Ibu Sayang Adek enggak?

photo-13“Ibu sayang sama adek nggak?” begitu tanya Lintang suatu sore.
Agak kaget saya mendengar pertanyaan ini, sekaligus menduga2 ke mana sebenarnya arah pertanyaannya.
“Ya sayanglah!” Jawab saya. “Kenapa Lintang tanya gitu?”
Dan Lintang menjawab, dengan sebuah pertanyaan, “Meskipun adek nangisnya keras banget, ngamuk-ngamuk kaya tadi malem itu, ibu tetep sayang?”

Oalaaah… Jadi tentang ini to. Batin saya. Sedikit lega, karena arah pertanyaannya bukan sesuatu yg saya harus khawatirkan – seperti tanda-tanda sibling rivalry, misalnya.

Jadi, latar belakang ceritanya, malam sebelumnya, memang Sekar, adik Lintang “ngamuk” tak seperti biasa. Menangis keras sekali. Kami menduga, penyebabnya karena tidurnya “kagol”  (swear, setelah dipikir panjang, tetep nggak nemu itu bahasa yg tepat untuk menggantikan kata kagol, hehehe…). Pada jam yg biasanya dia tidur, kebetulan ada acara di rumah, dan cukup banyak orang. Sekar bisa tidur sih, tapi tentu saja berulangkali terbangun, karena suara2 banyak orang di sekitarnya. Akhirnya sampai larut malam dia justru tak segera tidur. Matanya sudah terlihat ngantuk, capek, tapi susah utk tertidur. Akibatnya…. Nguamuk! 😁

Saya menjawab Lintang, “Ya tetap sayang lah, Tang. Masak cuma karena anak nangis bikin ibu nggak sayang ama anak.”

Lintang menyahuti lagi dengan sebuah pertanyaan, “Kalau ibu nggak sayang, Sekarnya pasti ibu biarin aja ya, ga berusaha dibikin diem sama ibu?”

Hmm.. saya tak segera mengiyakan.

Begini jawaban saya, “Enggak selalu juga, kalau ibu mbiarin anaknya nangis, berarti ibu nggak sayang Tang. Lintang inget nggak, dulu, waktu Lintang masih kecil, dan udh bisa ngomong, kalau Lintang nangis, merengek2 minta sesuatu, ibu justru akan bilang, ‘Lintang, ibu nggak bisa denger apa yg Lintang omongin, yang Lintang mau, yang Lintang minta, kalau ngomongnya sambil nangis begitu. Jadi, ibu nunggu Lintang stop dulu nangisnya baru ibu dengerin kalau Lintang udah bisa ngomong yang jelas maunya apa.’ inget nggak, Tang?”
“Enggak!” Kata Lintang.

“Ibu dulu sering begitu mbiarin Lintang sampe berenti merengek dan nangis, dan baru ndengerin kalau Lintang udah ngomong dengan bagus maunya apa, nggak sambil merengek2. Dan liat deh sekarang, Lintang pernah enggak minta sesuatu ke bapak ibu sambil merengek2 begitu?”

“Iya ya bu. Enggak pernah. Padahal aku sering banget liat anak2 kecil nangis merengek2 minta apa gitu kalau di pasar atau di mall. Aku nggak pernah ya,” kata Lintang, seperti baru tersadar akan sesuatu.

“Nah, jadi menurut Lintang, kalau ibu ndiemin anaknya, mbiarin dia nangis, untuk ngajarin anaknya bahwa ada cara yg lebih baik untuk ngomongin apa maunya, itu ibu sayang apa enggak?”
“ya Sayang lah,” jawab Lintang.

“Tapi, karena dek Sekar belum bisa ngomong, dan caranya minta atau ngasih tau sesuatu adalah dengan nangis, ibu tentu saja nggak bisa mbiarin Sekar nangis sampe diem sendiri kan? Tapi nanti, kalau dia udah bisa ngomong, tapi tetap pakai cara nangis atau merengek2 utk minta sesuatu, baru ibu ajarin Sekar seperti ibu ngajarin Lintang dulu. Gitu Tang…!”

Dan Lintang pun mengangguk-angguk.

*************

Entah bagaimana, percakapan saya dengan Lintang tentang sayang – nggak sayang itu membawa saya pada sebuah permenungan (halah…. Seriyes amat pake bermenung-menung segala, hihihi…).

Saya jadi tersadar bahwa, ketika saya atau mungkin juga Anda, kita semua lah begitu intinya, berada pada situasi kehidupan yang berat, yang penuh hambatan, rintangan, kesulitan, yang berkepanjangan, dan bala bantuan dari Atas Sana  kok rasanya nggak segera “diturunkan”, maka mungkin inilah juga yg terjadi.

Bukannya Tuhan lupa sama saya, bukannya Tuhan nggak sayang, bukannya Tuhan nggak mau nolong, tapi mungkin ini adalah saat ketika dia baru bilang ke saya, “Come on Ver! Kamu bisa lebih baik dari sekadar merengek-rengek minta dibantuin!”

Mungkin Tuhan sedang menyuruh saya tetap berjalan maju, karena siapa tahu, tepat setelah pengkolan pertama di depan sana, ada jalan baru, yang belum pernah saya ambil sebelumnya, atau jalan lama, tapi tak pernah saya lirik atau coba buka pintunya, tapi kali ini, jalan itu bisa jadi pintu keluar terbaik untuk saat ini.

Dan, sama seperti Lintang, kali ini saya yang mengangguk-angguk, sambil mbatin, “Oke deh Tuhan! I get it…”🙂