Tentang Kotak – Kotak ….

Dalam sebuah wawancara televisi beberapa waktu lalu, Denny iskandar, salah seorang tim kampanye gubernur jakarta, Jokowi, mengungkapkan alasan baju kotak-kotak yang dipakai sebagai ‘tema utama’ kampanye mereka.”jakarta itu kotak-kotak. Tanpa harusdikotak-kotakkan juga sudah kotak-kotak….. Jadi, kita pakailanlah kotak-kotak itu ke Jokowi” jawab dia.

Itu tentang Jokowi dan kotak-kotaknya, yang dengan cerdas akhirnya memenangkan persaingan menuju kursi jakarta 1.

Meski begitu, judul kotak-kotak di tulisan ini tak bermaksud membahas soal baju kotak-kotak…

Tapi tentang ini……

Bulan-bulan menjelang akhir tahun seperti sekarang ini, kini disemarakkan dengan banyak spanduk ‘open house’ di berbagai sekolah. Ya, kalau dulu orang tua mendadak pusing di bulan juni juli, karena harus merogoh kocek dalam-dalam demi anaknya, khususnya yang mau masuk sekolah, sekarang bulan oktober saja sudah ‘dipaksa’ pusing….🙂
Lintang, anak saya, memang masih TK A sekarang ini, tapi, melihat fenomena yang mncul belakangan , bahwa di bulan oktober sekolah sudah membuka pendaftaran, dan bahkan memberikan harga jauh lebih murah dibanding pendaftar

yang mepet di bulan juni juli, maka saya memutuskan untuk mulai lirik-lirik SD dari sekarang. Maksudnya, supaya ada ada waktu setahun untuk timbang-timbang, dan oktober tahun depan, sudah siap daftar. Belajar juga dari pengalaman tahun lalu ketika masuk palygrup. gara-gara belom pengalaman masukin anak ke sekolah, yang tadinya bisa bayar uang pangkal lebih murah sebelum desember, karena masih sibuk lihat sana-sini, pilih sana-sini, akhirnya dapat harga lebih mahal karena bayar di gelombang ke-3.

Tentu maksud lain juga utk curi dengar, berapa kira-kira biaya yang dibutuhkan utk uang pangkal, seragam, buku dan sebagainya, yang artinya juga, berapa harus nabung tiap bulan dari sekarang….

Singkat cerita, datanglah saya Ke sebuah open house sekolah di bilangan bintaro, tak jauh dari rumah. Bukan tanpa alasan. Dari beberapa percakapan dengan ibu- ibu lain, di sekolah lintang, di tempat kursus lintang, di blog-blog dan internet, saya mendengar banyak komentar positif tentang sekolah ini.

Meski berstatus ‘sekolah international’ yang berarti saya harus mempersiapkan telinga, mata (dan hati) utk mendengar

harga yang fantastis, tapi saya putuskan untuk memberanikan diri, terutama karena di official website sekolah ini, secara terang-terangan mereka menyebut ‘kami menerima siswa dari segala macam status sosial, ekonomi…..dst’
Dengan bunyi kalimat itu, saya pikir, boleh dong berharap ada kebijakan khusus untuk ‘ level ekonomi’ tertentu… (maunya…..)

 

(sebenarnya, Bapaknya Lintang tidak begitu tertarik dengan  sekolah berharga mahal semacam ini. kasian anaknya, takut minder sama temennya, begitu katanya. di satu sisi memang iya, tapi di sisi lain, ada sesuatu yang juga bisa didapat. semua di kehidupan ini juga begitu kan, seperti mata uang, ada positif ada negatifnya. tentang apa yang membuat berubah pikiran tentang sekolah international, nanti deh, di tulisan lain, takutnya jadi panjang lebar, hehehe…..)
So, datanglah saya, lintang dan Bapaknya ke sana. Penjelasan tentang bagaimana pelajaran diberikan di sekolah itu, yang tak sekadar menjelaskan guru mengajar, seperti yang sy rasakan dulu, memberi kesempatan anak untuk mencari tahu sebanyak-banyaknya, dst, cukup menarik perhatian saya.

Adanya waktu khusus di pagi hari bagi anak-anak utk bercerita tentang apa pun yang mereka lihat, rasa, pikir, alami, dst  ke guru dan teman-temannya juga hal yang berbeda.
Kesempatan utk berkeliling dan melihat lihat suasana sekolah, fasilitas, dsb, okelah…..

Satu ganjalan yg saya rasakan adalah sekolah ini terlalu ‘inggris’. Padahal, TK tempat lintang sekolah sekarang ini bukanlah yang cukup banyak memberi porsi bahasa inggris dalam pelajaran sehari-hari. Meskipun, sekarang ini lintang ikut dalam sebuah kursus inggris utk anak-anak dua kali seminggu, tapi pasti beda dengan yang setiap hari di sekolahnya berbahasa inggris.
Bertanyalah saya ke salah satu guru di sana, sebelum kami pulang.  ‘mungkinkah, anak saya, yang berasal dari sekolah bukan full inggris masuk (atau tepatnya mencoba masuk, karena harus melalui tes) di sekolah ini.

Swear, jawaban guru ini langsung merontokkan semua hal baik yang tadinga tersimpan di benak saya tentang sekolah ini.

jawabannya adalah: “ibu, kalau ibu memang bener-bener minat masukin anak ibu ke sekolah ini, dari sekarang pindahin aja anak ibu ke TK yang full inggris.”

Bujug dah! Pindahin sekolah anak kan artinya siapin uang pangkal. Dan, uang pangkal utk TK international artinya tak cukup 1, atau 2atau 3 atau bahkan 5 juta. Belom lagi uang sekolahnya, yang pasti tak hanya sekian ratus ribu, playgrup international yang pernah saya datangi setahun lalu saja menyentuh angka 1 juta.

Uang pangkal utk masuk SD di situ tahun depan yang berbunyi puluhan juga berkepala 3 dan mungkin tahun depan
Ya, anak sekolah di mana dengan uang pangkal berapa dan uang sekolah bulanan berapa, itu saja, sudah menunjukkan sebenarnya ada di ‘kotak ‘ mana sang orang tua berada.
Belakangan saya pikir, itu jadi kotak-kotak juga untuk si anak, ada yang masuk kotak sekolah nasional, nasional plus, dan international.

 

(Belakangan juga saya tahu, setelah bertanya ke satu sekolah lain yang juga berharga sama tinggi, tak semua sekolah memberi saran “pindah aja ke TK berbahasa Inggris dari sekarang kalau mau sekolah di sini. Di sekolah yang lain ini,

mereka mempersilakan anak dari sekolah manapun untuk mendaftar. kalau diterima, dan ternyata memang kesulitan untuk mengikuti pelajaran, mereka menyediakan waktu ekstra untuk anak-anak ini belajar dengan bahasa Inggris, secara free).

Intinya, dari jawaban itu saya tahu, kalimat ‘menerima siswa dari segala kelompok sosial dan ekonomi ‘di website mereka hanyalah pemanis belaka….

Dan, kotak saya (saat ini) tak sama dengan kotak mereka….🙂