DI BALIK KATA “MALAS SEKOLAH” (1): Cara membaca pikiran dan perasaan anak

Di tulisan saya sebelumnya (yang belum baca, bisa meluncur ke sini ya… “Ibu itu Kaya Monster”), saya cerita tentang pelajaran yang bisa saya ambil, dari komentar Lintang, yang menyamakan saya dengan monster, karena menurutnya saya bisa mengetahui semua pikirannya, bahkan tanpa dia harus ngomong.

Kenapa dia bisa menyimpulkan begitu, karena memang, cukup sering, saya bisa menebak apa yang Lintang rasakan atau pikirkan, ketika dia sendiri enggak tahu rasa itu apa, atau yang dia pikir apa. (Iya, “menebak” itu sih kata yang tepat, bukan baca pikiran bener lah, dan beruntungnya saya, hampir semua tebakan benar, hehehe….)

Dan sekarang, saya semakin menyadari bahwa ternyata kemampuan untuk bikin tebakan yang benar itu perlu. Kenapa? Karena ternyata, kalau dari pengalaman saya bersama Lintang, anak itu kadangkala bahkan juga tidak tahu yang dia rasain itu apa, yang dia pikir apa. Atau, dia merasakan sesuatu, tapi susah mengngkapnya jadi kata-kata. Karena baru punya satu anak, dan cowok, saya enggak tahu deh, apakah kalau anak cewek itu lebih ekspresif, lebih bisa ngomongin apa yang dia pikirin dan rasain. Atau mungkin anak cowok bisa ekspresif juga kali ya. Cuman si Lintang ini dapet “contekan” buat jadi cowok cool dari bapaknya, hehehe….. (jadi dari luar kayanya tenang-tenang aja, cool, kalem, padahal di kepala, atau di hatinya menyimpan banyak prahara. Hahaha….. lebay mode on. Enggak ya Mas, becanda. Yang bener Cool, udah gitu aja, titik. hehehe…)

Oke, oke, balik lagi, ke gimana caranya biar tebakan kita selalu benar, terutama kalo anaknya sendiri juga enggak bisa memastikan apa sebenarnya yang dia pikirkan atau rasakan.

  1. Simpan banyak-banyak pengetahuan tentang anak kita

Di Mata Kuliah Psikologi Komunikasi yang saya ajarkan, ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi kecermatan persepsi kita. Apa itu persepsi? Persepsi itu cara kita menyimpulkan suatu peristiwa, pesan, atau pengalaman. Jelasnya, bisa dilihat juga d tulisan saya yang ini.  Nah, salah satu faktor yang menentukan kecermatan kita mempersepsi sesuatu adalah pengetahuan.

Misalnya gini, di banyak pengalaman, kan kita sering dengar, orang yang awal mulanya kita kira Cuma masuk angin, atau penyakit ringan lainnya, ternyata terlambat disadari sebagai penyakit jantung. Nah, buat kita yang orang awam, melihat seseorang merasa enggak enak badan, lemes,  pusing, dan sebagainya, mungkin kita mentok pada diagnosa “oh.. lagi masuk angin”, tetapi kalau kita tanyakan kepada dokter, yang tentu saja jauh lebih banyak punya pengetahuan dibanding orang awam, sebelum menyimpulkan sebagai masuk angin (karena kabarnya memang tidak ada penyakit bernama masuk angin di dunia medis, hehehe…..), maka tentu dia akan mencoba mengamati lebih jelas lagi, pusingnya sebelah mana, rasa pusingnya seperti apa, kemari habis makan apa, habis melakukan apa, habis pergi ke mana, dan sebagainya, dan sebagainya. Karena berdasar pengetahuannya, gejala pusing, lemes, badan enggak nyaman, bisa dihubungkan dengan darah tinggi, kurang darah, mungkin gejala serangan jantung juga, stroke, dan sebagainya.

Jadi, gimana caranya menyimpan pengetahuan tentang anak kita? Tentu dengan cara memberikan perhatian.

