“Media Relation: Urusan Perut sampai Nama Baik Perusahaan”

Saya tertarik dengan tulisan Tarsih Ekaputra dalam “Media Relations: TheoryVS Fact” yang menyebutkan bahwa urusan menjaga, menjalin, dan membina hubungan baik dengan media memang bukan sesuatu hal yang mudah. “Secara sederhana bisa diilustrasikan bahwa menjalin hubungan baik dengan media ini seperti halnya kita menjalin hubungan dengan pasangan. Sangat kompleks dan banyak hal yang mesti diperhatikan.
Dalam pengalaman saya sebagai jurnalis, saya pernah mengalami pengalaman kurang menyenangkan. Sebuah grup fasilitas kesehatan cukup ternama di Singapura mengundang beberapa majalah dari Jakarta untuk mengunjungi rumah sakit-rumah sakit yang mereka miliki di sana.
Sebuah perusahaan media relation independen di Jakarta ditunjuk untuk “mengawal” kegiatan kunjungan ini. Sayangnya, media relation independen ini tampaknya belum cukup terbiasa membawa rombongan wartawan melakukan kunjungan. Dari berbagai kekurangan, yang paling parah adalah pada hari terakhir kunjungan kami, jadwal kegiatan masih cukup padat, dengan jeda waktu yang sangat sempit antara kegiatan terakhir dengan jadwal penerbangan kami kembali ke Jakarta. Dan, pihak media relation kurang memperhitungkan hal ini. Alhasil, kami semua ternyata tak bisa makan malam di Singapura, padahal baru sampai di Bandara Soekarno Hatta jam 23.00.
Perut yang keroncongan, sementara badan letih karena kegiatan yang padat seharian tentu dengan mudahnya menyulut emosi kami. Banyak hal negatif lain yang kemudian keluar dari mulut teman-teman wartawan, seperti, “Gimana sih nih EO-nya, kan bisa tadi kita disiapin makan malam pake kardus, dimakan di bis sambil jalan ke bandara,” atau “Ah, udahlah, kunjungan ini enggak usah ditulis banyak-banyak. Masuk di kolom info setengah halaman aja!”, dan sebagainya.
Situasi semacam ini selain mengganggu hubungan baik wartawan dengan pihak media relation, kemungkinan besar akan merugikan juga pihak pengundang dari Singapura yang sebenarnya adalah perusahaan yang cukup bonafid di sana. Karena itu, untuk menjadi seorang media relation officer tak hanya dibutuhkan keterampilan membuat press release, atau menyelenggarakan acara. Ada banyak hal, bahkan hal terkecil, seperti memastikan semua orang “kenyang” adalah hal penting yang juga harus diperhatikan. (Veronica Sri Utami)