KETIKA CINTA (seharusnya tidak) BERSYARAT

“Mama enggak sayang kamu!” bentak seorang ibu.

“Sayang dong, Ma…” rengek si anak, yang usianya belum genap 3 tahun, tampaknya.

“Kamu dari tadi disuruh duduk nggak mau sih. Mama nggak sayang kamu!” jawab sang ibu lagi

“Sayang, Ma…” si kecil merengek lagi, hampir menangis.

“Enggak!” jawab ibu.

“Sayang, Ma…” air mata si kecil itu hampir menetes.

“Makanya, sekarang kamu duduk yang manis, baru Mama sayang kamu….”

 

***********************************

 

Cerita di atas bukan adegan sebuah sinetron. Kejadian itu, sungguh pernah terjadi di depan mata saya, mungkin tak lebih dari satu meter jauhnya. Jadi, bukan menguping, tapi memang sungguh terdengar.

Dan saya enggak bohong, ketika bilang, mata saya pun ikut berkaca-kaca, ketika mendengar si anak perempuan kecil itu merengek-rengek minta disayang sang mama. Bahkan hari ini, ketika saya menuliskan cerita ini – meskipun kejadiannya sudah terlewat berbulan-bulan lalu, tapi belum sempat menuliskannya – dada saya kembali terasa sesak.

 

Semoga semua anak bahagia

Saya memang suka rada lebay kalau melihat anak-anak yang terluka. Suka ikutan berkaca-kaca, ikutan pengen protes, ikutan sesek di dada.  Seorang teman saya, yang lulusan psikologi (juga) pernah bilang, “Mungkin kamu punya unfinished business Ver, di masa kecilmu.” Ya mungkin juga, entahlah… Tapi sungguh, saya ingin semua anak bahagia. Tak menyimpan luka. Sehingga mereka bisa tumbuh dan berkembang sempurna.

Sesungguhnya, saya sering memprotes diri saya sendiri, kenapa tak punya cukup keberanian untuk menegur orang – yang tidak saya kenal tentu saja, dan yang saya temui di tempat umum – yang  menurut saya salah dalam memperlakukan anaknya. Kenapa saya membiarkan itu terjadi pada si anak kecil itu dan tidak menghentikannya.

Tapi di sisi lain, saya juga punya pertimbangan lain. Karena tak kenal, tentu saya tak bisa memperkirakan bagaimana reaksi orang itu ketika menerima teguran atau masukan dari saya. Bisa jadi, di depan dia oke-oke. Tapi bagaimana kalau ternyata dia tak terima, lalu nanti kemarahannya dilampiaskan kepada si anak, ketika saya tak lagi ada di sana.

Ini yang paling saya khawatirkan. Yang biasanya kemudian membuat saya memutuskan untuk tidak ikut campur.

Tapi tentu tak berhenti diam saja, saya meniatkan diri saya untuk menulis sesuatu tentang ini. Menyebarkannya lewat jalur-jalur yang saya punya, berharap banyak orang tua yang membaca – jika semesta berkehendak, semoga juga bisa sampai si ibu yang jadi alasan saya menuliskan ini juga – dan dengan demikian semakin banyak orangtua memperlakukan anaknya dan semestinya, dan akhirnya semakin banyak anak yang bahagia….

 

Ketika cinta bersyarat

Jadi, kenapa saya ikut berkaca-kaca ketika si kecil itu merengek-rengek minta si ibu bilang sayang padanya? (mungkin, begitu juga Anda). Tentu saja karena seharusnya rasa sayang itu tak perlu diminta, tak perlu rayu-rayu untuk ada, dan TAK PERLU DIBERI SYARAT.

Kalimat, “Makanya, kamu duduk dulu, baru Mama sayang…” sungguh aneh di telinga saya. Sayang dari seorang ibu ke anaknya kok pakai syarat bisa duduk manis. Itu baru satu syarat. Bagaimana besok-besok? Mama akan sayang kamu,

…Kalau nggak pernah nangis

…kalau rangking satu

…kalau cantik

…kalau langsing

…kalau pinter balet

…kalau pinter piano

…kalau jadi juara Puteri Indonesia

…kalau punya uang banyak

Dst…dst….

 

Saya jadi ingat, sebuah pertanyaan singkat Lintang suatu malam, setelah sang adik rewel, menangis lama, tak jelas karena apa. Lintang mempertanyakan, apakah ketika adek nangis, teriak-teriak, dan segala hal tak menyenangkan lainnya, ibunya ini tetap sayang. Jawabannya tentu saja, sayang lah! (tulisan lengkap tentang ini bisa dibaca di sini: “Ibu sayang adek, nggak?” ) dan bukan begitukah seharusnya rasa sayang? Tak bisa dibatasi hanya ketika si anak diam, anteng, duduk manis, atau sedang happy hatinya.

 

Luka yang terbawa hingga dewasa

Si ibu itu, mungkin “hanya” berharap, dengan memberi janji untuk sayang, si anak akan segera duduk manis seperti yang diharap. Ibu itu mungkin tak menyadari, bsia jadi ada “luka” dalam diri anak itu, yang tak begitu saja bisa sembuh, ketika dia duduk manis, dan kemudian ibunya bilang sayang.