  • Perhatikan kesehariannya. Kalau bangun tidur biasanya suasana hatinya bagaimana? Kalau mau berangkat ke sekolah suasana hatinya biasanya gimana? Jam berapa dia biasanya minta makan, jam berapa kelihatan ngantuk dan butuh tidur, dst, dst.
  • Ketika dia cerita, sepulang sekolah, misalnya dengarkan apa ceritanya tentang teman-temannya, tentang gurunya, apa yang dia pikirkan tentang apa yang dilakukan temannya, apa yang dipikirkan tentang sesuatu yang dilakukan gurunya, dsb, dsb. Atau ketika dia mengomentari sesuatu. Dengarkan, ke arah mana pembicaraannya. Apa yang dia pikirkan tentang sesuatu yang dikomentari, dsb.
  • Baca buku, browsing internet, tanya-tanya orang yang ahli. Selain mengumpulkan informasi tentang anak kita sendiri, tentu kita juga mesti bayak-banyak mengumpulkan informasi tentang dunia anak dan parenting. Lewat buku, lewat pengalaman orang lain, misalnya. Tentang masalah apa yang biasa dihadapi anak, tentang cara mengatasinya ketika itu terjadi, dan sebagainya.
  1. Amati ketika ada sesuatu yan tidak seperti hari-hari biasanya

Nah, kalau kita sudah punya semua informasi tentang anak kita, tentu akan lebih mudah buat kita, melihat ada sesuatu yang “tidak biasa” dari anak kita. Bahkan ketika dia belum ngomong ada apa.

Misalnya, biasanya acara berangkat ke sekolah enggak pernah ada masalah, lewat dengan lancar jaya, tapi kenapa pagi ini tumben-tumbenan, ya nih anak susah bener diajak bangun, mandi trus siap-siap? Nah, itu dia! TUMBEN. Itulah kata kuncinya. Ketika ada saat dia tumben, dia tidak biasa, maka kita perlu perhatikan lebih lanjut, ada apa.

Tentu saja, tidak semua peristiwa yang tidak biasa membawa kita pada sesuatu yang “serius” yang harus kita perhatikan pada anak kita. Kita yang orang dewasa kan juga bisa ya, tiba-tiba satu hari jadi orang galak sedunia tanpa sebab, atau lagi pengen males-malesan aja, tanpa alasan yang terlalu penting, atau lagi enggak mood aja melakukan sesuatu. Bisa jadi anak juga cuman lagi seperti itu.

Tentu kita perlu amati lebih jauh kalau perubahan perilaku itu berlangsng lama, dan sayangnya bukan perilaku yang kita harapkan berkembang dalam diri anak kita.

  1. Tanyakan kepada anak, ada apa

Tentu, langkah selanjutnya ketika kita melihat ada yang tidak biasa adalah menanyakan ke anak. (Jangan langsung asal tebak sendiri ya.) Tentu harapannya adalah kita bisa segera mendapatkan jawaban yang jelas, “Aku hari ini males sekolah ah bu, badanku kok soalnya rasanya aneh ya. Agak pusing juga.”

Beruntunglah, kalau anak bisa menjawab degan jelas penyebab  masalahnya, sehingga kita langsung bisa memutuskan respons yang tepat.  Dan sebaliknya, PR kita jadi besar, kalau sudah jelas terlihat ada masalah, tapi anak kita bertahan dengan jawaban, “Pokoknya hari ini enggak mau sekolah!” Apalagi kalau terus dilanjut dengan nangis histeris luar biasa. Waduh! Pucing deh pala berbi.🙂

Tenang…… tenang…. dalam segala situasi, kepanikan itu biasanya tidak menyelesaikan, tapi justru nambah ruwet masalah. Jadi… tenang… apa langkah selanjutnya?

  1. Bandingkan dengan pengalaman kita sehari-hari

Kadang, tanpa kita sadari, anaklah yang justru akan membuat kita semakin mengenali diri kita sendiri. Dan semakin mengenal diri kita sendiri, sebenarnya adalah langkah bagus untuk makin mempertajam “keahlian” kita mengenali anak kita lebih jauh.

