangat indah, banyak malaikatnya, kita mau apa aja ada di sana, enggak perlu kerja keras banting tulang lagi, tinggal duduk-duduk santai di kursi empuk, ngobrol-ngobrol sama Tuhan, dilayani para malaikat. Pokoknya surga itu enak! Kita baru bisa ke sana kalau: tiap minggu ke gereja, nurut kata-kata orang tua, enggak pernah bohong, enggak pernah marah, dst…dst…

Berseberangan dengan surga, ada sebuah tempat yang namanya neraka, di sini semuanya serba panas, sakit, dan mengerikan. Nah, kalau kita nakal, jahat, dsb..dsb, Tuhan enggak bakal nerima kita di surga, tapi dimasukin ke neraka.

Anehnya, meski penjelasan ini tampaknya paling mudah dijelaskan ke seorang anak kecil, dan mungkin paling “manjur” untuk menakut-nakuti anak kecil, agar tetap jadi anak baik (setidaknya, dulu itu manjur buat saya. Harus mikir seribu kali kalau mau mangkir ke gereja di hari minggu, atau males berdoa sebelum tidur dan makan) – saya tidak ingin menggunakan penjelasan simpel ini untuk Lintang. Saya merasa kurang nyaman menggunakan konsep “neraka” sebagai hukuman dari menjadi anak atau orang yang tidak baik (meskipun saya sendiri tidak tahu, benarkah neraka itu ada, atau sekali lagi sekadar upaya menakut-nakuti manusia).

Sama seperti ketika pegawai mendapat tugas dari bosnya untuk menduduki sebuah “kursi”. “kursi” itu pasti mengandung sebuah tanggung jawab, yang harus kita selesaikan. Dan, seharusnya kita menjalaninya bukan dengan semangat “takut dihukum” kalau gagal, tapi dengan kesadaran penuh, atau bahkan jika mungkin dengan penuh rasa syukur atas “kursi” yang sudah diberikan pada kita….

Dan saya ingin Lintang pun menjalani hidup ini dengan semangat bersyukur yang indah itu (karenanya saya belum ingin mengenalkan padanya kosakata “neraka”, sekarang).

***

Tapi, saya juga tak punya penjelasan yang tepat tentang Tuhan sekarang ini. Karena sesungguhnya, dalam perjalanan saya, 30 tahun lebih di dunia ini, setelah beberapa buku yang saya baca, setelah sejuta percakapan, pertemuan dan pengalaman yang saya dapatkan, saya jadi tidak terlalu “peduli” lagi tentang apa itu Tuhan. Bukan tak peduli pada Tuhan, tapi tak peduli pada “apa itu Tuhan”.

Buat saya, Tuhan tidak memerlukan definisi hitam di atas putih, yang harus dibuktikan secara ilmiah, dengan bukti dan fakta yang mendukung hipotesis…

Tak perlu juga kita tahu, Tuhan itu benar ada, atau sengaja “diciptakan” oleh manusia-manusia pendahulu kita, sebagai ‘penjaga’ agar hidup manusia tak mutlak bebas merdeka, dengan intensi yang sama ketika manusia menciptakan hukum, nilai dan norma….

Buat saya, dengan meyakini bahwa di atas sana (atau mungkin juga di bawah sana, entahlah…) ada sesuatu yang jauh lebih besar dari kita – yang bisa kita sebut sebagai Tuhan, Allah, Bapa, Semesta, atau apa pun itu – yang  membuat kita ada, dan nantinya ia juga yang memanggil kita, itu bisa menjadi alasan kuat mengapa kita harus memanfaatkan waktu ketika hidup di dunia ini dengan sebaik-baiknya.

Bukankah, hidup ini jadi lebih terasa indah ketika kita menjalankannya dengan semangat “agar hidup yang indah ini bisa saya persembahkan kepada Sang Pencipta,kelak” ketimbang “takut masuk neraka”.

Saya juga tak terlalu peduli apakah surga itu ada, di suatu tempat yang akan kita tuju saat meninggalkan dunia ini, ataukah dunia ini yang nantinya menjadi surga, saya hanya meyakini, kalau saya berbuat baik, dengan cara tertentu alam semesta ini pasti akan mengirimkan kebaikan juga untuk saya…

Dengan meyakini ada sesuatu yang besar, mahakuasa, mahakuasa, mahatahu, dst..dst… saya tidak akan merasa sendirian, selalu dijaga, dituntun, diarahkan. Dan ketika saya merasa berada di satu titik tanpa terang, tanpa arah, tanpa harapan, saya akan selalu punya tempat untuk mengadu, meminta, dan berserah… Bukankah itu terasa indah?

Jadi, apakah Tuhan itu ada? Di manakah dia? Dan benarkah ada surga dan neraka? Entahlah………

 

Bintaro, 30 Januari 2012

Setelah sebuah diskusi panjang bersama Lintang, tentang  Yesus, Salib, Tuhan, dan Surga….

 

PS: Jadi Lintang, Ibu pasti akan coba cari jawaban untuk pertanyaan-pertanyaanmu. Mungkin tidak semua akan terjawab. Mungkin alismu masih akan terus berkerut-kerut, sampai beberapa tahun ke depan. Tapi Ibu yakin, dalam perjalanan panjangmu kelak, kau pasti akan menemukan Tuhan, dengan caramu sendiri….   

Selamat mencari Tuhan ya, Anakku sayang.

Salam,

Ibu