IKEA: Unik dan Beda, Peduli, Menginspirasi, dan Mengerti

Ya, tambah anak, tambah rejeki, begitu kalimat bijak dari orang-orang tua. Entahlah tentang itu, tapi yang pasti, tambah anak artinya perlu ruang ekstra untuk anggota baru ini.  Kalau masih kecil-kecil sih enggak masalah. Masih bisa “diselipin” tidurnya bareng Bapak Ibu. Tapi kalau sudah mulai besar, maka tak bisa dihindari, renovasi rumah harus terjadi.

Rumah yang tadinya hanya punya 2 kamar tidur, 1 kamar utama, dan 1 kamar lain untuk si Kakak, atau kalau ada tamu datang ya untuk tamu, tentu kini  harus ditambah. Minimal harus ada 4 kamar, dengan 2 anak yang makin besar ini.

Yang tadinya 1 lantai, rasanya sudah perlu dijadikan 2 lantai, karena tak mungkin 4 kamar tidur, bersama dengan ruang-ruang lain yang memang perlu ada, didesak-desakkan di 1 lantai dengan luas tanah seuprit.

Renovasi sudah jalan beberapa bulan. Melihat progress renovasi rumah yang sudah hampir selesai, tampaknya memang sudah saatnya untuk melihat-lihat perabot yang kami butuhkan untuk ruang-ruang baru yang ditambahkan ke rumah mungil kami ini.

Maka, , “Ke IKEA Indonesia yuk!” ajak saya ke pak Suami siang itu. Dan ternyata disahuti lebih cepat oleh dua bocah kecil saya, “Ayuk, Ayuk, Bu! Aku mau ke IKEA!” Dan kalau sudah 3 lawan 1 begini, apa bisa si Bapak menolak? Tentu saja tidak…. Hehehehe….

 

Kenapa ke IKEA?

Alasan pertama, kerena toko ini dekat dengan rumah kami. IKEA terletak di kawasan Alam Sutra,  Tangerang. Kami  tinggal di Graha Bintaro. Hanya butuh waktu sekitar 15-20 menit untuk sampai ke IKEA.  Nah, kalau ada pilihan tempat yang hanya butuh waktu singkat untuk mencapainya, bebas macet pula, kenapa tidak? Jadi, berangkat…..

 

Unik dan beda

Sampai di IKEA, kami menuju ke area ruang keluarga. Renovasi rumah yang kami lakukan membuat rumah kami akan punya satu ruang cukup luas dan terbuka di lantai bawah. Tentu saja, area ini kami maksudkan sebagai ruang serbaguna: untuk menerima tamu, untuk acara kumpul-kumpul keluarga atau kangen-kangenan bareng sahabat, tempat  anak-anak main, atau sekadar duduk-duduk santai sambil  ndengerin si Bapak atau Lintang main piano, dan baca buku (karena lemari besar penuh buku – yang super berat – yang kami miliki sejak bertahun-tahun lalu, tak mungkin diangkat naik ke atas, maka jadilah ruang bawah itu plus perpustakaan keluarga).

Perhatian saya dan suami langsung tertuju pada sofa seri VALLENTUNA. Kenapa? Perabot yang satu ini punya konsep “serba bisa”.  Dirancang dengan gaya modular, sehingga kita bebas untuk mengkombinasikannya jadi apa saja. Ada modul dudukan biasa, ada modul dudukan yang juga sekaligus sebagai tempat penyimpanan, bahkan ada modul dudukan yang bisa juga dijadikan sebagai tempat tidur. Mau tambah sandaran, dudukan tangan, bahkan ganti lapisan pembungkusnya pun tersedia.

“Wah, cocok banget sama konsep “serbaguna”-nya ruangan bawah nih!” kata si Bapak yang tentu saja saya setujui. Sudah terbayang bagaimana “keriuhan” aneka mainan anak-anak, bisa disembunyikan dengan cantik di bawah dudukan sofa keren itu. Modul dudukan plus tempat tidurnya pun memungkinkan kami punya ruang tidur tamu, tanpa harus menambah bikin kamar tidur. Bantal-bantal, selimut dan seprai cadangan, juga bisa menyelip cantik di tempat penyimpanan di bawah dudukan.