Contohnya begini, untuk menebak-nebak, apa sebenarnya yang dipikirkan atau dirasakan Lintang, kadangkala saya mencarinya dalam diri saya sendiri. Situasi macam apa sih yang membuat saya enggak nyaman? Atau, kalau saya sedang berada dalam situasi yang serupa dengan Lintang, saya biasanya ngerasa gimana? Juga, dulu, kalau sayamengalami hal macam begini, respons saya gimana ya? Trus saya ngapain ya?

Begitulah kira-kira…

 

  1. Putar ulang semua informasi yang kita punya

Nah, di tahap awal tadi kan kita sudah mengumpulkan banyak informasi tentang anak kita tuh. Juga mengumpulkan info ttg diri kita sendiri. Ini saatnya, “senjata” itu kita pakai.

Misalnya, eh, kemaren itu Lintang pernah cerita ada gurunya marah-marah di kelas karena ada temen Lintang yan jalan-jalan di kelas. Itu ceritanya hari apa ya? Guru yang marah itu ngajar apa ya? Hari ini, ada pelajaran itu enggak ya? ….

Sejujurnya, acara menebak-nebak alasan Lintang ogeh-ogahan ke sekolah, lalu hari ini ada guru apa saja, dan apakah ada yang pernah marah di kelas hari ini, pernah menjadi salah satu keberhasilan saya jadi “monster pembaca pikiran”-nya Lintang.

Ada suatu hari ketika Lintang cerita, di sekolah tadi ada guru yang marah, karena ada temennya yang jalan-jalan di kelas. Tentu saja yang dimarahi bukan Lintang. Enggak lah ya, Lintang kan anak baik, kalem, ramah, tidak sombong, sopan – persis seperti ibunya. Ehm.

Ketika dia menceritakan hal itu, tampaknya tidak ada suasana emosional yang berlebihan dalam ceritanya. Saya pun ingat untuk menegaskan, “Yang dimarahin bukan Lintang kan? Lintang enggak jalan-jalan di kelas kan? Jadi kalau ada guru marah, dan yang dimarahin bukan Lintang. Maka tenang aja, enggak perlu takut.” Dan cerita itu pun berlalu.

Tapi ternyata, sesuatu yang di hari lalu tampaknya cerita biasa aja, ternyata tersimpan dalam diri Lintang sebagai sesuatu yang enggak biasa, enggak membuat nyaman, dan membuatnya memutuskan, hari ini males sekolah – tanpa bsia menyebutkan, apa alasan sebenarnya yang membuat dia malas sekolah.

Sangat disayangkan memang, di  jaman seperti sekarang ini, saya masih sering dengar cerita bahwa masih ada guru yang marah di kelas dengan cara-cara masa lalu, seperti nggebrak meja pakai penggaris, anaknya diteriakin “kuran ajar”, atau disuruh keluar dari kelas. Lagipula ini kan anak SD. Seberapa parah sih kekacauan yang bisa disebabkan anak SD? Wong saya aja di kampus pegang kelas anaknya udah gede-gede kumisan, sekelas isinya bisa 60 orang, yang kalo semuanya lagi enggak mood kuliah ya bisa bikin pusing kepala juga, tapi enggak pernah deh pake acara nggebrak meja.  Loh… loh.. lho.. kok jadi ngomel-ngomel sendiri. Maapkeun ya, biasa lah emak-emak, hehehe….

Tapi bisa dilihat, betapa kemarahan macam begitu efeknya besar kan ke anak. Itu aja bukan anak yang dimarahin, Cuma lihat gurunya marah, gimana efeknya ke anak yang memang jadi sasaran kemarahannya, coba?!

Makanya, mimpi punya tempat yang ngajarin anak macem-macem, tetapi dengan pengajar yang benar-benar ramah anak, tanpa bentakan, tanpa bantingan keras penggaris, adalah salah satu dasar pemikiran saya, hingga terbentuknya Kumpul Bocah. Kumpul Bocah apaan sih? Silakan melirik ke www.kumpulbocah.com ya…🙂

  1. Ajak anak mengenali perasaan/pikirannya

Oke, balik lagi ke step by step jadi Monster Pembaca Pikiran yaa… Setelah mengintip ke buku agenda Lintang, dan membandingkan dengan ceritanya kemarin-kemarin, benarlah ternyata hari itu ada guru yang pernah diceritakan Lintang marah-marah di kelas.

