“Obatnya” Bukan Mainan Baru, Ternyata….

“Lintang lagi pengin mainan apa sekarang?” tanya si Bapak di Sabtu pagi itu.

Pertanyaan macam begini – menawarkan untuk membelikan mainan – amat sangat jarang sebenarnya saya, atau Bapaknya Lintang lontarkan pada si kecil kami ini. Bukan enggak sayang anak loh ya, tapi memang mungkin pilihan kami untuk tidak terlalu membiasakannya dengan “limpahan mainan”.

itu alasan pertamanya. alasan keduanya juga sih karena Lintang juga kelihatannya nggak terlalu ‘mainan addict’ gituh. nggak pernah ada cerita dia sampe guling-guling di lantai mall, diliatin orang-orang, nangis teriak-teriak karena minta dibeliin sesuatu. sama sekali nggak pernah!

Narik-narik tangan minta lihat kapal terbang yang pake remote diterbangin sama abangnya yang jual sih pernah. atau kadang minta berhenti lebih lama buat ngeliatin mainan kuda-kudaan yang bisa jalan sendiri – pake tenaga batere tentu saja – mengelilingi sebuah tiang kayu, atau moil-mobilan keren dengan lampu warna-warni. tapi enggak minta.

Pun, kalau kami melihat dia sangat tertarik, lalu ditanya, apakah Lintang perlu mainan itu? setelah mikir dan nimbang-nimbang, biasanya dia akan menjawab, “enggak deh Bu. Kayanya nanti aku juga bakalan bosen cuma ngeliatin mobilan (atau kuda-kudaannya) jalan sendiri begitu…”. jadi, cukuplah dia diberi waktu lebih untuk menikmati mainan itu, yang lagi dimain-mainin ama abang penjualnya, lalu ketika sudah puas, ya sudah…… perjalanan dilanjutkan.

tapi itu nggak berarti lalu Lintang nggak punya mainan ‘pabrik’ sama sekali sih. ada lah… Lagipula, kan ada om – tante – pakdhe – budhe – yang baik hati yang juga sering kasih hadiah mainan buat Lintang. hehehe…. (makasih ya Om Tante, Pakdhe, Budhe).

Dan mainan yang terbanyak di rumah tentu saja adalah mainan buatan Lintang sendiri. Karena anak ini memang sukanya utak-atik sendiri, menuntaskan imajinasinya yang kayanya numpuk-numpuk nggak ada habisnya di otak, hehehe…

Mulai dari topeng-topeng kertas buatan sendiri, aneka kardus yang jadi bentuk robot, barongsay, boneka anjing, mesin cuci, bahkan mesin tiket parkir!

topeng gajah tukang topeng robot kardus

Nah, sekarang balik lagi ke tema utama: Jadi, kenapa hari itu, si Bapak “melanggar kebiasaan” dengan nanya Lintang mau mainan apa??

begini ceritanya……..  *loh, jadi dari tadi ceritanya belom mulai Ver?*tepokjidat*

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Beberapa minggu yang lalu, si Bapak punya rencana akan pergi kurang lebih 5 hari ke Semarang – Jogja – dan sekitarnya, untuk urusan pekerjaan. Lintang Pengin ikut, tapi tentu aja nggak bisa. Dan, si cowok kecil yang rada “melow” ini pun jadi keliatan banget sedihnya. Bahkan, ketika hari-hari keberangkatan si Bapak keluar kota makin dekat, beberapa kali dia nangis. Pas lagi mau tidur – inget Bapaknya mau pergi – nangis. lagi ngobrolin apa, terus nyenggol dikit tema ‘keluar kota”, mewek lagi…

Segala alasan untuk menjelaskan ketidakmungkinan Lintang ikut bapaknya sudah digelontorkan. Segala kata-kata hiburan macam “Tenang aja, kan ada Ibu” atau “Ah…. lima hari cuma sebentar kok, Tang!” pun tak habis-habisnya disuarakan. tetap aja, suasana hati Lintang tak membaik..

Karena itulah, di Sabtupagi itu, di mana sorenya si Bapak bakalan berangkat, tawaran untuk beli mainan baru itu pun dilakukan… Tentu alasannya, supaya Lintang jadi teralihkan perhatiannya pada mainan baru itu, sehingga enggak lagi terlalu mikir ttg Bapaknya yang nggak di rumah.

Dan, kami ini ternyata Lintang punya jawaban. “Aku mau truk yang gede itu Pak!”

Maka, pergilah kami mencari mainan truk besar. Dan memang, Lintang kelihatan begitu excited dengan mainan barunya itu.

Sampai saatnya di Bapak mulai siap-siap berangkat, mulai mandi, dan ganti baju…..

Dengan mata berkaca-kaca, sekali lagi Lintang memohon, “Aku ikut Pak…..” dan nggak lama, “Huuuu….huu…hu…..” usahanya menahan tangis pun jebol!

waduh!

Si truknya enggak manjur nih! begitu pikir saya.

Maka sambil memeluk Lintang, dan mengajaknya ke kamar untuk dapet suasana yang lebih privat untuk diajak ngomong berdua, otak saya pun muter 1000 kali. mesti pake cara apa ya buat bikin Lintang nggak begini.

dan inilah kata-kata yang meluncur dari mulut saya, ga tau juga dapat wangsit tiba-tiba dari mana….