Begitu juga buku, Koran, majalah, bahkan mungkin laptop yang tak sempat dirapikan ketika tiba-tiba ada tamu, tampaknya bisa ngumpet sementara di bawah dudukan sofa itu. Semua masuk dan rumah rapi dalam sekejab. Hmmm…. Menarik nih!

20164_lisr01a_03_ph132853

Inilah sebenarnya yang jadi alasan ke dua kami memilih IKEA sebagai tempat memilih perabot baru rumah kami.   IKEA selalu menawarkan produk dengan desain yang unik, tidak biasa, tapi yang paling penting, enggak cuma asal unik dan beda, fungsinya memang dibutuhkan. Jadi, Vallentuna….bungkus!!

 

Mengerti dan memberi inspirasi

Urusan ruang serbaguna selesai. Mulai memikirkan lantai atas. Setidaknya ada dua kamar tidur anak yang perlu diisi perabot. Kamar utama dan kamar untuk tamu, cukup pakai barang-barang lama saja.

Maka kami mulai menuju area kamar tidur anak. Sebenarnya, kami masih belum terpikir, seperti apa baiknya isi kamar anak-anak ini. Kamarnya tidak terlalu luas. Hanya 3x3m, tentu akan penuh sesak jadinya, kalau masing-masing harus diisi (minimal) dengan 1 tempat tidur, 1 lemari pakaian, dan 1 meja belajar. Tapi tiga perabot itu kan penting, masak harus dikurangi salah satu demi ruang yang lebih luas?

Tak harus berbingung ria lama-lama, karena sesampainya di area tempat tidur anak, IKEA ternyata langsung memberi jawabannya.  Tak hanya satu malah, kami dihadapkan pada beberapa jawaban. Ada SVARTA, rangka tempat tidur tinggi, yang bagian bawahnya bisa ditambahkan meja untuk belajar, plus lemari pakaian. Jadi, tidak terlalu menghabiskan tempat. Ada juga STUVA, tempat tidur tinggi yang bahkan sudah menyertakan meja belajar dan lemari pakaian di dalam desainnya. Tersedia juga rangka-rangka tempat tidur yang dilengkapi laci-laci di bawahnya.

Inilah alasan berikutnya mengapa berbelanja di IKEA begitu menyenangkan dibandingkan dengan toko-toko lain yang menyediakan aneka perabot rumah tangga. Penataan tokonya yang didesain menyerupai ruang-ruang asli di rumah, membuat saya – yang biasanya tak puny ide cukup yahud dalam menata rumah – jadi punya “contekan” atau istilah kerennya terinspirasi, dari contoh penataan di toko IKEA.

Tak hanya itu, IKEA pun seolah mengerti, bahwa tak semua orang mampu punya rumah dengan tanah luas dan ruang-ruang lebar. Karenanya, mereka pun menyediakan aneka perabot yang didesain secara apik. Tak menghabiskan temmpat, tapi semua fungsi yang dibutuhkan ada di sana.

Setelah berbagai pertimbangan – salah satunya karena rasanya tak aman kalau anak-anak tidur di tempat tidur tinggi, maka kami memilih dua produk BRIMNES, dipan dengan 2 kotak penyimpanan di bawahnya. 1 untuk kakak dan satu untuk adik. Jadi, kami tak perlu menambahkan lemari pakaian di kamar anak, dipan dan satu meja belajar kecil saja sudah cukup.

 

Belanja sambil mengajarkan anak peduli pada orang lain dan mandiri

“Bu, kayaknya aku perlu papan tulis deh, untuk nyatet-nyatet apa gitu yang penting, yang harus dibawa, tanggal ada ulangan, macam-macam gitu deh…” si Kakak berujar. Si Bapak setuju untuk menambahkan papan tulis, dan saya pun pengin membelikan boneka untuk menambah semarak ruang si adek. Maka kami mampir juga ke bagian kebutuhan anak, mainan dan boneka. Nah, tentang boneka, Ada alasan khusus juga mengajak anak membeli boneka di IKEA. Dari berbagai sumber saya tahu bahwa IKEA punya kepedulian pada anak dan wanita, khususnya di bidang kesehatan dan pendidikan.Salah satu cara yang dilakukan IKEA untuk berkontribusi pada anak dan wanita adalah dengan menyumbangkan 1 euro dari setiap penjualan boneka di tokonya selama bulan November dan Desember melalui organisasi Save the Children.