Tapi kan ini baru tebakan ya. Jangan langsung “menuduh” anak sesuai tebakan kita loh ya. Kalo tebakannya salah, malu nanti! Hehehe…. enggak Cuma malu sebenarnya, tapi bsia jadi, respons kita ke anak jadi salah, jadi enggak tepat sasaran.

Maka yang saya lakukan kemudian adalah mencoba mengajak Lintang mengenali, apa sebenarnya yang membuatnya malas ke sekolah. Benarkah malas sekolah?

Maka kemudian saya melihat ada pelajaran apa saja hari itu. Dan coba ajak Lintang mengungkap perasaannya tentang tiap-tiap pelajaran itu. “Wah hari ini ada nggambar ya, Tang. Kemarin Lintang dapet bintang waktu nggambar apa tuh Tang?” misalnya begitu. Kalau pancingan pertanyaan itu mendapat respons yang positif, misalnya lalu dia cerita seru tentang gambar yang dibuatnya. Atau bagaimana senangnya dia tahu cara mewarnai telur atau gelas sehingga bisa terlihat ada bagian yang mengkilap, misalnya, maka bisa dipastikan dia enggak masalah dengan pelajaran itu. Coba lagi dengan pelajaran-pelajaran lain hari itu. Untuk semua yang oke, maka kita bisa menambahkan kalimat penguat misalnya, “Wah, berarti asyik ya di sekolah itu!” atau…. “Seneng ya Lintang sama pelajaran ini…itu…”. Begitu misalnya.

Atau juga bisa ditambahkan, “kalau begitu, menurut ibu, Lintang bukan lagi males sekolah deh, itu buktinya banyak hal yang Lintang suka di sekolah. Pelajaran hari ini juga banyak yang Lintang senang,“ dan sebagainya.

Lalu, masuklah saya pada pelajaran yang saya duga sebagai sumber “masalah” hari ini.

Jadi, mungkin, ada sesuatu yang membuat Lintang enggak nyaman di sekolah hari ini kah?

Khawatir akan sesuatu?

Pertanyaan-pertanyaan macam begitu yang biasa saya gunakan untuk memancing jawaban dari Lintang. Meskipun seringkali, enggak akan ada keluar jawaban pasti, dan lagi-lagi, saya harus menjadi MMMOOONNNSSSSTTTEERRRRR PEMMMBBAACCAAAAAA PIIIKKIIIIRRRAAAAAAAAAAAANNN!!!! Huahahahahahaha………..!!! (loh kok malah kaya raksasa)

Dengan menggunakan kata “khawatir”, “enggak nyaman”, dan semacamnya itu sebenarnya adalah cara saya untuk mengenalkan berbagai perasaan kepada Lintang. Jadi, alasannya oga-ogahan ke sekolah itu bisa jadi bukan karena malas mengikuti kegiatan sekolahnya, tetapi karena ada hal-hal tertentu di sekolah yang membuat dia merasa tidak nyaman. Beruntung kalau kemudian Lintang bisa memahami itu, dan kemudian menceritakan apa sebenarnya yang membuat tidak nyaman. Dan sekali lagi, kalau itu tidak terjadi, PR buat kitalah, orang tua, utuk membantunya mengenali, lewat acara menebak-nebak.🙂

  1. Pertahankan ketenangan, jangan nambah keriuhan.

Meskipun sejak awal saya sudah memfokuskan tebakan saya kepada 1 pelajaran hari ini, yang Lintang pernah cerita gurunya marah-marah di kelas, tapi tentu saja, saya enggak langsung to the point ke titik itu dong ya.

Alasannya, seperti yang saya sebut di atas, kalau asal tebak dan ternyata salah, enggak oke jadinya. Maka yang saya lakukan adalah menggali dulu kanan-kiri masalah itu, berharap lintang selama proses itu bisa menemukan sendiri bahkan mengungkap pokok masalahnya. Kalaupun enggak, ya enggak masalah, namanya juga anak kan ya? Orang dewasa pun belum tentu bisa mengenal sendiri masalah dalam dirinya kan ya?! Hehehe….

