Wartawan, boleh beropini, tapi jangan menghakimi

Dalam kode etik AJI Indonesia Pasal 3 disebutkan bahwa Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah. Dalam penafsirannya dijelaskan bahwa yang dimaksud sebagai opini yang menghakimi adalah pendapat pribadi wartawan. Hal ini berbeda dengan opini interpretatif, yaitu pendapat yang berupa interpretasi wartawan atas fakta.
Namun,menurut pengamatan saya, pasal ini, sekarang, sering diacuhkan oleh wartawan. Yang paling sering terlihat adalah dalam acara-acara diskusi atau dialog di televisi. Pembawa acara dialog tersebut seringkali sudah jelas terlihat membawa “agenda” sendiri, hendak ke mana pembicaraan itu akan diarahkan. Entah menyudutkan orang yang diwawancara, atau membuat narasumber mengeluarkan pernyataan yang menunjuk orang lain sebagai pihak yang salah.
Salah satu yang pernah saya lihat, dan sangat membekas adalah sebuah acara dialog yang dipandu oleh Najwa Shihab, yang menghadirkan Bibit dan Chandra. Dalam acara ini sangat jelas terlihat usaha “keras” Najwa untuk membuat Bibit atau Chandra mengeluarkan statement yang berbau negatif untuk Susno Duadji. Untunglah, Bibit dan Chandra (yang menurut pandangan saya adalah orang yang benar-benar baik dari dalam hatinya) tetap bisa menyatakan pendapatnya secara netral, bahkan terdengar positif.
Tentu, tak semua pembawa acara bersikap negatif. Andy Noya dengan acara Kick Andy-nya atau Rossi Silalahi, misalnya, tetap bisa diacungi jempol sebagai acara yang mampu memberikan ruang kepada seseorang (bahkan ketika sebagian orang memandangnya secara negatif) untuk berbicara, mengungkapkan pandangannya, tanpa intervensi apa pun. Dan pada akhirnya, justru bisa membuat penonton bisa menangkap sesuatu yang sebelumnya tak pernah terdengar dari media-media lain yang memberitakan narasumber yang sama. Sisi yang mungkin tak pernah terungkap ketika media cenderung telah punya “agenda” bahwa A adalah pihak yang bersalah, sementara B adalah pihak yang menjadi korbannya.