“Lintang, Bapak kan memang harus berangkat ke Semarang, buat kerja. Dan Lintang enggak bisa ikut. Kalau Lintang terus mikirin sedihnya enggak ada bapak selama lima hari, Lintang pasti sedih terus, Lintang jadi pengin nangis lagi, nangis lagi….”

dan lelaki kecil itu  masih belum berhasil menghentikan tangis…

“Nah, sekarang, gimana kalau kita lakukan sebaliknya. Justru Lintang sekarang pikirin hal-hal menyenangkan yang bisa Lintang lakukan di rumah, sambil nunggu Bapak pulang, biar lima hari nggak kerasa…”

Lintang masih sesenggukan….

“Tang, ibu punya ide. besok, kita ke gereja, terus habis dari gereja kita jalan-jalan ke mana gitu, agak lamaan. Misalnya, jalan-jalan di mall yang ada taman di atasnya itu yuk! nanti kita beli apa gitu, kentang goreng atau apa, sama minum, trus kita bawa ke tamannya, duduk-duduk sambil main air, sambil lihat-lihat pemandangan dari atas taman itu deh. Sampe rumah udah jam 2 jam 3, kan udah siang tuh. tahu-tahu juga nanti sore, malem, trus waktunya tidur deh. lewat deh 1 hari.”

Lintang mulai diem ndengerin…..

“Terus hari ke-2nya, kan Lintang sekolah tuh. pasti di sekolah kan juga udah asyik main sama temen-temen. Nah nanti sampe rumah, kita main pake truk barunya Lintang, tapi kita bikin jalur2 perjalanan gitu pake kertas atau pake apa, misalnya ada jalan menuju ke mana, tempat apa gitu, asyik deh pokoknya! main sampe sore, enggak lama  malem, tidur,  nggak kerasa deh hari ke-2 lewat….”

dan seterusnya…… dan seterusnya……. saya membuat jadwal acara asyik seharian, untuk menghabiskan waktu tanpa ada kesempatan untuk inget rasa sedih ditinggal Bapak lima hari.

Dan ternyata itu berhasil! Lintang berhenti dari nangisnya, bahkan ketika tiba waktunya si Bapak berangkat, di ber dadah dadah ria, tanpa menangis sedikitpun!!

Wow!

saya sendiri takjub dibuatnya…🙂

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

JAdi, apa “pelajaran” yang saya dapat hari itu?

Saya diingatkan, bahwa anak, sepinter apapun kelihatannya – yang kadang membuat kita lupa kalau dia masih anak-anak – ada kalanya tak tahu bagaimana caranya melakukan sesuatu.

Dan adalah tugas orang tua untuk mengajarkannya.

Dalam kasus ini, Lintang perlu diajari caranya menghadapi kesedihan.

dan diajari cara menghadapi kesedihan, tidak sama dengan “menggantikan” kesedihannya dengan sesuatu yang membuatnya senang. (Seperti yang kemi lakukan dengan membelikannya truk besar itu). Atau memberinya kata-kata untuk menunjukkan bahwa kesedihannya itu tidak perlu sama sekali. (seperti semua alasan dan hiburan yang kami berikan padanya selama beberapa hari ini)

Jadi, mengajari benar-benar dalam arti  DIAJARI. seperti diberi teori, diberi tahu caranya, ditunjukkan langkah-langkahnya.

“Pelajaran” ini dimulai dengan memberi tahu Lintang bahwa yang dirasakannya itu bernama kesedihan.

Pun, kami tidak menyalahkannya untuk merasa bersedih. tidak pernah ada bentakan, atau kemarahan karena tangisnya minta ikut itu. Anak kecil, pengin ikut bapaknya pergi jauh dan lama, wajar kan? Kenapa harus dimarahi? yang perlu diajarkan padanya adalah bahwa dalam kehidupan ini, seringkali realita memang tak sejalan dengan keinginan kita. Itu akan terjadi selalu dan selalu sepanjang hidupnya, dan kita, sebagai orangtua, tentu harus menyiapkan dia untuk menerima realita itu, dan bisa menghadapinya dengan lebih baik di masa depan.

Selanjutnya, adalah memberinya tuntunan, step by step, cara menghadapi kesedihan. di sinilah ide-ide kegiatan “asyik” saya tadi berperan.

dan begitulah, hari pertama, saya dan Lintang menghabiskannya di taman di atas Mall di deket rumah, menikmati pohon, air mancur, pemandangan dan sebagainya di sana.

hari kedua kami asyik membuat “perjalanan” truk besar mengangkut sampah-sampah dari komplek-komplek perumahan yang diangkut ke tempat Pembuangan Akhir, yang di depannya kami buatkan sebuah warung bakso kecil, sehingga si sopir truk bisa makan bakso sampai kenyang setelah selesai mengangkuti sampah orang-orang komplek perumahan…

Meskipun – di balik segala keasyikannya itu – Bapak tidak akan terlupakan. karena tiap hari selalu ada sesi video call via LINE (video call bok!) sama si Bapak. tapi bagian yang menyenangkan adalah, video call-nya sudah nggak perlu ditemani dengan ke-melow-an, dan tangis sedu sedan (halah!).

Dan di hari-hari berikutnya, Lintang sudah tak perlu lagi dibuatkan kegiatan asyik. Dia sendiri sudah asyik bikin-bikin gambar desain kaos anak buat merk “POSITIPS KIDS” yang dibuatnya, asyik bikin gunung dan lembah pakai bantal-bantal di kamar untuk perjalanan truk versinya, dan sebagainya, dan sebagainya……

dan tak terasa, hari ke lima datanglah, dan si bapak kembali ke rumah. Dan kami semua bahagia….🙂

PS: Buat Lintang –> Jadi, satu “Pelajaran kehidupan” lagi sudah kau pelajari ya Nak…. Semoga ketika di lain masa, ada realita yang tak sesuai dengan yang kau pinta, kau sudah lebih hebat lagi menghadapinya…🙂