Maka di tahap mulai tebak-tebakan ini, ketenangan diri orang tua perlu dipertahankan. Jangan ikut-ikutan menunjukkan suasana bahwa ada “masalah”, ada “kekhawatiran” dan sebagainya, yang intinya bisa membuat suasana makin enggak nyaman buat anak.

Di point ini, artinya, butuh juga kemampuan bermain sandiwara. Halah! Lebay….

Maka kemudian, yang saya lakukan adalah, dengan tetap pura-pura tenang (jelaslah pura-pura, karena otak saya lagi muter buat menemukan segala macam solusi biar dia bisa berangkat sekolah hari ini dengan semangat seperti biasa, jelas pura-pura tenang juga, karena ini pgi-pagi ya, tahu lah ya, kalo pagi itu jm kayanya jalan banter banget. Belom nyuruh dia mandi, pake seragam, sarapan, tiba-tiba jam udah setengah 7 aja! Udah waktunya berangkat). Maka dengan ketenangan itu, saya buka lagi agenda Lintang, terus pura-pua juga baru lihat ada tulisan di situ, “Oh, hari ini ternyta ada pelajaran ini juga ya Tang? Ini pelajaran yang gurunya kemaren Lintang cerita begini bgini ama temen Lintang karena dia jalan-jalan di kelas bukan sih?”

Kalau jawabannya iya, maka saya teruskan dengan. “Oh…. mungkin, hari ini ini Lintang merasa enggak nyaman mau ke sekolah, karena ada guru ini, dan Lintang khawatir hari ini dia marah-marah lagi ya?”

Tentu kita berharap dia akan mengiyakan. Tapi sayangnya…. belum tentu! Hehehe… entah karena memang tebakan kita salah, atau, anak tidak mau mengakui kalau itu yang dirasakan, atau, karena memang anak belum merasa yakin dan tahu apa sebenarnya yang dia rasakan.

  1. Beri “senjata” ke anak

Di tahap ketika tebakan kita tidak diiyakan oleh anak, maka biasanya saya meggunakan hati saya. Saya yakin, semua orang tua punya keterikatan yang sangat kuat dengan anaknya. Maka sebenarnya kita bisa merasa ini kayanya kenapa. Maka, kalau 85% lebih saya meyakini tebakan saya tepat, biasanya saya akan “membenahi” bagian itu.

Tentu saja, enggak perlu ngotot-ngototan, “Ah, pasti deh karena itu!”, atau yang lebih memaksa lagi, “Alah, ngaku aja, takut gurunya marah lagi kan?” enggak perlu! Buat saya, itu semakin mngecilkan hati anak. Kata “takut” yang kita tambahkan di kalimat itu, justru menambahkan nuansa emosional yang makin negatif. Itu kalau menurut saya sih.

Jadi yang saya lakukan adalah, tidak peduli itu penyebab masalah utama atau bukan, say aberi saja petunjuk atau cara-cara menghadapi situasi ketika si guru marah lagi.

Misalnya begini. “Oke, mungkin bukan karena itu sih Lintang enggak merasa nyaman di sekolah hari ini. Tapi, ibu mau kasih tau aja, kalau nanti guru itu marah-marah lagi ke temen Lintang, Lntang inget aja bahwa itu marahnya ke temen Lintang, bukan ke Lintang. Jadi, Lintang enggak perlu takut atau merasa ikutan dimarahin. Suara orang marah itu memang keras, kadang enggak nyaman telinga kita dengernya, memang begitu, tetapi inget aja lagi, suara keras itu bukan buat Lintang. Jadi tenang aja!”

Kalau tebakan kita benar, biasanya sih dengan kata-kata menenangkan mcam ini, kita bisa melihat ada ketenangan yang muncul juga dalam diri anak kita. Mesti enggak trus smangat berangkat sekolah lagi, tapi setidaknya, terlihat lebih tenang.

Kalau belum berhasil juga, maka cara selanjutnya bisa dipakai:

  1. Alihkan fokus perhatian anak

Daripada terus-menerus mikirin kekhawatiran guru marah. (Perlu ingatkan juga, belum tentu hari ni gurunya marah lagi kan?!), maka baik juga kita mengalihkan perhatiannya.