Jadi, saat membeli boneka di IKEA, saya punya kesempatan juga untuk mengajarkan kepada anak-anak bahwa di luar sana, ada anak-anak yang kondisinya tak seberuntung mereka, dan ada banyak cara untuk ikut membantu. “Jadi kalau gambarku menang, terus dibikin boneka, trus bonekanya dijual di IKEA, aku juga ikut bantuin anak-anak itu ya. Bu?” saya ingat si kakak pernah berkomentar demikian ketika hendak ikut lomba tahunan desain boneka yang diadakan IKEA beberapa waktu lalu.

fabler-bjorn-boneka__0468047_pe611124_s4

Sebenarnya, ada beberapa hal positif lain yang bisa dikembangkan pada anak-anak lewat berbelanja di IKEA. Kalau baca postingan ibu-ibu di The Urban Mama, misalnya, kita akan menemukan cerita tentang mengembangkan kemandirian anak (misalnya ketika ingin es krim, maka anak bisa memasukkan koinnya dan mengambil es krimnya sendiri), juga ada cerita tentang kegiatan mengasyikkan bersama keluarga, karena IKEA menerapkan konsep DIY/Do it Yourself, sehingga setelah berbelanja pasti akan ada proyek merakit bareng di rumah.

 

Makanan di restoran yang Nyam Nyam

Sofa serbaguna udah, tempat tidur udah, papan tulis dan boneka udah. Enggak terasa, udah lebih dari dua jam ternyata kami muter-muter di IKEA. Masih ada yang perlu dicari sih sebenarnya. Kolam renang yang mau dibangun di bagian belakang lantai bawah perlu juga dicariin pernak-perniknya, begitu juga area kebun kecil di lantai dua yang saya bayangkan bisa jadi tempat “ngadem” sambil nulis buku atau artikel ketika datang inspirasi, atau bisa juga jadi tempat ngobrol bareng anak-anak, sambil ngeteh en makan camilan, juga bisa dipakai sebagai tempat alternative buat si kakak en adek ngerjain PR dan belajar, kalau lagi bosen di kamar, sebenarnya perlu meja dan kursi, juga aneka pot dan tanaman untuk diisi.

Tapi…. Kaki rasanya udah pegel-pegel, dua anak kecil ini pun tampaknya sudah tak sesemangat saat berangkat. Jadi,untuk kolam renang dan kebun kecil, mungkin minggu depan. Sekarang waktunya ke… restoran IKEA!!

“Siapa mau makan hotdog dan es krim?” Tanya saya pada dua bocah itu, yang langsung dijawab semangat.

“Mau, mau! Aku mau!” kata mereka.

Maka meluncurlah kami berempat ke area restoran, karena saya tahu sejak Agustus sampai Oktober 2016 sedang ada promo combo hotdog & es krim cuma 9000 rupiah! Mantap kan!? Jadi, siapa yang tak senang belanja di IKEA? Yuk, ke IKEA!

 

*********************

 

“Bu, Bu, enggak ada lauk nih. Nasinya juga tinggal dikit. Aku laper,  Bu!” suara si kakak tiba-tiba mengejutkanku.

“Kenapa, Kak?” tanyaku memastikan, keinginan si Kakak.

“Aku laper, enggak ada lauk bu. Nasinya juga tinggal dikit…” Kakak mengulangi.

Hah, bukannya kita lagi di IKEA ya, lagi makan hotdog. Masih kebingungan saya mulai tengak tengok, memahami situasi.

Kok di tempat tidur? Kok rumahnya masih begini? Mana kolam renangnya? Mana lantai duanya? Mana kebun kecilnya?

Oalaaaah…. Ternyata saya ketiduran saat menidurkan si adek tadi, dan  semua itu tadi cuman mimpi. Ya Ampuuunnn!!!

“kita makan di IKEA aja deh yuk, Kak!” ajakku.

“Hah, makan di IKEA Bu?

🙂

 

#TUMIKEABlogCompetition