“Ibu itu Kayak Monster!”” – Belajar sedikit tentang psikologi komunikasi dari secuil komentar Lintang –

monsters-university-nathan-fillion-disney

“Ibu itu kaya monster!” begitu suatu kali saya mendengar, Lintang berkata, untuk menjawab pertanyaan seorang teman saya tentang seperti apa saya, ibunya, di mata Lintang.

“Waduh! Kok Monster?!” tersentak juga saya dengernya. Yang tanya temen lagi. Artinya, ada orang lain yang dengar jawaban itu. (Mana ada orang yang mau dibilang jelek atau enggak baik sama orang lain kan? Apalagi, dibilang enggak baik, atau jelek, DI DEPAN ORANG LAIN.

Eh…eh… eh.. bentar…., Jelek? Enggak baik? Emang Lintang bilang begitu? Enggak kan? Lintang kan bilangnya “Ibu itu kaya monster!” jadi apakah itu berarti jelek? Kita mesti lihat adegan berikutnya…

“Kenapa kaya monster, Tang?” tanya teman saya, sama penasarannya seperti saya.

Dan inilah jawaban Lintang, “Soalnya, ibu itu selalu tahu pikiran aku. Padahal aku enggak ngomong apa-apa.”

Fiiuuuuhhhh!!! Leganya saya. Tentu saja, tanpa bisa saya tahan, ada sesungging senyum otomatis muncul di wajah saya. Ya iyalah! Yang tadinya saya udah deg-degan karena dibilang monster, yang dalam bayangan saya artinya jelek, ternyata artinya, tak seperti bayangan saya. Ternyata di mata Lintang saya adalah MONSTER PEMBACA PIKIRAN. Hehehe…..

Itu cuma secuil kejadian di suatu siang, di rumah saya. Tapi buat saya, itu mengajarkan beberapa hal, yang membuat kejadian hari itu perlu saya simpan dalam memori saya, perlu saya simpan juga dalam tulisan di blog ini, siapa tahu berguna juga, buat Anda.

  1. Setiap Orang Membuat Makna dan Arti dengan Caranya Sendiri.

Di mata kuliah Psikologi Komunikasi yang saya ajarkan di kampus beberapa tahun terakhir ini, ada satu tema besar yang judulnya persepsi. Persepsi itu, simpelnya adalah bagaimana kita menyimpulkan, menafsirkan, atau memaknai suatu pesan, suatu kejadian, peristiwa, pengalaman dan sebagainya, dalam kehidupan kita.

Karena tiap manusia itu unik, maka kadangkala, kita punya persepsi yang berbeda atas sesuatu, meskipun yang kita lihat, dengar, baca, sama dengan orang lain.

Sama seperti pengalaman saya tadi. Begitu mendengar kata monster, maka saya langsung menghubungkannya dengan jelek, atau tidak baik. Kenapa? Karena di era saya, film anak-anak yang bertema monster tentu saja akan menampilkan bentuk-bentuk aneh dengna wajah buruk rupa, gigi panjang dan tajam, badan lengket, suara keras menyeramkan, dan semacamnya. Karena itulah saya sempat deg-degan, ketika Lintang menyamakan saya dengan monster.

Nah, pada saat itu saya lupa bahwa di era Lintang, kan udah ada film Monster University. Iya sih muka monsternya tetep aneh dan jelek-jelek juga, tapi di sana ada tokoh Mike dan Sulli, yang meskipun monster, keduanya punya hati yang baik, bahkan bisa jadi teman seorang anak perempuan kecil.

Sayangnya,  sampai detik ini, saya belum berhasil mengingat-ingat, film apa yang pernah Lintang tonton yang membuat Lintang bisa menyimpulkan bahwa salah satu “keahlian” monster adalah  membaca pikiran. Seperti saya, hehehe….. (enggak ding! Swear deh, saya bukan cenayang kok!)

 

  1. Jangan terlalu cepat bereaksi atau membuat arti. Lihatlah secara menyeluruh

Untungnya, saya bukan ibu-ibu yang begitu dengar kata monster – dan dihubungkan dengan saya pula – lalu langsung bereaksi dengan, “Apa kamu bilang? Ibu monster??? Awas kamu! Dasar anak enggak sopan!! Bla…blaaa..bla….!!!” Dengan mata melotot, ngangkat gagang sapu, dan sebagainya – intinya jadi monster beneran.