Misalnya: bicarakan lagi pelajaran-pelajaran yan menyenangkan buat anak hari ini. “Kira-kira hari ini nggambar apa ya? Atau, “Kalau disuruh menggamba bebas, mau gambar apa nanti?” (kalau anak suka banget pelajaran nggambar, misalnya)

Atau, saya memberinya “tugas” untuk mengingatkan temannya, agar tidak jalan-jalan lagi waktu pelajaran ibu itu nanti, supaya ibu itu tidak marah-marah di kelas. Ada anak yang suka kala dipercaya atas tanggung jawab tertentu kan? Nah, jadi “pejabat yang berwenang” mengingatkan temannya untuk jadi anak baik, siapa tahu membuat anak lebih bersemangat? Kenapa tidak dicoba, kan!?

Kalau masih belum berhasil juga, pilihan terakhirnya adalah, cari sesuatu yang disenangi anak, dan kalau dijanjiin itu, maka kita bisa yakin, seharian dia akan menanti-nanti hal itu, yang tentu saja tujuannya, melupakan kekhawatirannya. Misalnya, “Eh, udah lama ya kita enggak makan warung yang ada jam besarnya  itu ya, Tang? (ini adalah warung makan tempat Lintang dan saya mampir sepulang jemput dia sekolah, kalo lagi pengen makan en ngobrol-ngobrol berdua ama Lintang. Hehehe… Tempatnya sepi – sebenernya tidak menguntungkan untuk penjual, tapi menguntungkan saya dan Lintang sebagai pembeli. Karena bisa ngobrol asik tanpa terganggu suara pengunjung lain, dan enggak perlu nunggu terlalu lama juga untuk dilayani). “Nanti siang, abis pulang sekolah, kita mampir situ yuk!”

Itu adalah beberapa tips dan trik yang pernah saya pakai. Kadang berhasil, kadang juga enggak sih, hehehe….. Maka kalau tidak berhasil, tipss terakhir ini perlu dilakukan:

  1. Tahan emosi, Be creative!

Jadi orang tua itu menurut saya kaya sekolah. Isinya tiap hari belajar. Belajar menghadapi anak yang lagi seneng tanya ini-itu, belajar menghadapi anak yang lagi bad mood, belajar caranya ngajarin dia berbagi, belajar macem-macem! Dan untuk bisa menjalankan tugas itu, selain kita, orang tua mesti banyak belajar, mesti juga kreatif. Karena, anak itu unik. Yang dibilang orang tua lain, belum tentu pas kalau kita terapkan ke anak kita. Yang dibilang ratusan buku, belum tentu cocok kalau diaplikasikan ke pengalaman kita sendiri. Jadi, be creative!

Dan inget, tahan emosi. Ketika ada masalah, dan kita ikutan naik darah, bisa dipastikan emosi itu akan menambahkan keriuhan masalah, bukan menenangkannya. Intinya, kalau anak bilang malas sekolah, jangan langsung menuduhnya anak malas beneran, lalu keluarlah mantra panjang lebar, seperti: sekolah tuh mahal, kita udah keluar uang banyak buat bayar sekolah, kok cuma malas. mau jadi apa kamu kalau malas sekolah, bla…bla…bla…. Karena di balik kata malas sekolah itu, mungkin ada alasan lain yang perlu kita tahu, dan bahkan perlu kit awaspadai. seperti: apakah ada perlakuakn anak lain yang membuatnya tidak nyaman? atau bahkan perlakuakn orang dewasa di sekolah yang membuatnya tidak nyaman? atau apa… cari ulu akar masalahnya. Jangan masukkan emosi ke dalamnya.

Selamat belajar terus menjadi orang tua!!

NB: Kenapa di atas ditulis judul “Di Balik Kata Malas Sekolah (1)? Karena saya erniat menuliskan tentang satu hal lagi, penyebab anak malas sekolah, tapi baru niat. Tulisannya belum ada. Jadi semoga “Di Balik Kata Malas Sekolah (2)” Bisa segera publish. Tungguin ya!!