Tentu, kita sudah sering mendengar anak-anak yang kurang mendapat cinta di rumah, dan kemudian menemukan pemenuhan cinta dengan cara-cara atau di tempat-tempat yang tak seharusnya. Perilaku negatif dalam rangka mencari ‘perhatian’, misalnya, memilih teman-teman yang sepertinya bisa memberi sayang yang dibutuhkan, tapi kemudian memberi efek buruk, banyak juga yang kemudian terjerumus dalam penggunaan obat-obat terlarang karena merasa mendapat cinta di sana. Amit-amit…. *ketok-ketok meja.

Atau sebaliknya, anak-anak yang menjadi anak manis kesayangan orangtua, juara ini itu di sana-sini, tapi sekalinya mereka gagal, stress berat, kecewa berat, dan dipenuhi kekhawatiran orangtuanya akan marah, akan tak lagi sayang dan cinta, dan berusaha mati-matian dengan segala cara – yang bisa jadi tak benar – hanya demi terus disayang orang tua.

Dalam satu pengalaman saya ketika mencoba mempraktikkan teknik hipnoterapi yang pernah saya pelajari, saya menjumpai sebuah kasus di mana seseorang, di usia dewasanya (bahkan ketika ia sudah memiliki dua orang anak), merasakan ketakutan yang luar biasa. Ketakutan ini muncul tiba-tiba dan bisa kapan saja. “Saya takut mati. Tiba-tiba rasanya dada saya sakit, langsung terpikir anak-anak, suami, saya takut saya mati saat itu juga,” cerita klien saya ini, dengan berurai air mata, tentang apa yang dirasakannya. Ketika itu terjadi, tentu saja kemudian ia tak dapat beraktivitas secara optimal. Dadanya sesak, semua terasa gelap diliputi kesedihan dan ketakutan teramat besar..

Ketakutannya ini biasanya dapat berkurang ketika ia dipeluk oleh suami atau anak atau orang-orang lain yang ia kenal, yang ada di dekatnya. Tak lama hilang, ketakutan itu bisa muncul lagi menyerang, kapan saja.

Dalam obrolan untuk mencari tahu masalah sebenarnya, saya menemukan bahwa salah satu hal yang jadi alasan ketakutannya adalah ia merasa tak akan lagi disayang, tak lagi dicinta, bahkan tak lagi diingat dan dikenang ketika ia menginggalkan dunia ini nanti. “Jangan-jangan nanti mereka enggak ingat lagi sama saya. Saya dilupain!” demikian ungkapnya.

Dari kalimat ini, kemudian saya mencoba merunut lagi. Dan saya menemukan bahwa ada satu masa di masa kecilnya, di mana ia berharap mendapat kepastian tentang rasa sayang dari seseorang yang memang seharusnya memberikan cinta kepada seorang anak, namun tak ia temukan kala itu. “Kerinduan” akan rasa sayang, namun tak berbalas inilah yang saya duga menjadi asal muasal ketakutan untuk mati, dan kemudian tak lagi dicintai, dan bahkan dilupakan, yang muncul saat ini. tentu karena adanya berbagai peristiwa, pengalaman, yang menggores lagi luka masa lalu itu, sehingga rasa sakitnya kembali muncul ke permukaan, dan kali ini dalam bentuk yang lebih intens.

 

Penuhi anak dengan cinta

Itulah salah satu kekuatan “luka” yang tak bisa kita tebak akan seperti apa jadinya.

Tentu, saya kemudian menggunakan teknik-teknik tertentu dalam hipnoterapi, untuk membantunya melepaskan rasa takut dan cemas itu, menghilangkan rasa sesak di dada yang dirasakannya, dan mencoba menemukan rasa cinta yang ia rindukan itu dalam dirinya.

tentu tak langsung hilang dalam semalam.

tapi Belakangan, ia mengatakan ketakutannya tak terlalu mengganggunya lagi. Sangat jarang muncul, dan ketika muncul pun ia sudah bisa mengatasinya sendiri. Salah satu caranya, dengan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia dikelilingi oleh orang-orang yang sayang padanya.

Lihat, betapa harapan akan rasa sayang yang tak terpenuhi, ternyata bisa membekas, dan jadi ‘gangguan’ yang cukup signifikan. Yang muncul tak terduga-duga, kapan waktunya dan seperti apa bentuknya. Iya, lukanya bisa saja hilang. Tapi tentu perlu waktu.

Jadi, kenapa tidak kita penuhi saja anak dengan semua cinta yang kita punya, tanpa harus diberi syarat ini-itu, dari sekarang.

Karena ketika seorang anak penuh dengan cinta, saya yakin ia juga akan dengan mudah menyebarkan banyak cinta untuk orang-orang di sekitarnya. Tak hanya itu, ketika ia merasa dicintai (tanpa syarat) dari orang tuanya, tentu itu akan meningkatkan harga dirinya, meningkatkan juga rasa cintanya pada diri sendiri, menerima dirinya, apa adanya.

Selamat mencintai anak-anak, dan utuh, penuh, tanpa syarat, Ayah dan Bunda!

 

Bintaro, 23 Juli 2018

Selamat Hari anak nasional!

Advertisements