Enggak lah ya, saya kan baik hati, ramah, dan tidak sombong…🙂

(Yang sayangnya, dalam perjumpaan sehari-hari saya dengan orang-orang di sekitar, saya masih sering melihat tipe orang tua yang terlalu reaktif semacam ini. Anaknya bilang apa dikit aja, “sambutan”-nya sudah sedemikian “meriah”, yang seolah anaknya begitu merepotkan, begitu menuntut, begitu mencari perhatian, begitu menjengkelkan. Padahal baru ngomong satu kata loh! Belum tentu juga kata-kata berikutnya memang sungguh akan membuat ibunya jengkel atau repot).

Untungnya, saya sabar menunggu penjelasan Lintang berikutnya, tentang moster yang ia maksudkan. Yang ternyata membuat saya sedikit besar kepala (dikit aja kok, boleh kan ya?!), karena ternyata “monster” itu adalah sebuah pujian Lintang untuk ibunya, karena bisa jadi pembaca pikirannya.

Dalam mata kuliah Psikologi Komunikasi yang saya ajarkan, tentang melihat keseluruhan sebelum memberi makna ini juga adalah salah satu hal yang ditekankan, terutama dalam aliran psikologi Gestalt. Bahwa sebelum manusia bisa merespon sesuatu, maka ia harus melihat stimulusnya secara menyeluruh.

Kalau kita lhat ada tetesan air mata di wajah seseorang, tentu kita tidak bisa langsung serta merta merespon dengan, “Udah, enggak usah sedih!”, iya kalo dia sedih beneran. Kan ada juga air mata bahagia to? Anaknya yang bertahun-tahun merantau, dan tak jelas kabarnya, tiba-tiba saja hari itu menelepon, pasti ada air mata bahagia di sana. Jadi, perlu lihat dulu konteksnya. Perlu lihat dulu gambaran besarnya.

Sejalan dengan ide “Don’t judge the book by it’s cover” gitu deh. Kita kan enggak bisa nilai orang dari baju apa yang dipakainya saja kan. Tentu kita perlu juga ngobrol denganya, untuk tahu apa saja yang dia tahu tentang hidup ini, bagaimana pandangannya tentang kehidupan, mencoba juga menganal siapa saja teman-temannya, tahu tentang apa yang dilakukan sehari-hari, dan seterusnya, barulah kita bisa memberi nilai yang lebih baik (meskipun tidak selalu benar juga. Karena kata pepatah, dalamnya hati orang, siapa yang tahu, iya kan?!).

  1. Jadilah Monster Pembaca Pikiran, itu keren! (kalo kata Lintang, hehehe….)

Nah, ini pelajaran penting buat saya. Ternyata, jadi ibu yang bisa baca pikiran itu, keren di mata Lintang, hehehe….

Emang saya bisa baca pikiran beneran? Enggak lah. Beneran kok, saya bukan cenayang.Sekali lagi, kalo di mata kuliah psikologi komunikasi, ada salah satu faktor penentu keefektifan persepsi interpersonal (persepsi, yang secara khusus objek persepsinya adalah manusia lain. Lawan bicara kita biasanya), yaitu pengalaman.

Kalu mengacu pada faktor ini, maka sebenarnya kebiasaan seorang ibu untuk mengenali ada sesuatu yang berbeda pada anaknya (meskipun anaknya enggak bilang apa-apa), adalah karena pengalaman. Karena si ibu ini adalah orang pertama yang berinteraksi dengan si anak, bahkan ketika ia belum lahir ke dunia. Dan bagi banyak ibu, semua proses kehidupan anak itu, mulai dari bangun tidur, mandi pagi, berangkat sekolah, pulang sekolah, makan sang, tidur siang, main, sampai dia tidur lagi ada di bawah pengawasannya. Sehngga wajarlah, dengan semua pengalaman itu, ibu tahu, saat-saat si anak menunjukkan perilaku normal, biasa, atau ketika ada “apa-apa”.

Iya sih, kalo tahu ada yang enggak normal pasti biasa. Tapi tahu yang enggak normal itu apa, gimana caranya? Nah… kalo itu mah soalnya hebatnya saya jadi monster pembaca pikiran! Hehehehe……

Enggak, enggak. Becanda. Beneran, saya enggak punya indera keenam apapun buat baca pikiran orang.

Jadi, tenang aja, saya akan bocorin cara bisa jadi “MONSTER PEMBACA PIKIRAN” buat anak-anak kita, di tulisan lain saya, di sini....

Siapa tahu anak-anaknya ayah dan bunda yang baca tulisan ini juga berpikir kaya Lintang, bahwa punya orang tua yang bisa baca pikiran itu cool.

Silakan meluncur ke sini ya!🙂